RADAR KUDUS - Istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) semakin sering terdengar dalam perbincangan publik, terutama ketika membahas hubungan rumah tangga dan fenomena toxic relationship.
Banyak pasangan menilai NPD sebagai salah satu penyebab utama hubungan yang tidak sehat, penuh konflik, dan berujung pada perceraian.
Secara psikologis, NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa ke "aku"-an yang sangat tinggi, kebutuhan berlebihan akan pengakuan dan kekaguman, serta rendahnya empati terhadap orang lain.
Individu dengan NPD cenderung ingin terus dipuja, namun kesulitan memahami perasaan dan kebutuhan pasangannya. Kondisi ini membuat relasi yang dijalani menjadi timpang dan melelahkan secara emosional.
Dalam sebuah diskusi bertajuk "Death Talk", psikolog Dr. Irfan Aulias dan Ustaz Ajo Bendri membahas NPD dari dua sudut pandang, yakni psikologi modern dan nilai-nilai keagamaan.
Keduanya sepakat bahwa NPD bukan sekadar persoalan sifat buruk, melainkan gangguan yang kompleks dan membutuhkan penanganan serius.
Dr. Irfan menjelaskan bahwa NPD termasuk gangguan kepribadian yang berpusat pada “aku” sebagai pusat dunia.
Menurutnya, gangguan ini muncul ketika seseorang tidak mampu mengakui keberadaan dan peran orang lain dalam hidupnya.
“NPD menjadi gangguan ketika keakuan seseorang menghapus empati dan relasi sehat dengan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa NPD memiliki dua tipe utama, yakni grandiose (terbuka) yang ditandai sikap arogan dan dominan, serta covert (tertutup) yang sering tampil sebagai korban dan manipulatif.
Meski berbeda secara tampilan, keduanya memiliki kesamaan utama, yaitu fokus berlebihan pada diri sendiri dan minim empati.
Dari sisi penyebab, Dr. Irfan menyebut bahwa berbagai penelitian menunjukkan faktor pengasuhan sebagai benang merah utama munculnya NPD.
Pola asuh yang tidak konsisten, kurang validasi emosi, serta cinta bersyarat, di mana anak hanya dihargai saat berprestasi dapat membentuk luka psikologis yang terbawa hingga dewasa.
Luka ini kemudian memicu kebutuhan berlebihan akan pengakuan dari orang lain.
Sementara itu, Ustaz Ajo Bendri menyoroti NPD dari perspektif keislaman. Ia menjelaskan bahwa kecenderungan mencintai diri sendiri adalah fitrah manusia.
Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara mencintai diri dan mencintai sesama.
Hal ini tercermin dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa iman seseorang belum sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Menurut Ustaz Bendri, individu dengan NPD mengalami hambatan dalam mencintai orang lain karena kebutuhan emosinya tidak terpenuhi sejak dini.
Ia mengaitkan hal ini dengan konsep luka pengasuhan dalam Al-Qur’an, seperti sikap keras, cuek, dan pengabaian emosional orang tua terhadap anak.
Kondisi tersebut dapat membuat anak tumbuh dengan empati yang tumpul dan rasa aman yang rapuh.
Selain itu, penting menyoroti kehati-hatian dalam melabeli pasangan sebagai pengidap NPD. Baik Dr. Irfan maupun Ustaz Bendri menegaskan bahwa diagnosis NPD harus dilakukan oleh profesional melalui kriteria klinis yang jelas, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau konten populer di media sosial.
Kesalahan diagnosis justru dapat memperburuk hubungan dan menghambat proses penyembuhan.
Penanganan NPD
Terkait penanganan, para narasumber sepakat bahwa NPD pada prinsipnya dapat ditangani, namun tantangan terbesarnya adalah kesadaran individu itu sendiri.
Banyak pengidap NPD menolak diagnosis dan merasa tidak memiliki masalah, sehingga menutup peluang terapi.
Padahal, baik pendekatan psikologis maupun spiritual dapat saling melengkapi dalam proses pemulihan.
Dengan demikian, pernyataan-pernyataan tersebut menegaskan bahwa NPD bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga cerminan pola pengasuhan, relasi keluarga, dan nilai yang ditanamkan sejak dini.
Oleh karena itu, membangun keluarga yang sehat secara emosional, penuh empati, dan berlandaskan nilai spiritual menjadi kunci penting dalam mencegah lahirnya generasi dengan luka psikologis yang berlarut-larut. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa