RADAR KUDUS - Kupu-kupu yang dulunya sering ditemui di halaman rumah, persawahan, sampai taman desa, kini semakin sulit ditemukan.
Fenomena ini tidak hanya merupakan persepsi masyarakat, tetapi juga didukung oleh data ilmiah yang menunjukkan penurunan jumlah kupu-kupu secara signifikan dalam dua dekade terakhir.
Menurut sejumlah penelitian global, jumlah kupu-kupu telah turun drastis hingga sekitar 22% dalam dua dekade terakhir.
Informasi ini diperoleh dari penelitian mendalam yang mengawasi ribuan lokasi observasi kupu-kupu di Amerika Serikat antara tahun 2000 hingga 2020, dengan lebih dari 76.000 data pengamatan terhadap sekitar 554 spesies kupu-kupu.
Jika pada tahun 2000 Anda menjumpai 100 kupu-kupu, sekarang kemungkinan hanya tersisa sekitar 80 ekor ini menunjukkan hilangnya sekitar 1 dari 5 kupu-kupu dalam dua dekade saja.
Para ahli mengungkapkan bahwa berkurangnya jumlah kupu-kupu disebabkan oleh hilangnya habitat alami karena konversi lahan, penggunaan pestisida yang berlebihan, dan perubahan iklim.
Kenaikan suhu yang semakin tinggi dan penurunan tanaman berbunga mengganggu siklus hidup kupu-kupu, mulai dari tahap ulat hingga dewasa.
Di Indonesia, para peneliti dari berbagai universitas juga mengungkapkan keadaan yang sama.
Jumlah kupu-kupu dilaporkan semakin berkurang, khususnya di area yang mengalami tekanan akibat pembangunan dan pertanian yang intensif.
Sebenarnya, kupu-kupu berfungsi penting sebagai penyerbuk alami dan juga sebagai indikator kesehatan lingkungan.
Penurunan jumlah kupu-kupu menjadi sinyal serius tentang keadaan ekosistem.
Para pengamat lingkungan mendesak masyarakat untuk menanam kembali tumbuhan yang mendukung kehidupan kupu-kupu, mengurangi penggunaan pestisida.
Dan merawat area hijau agar keberadan serangga cantik ini tetap ada dan tidak menjadi kenangan semata. (Amelia NA)
Editor : Ali Mustofa