RADAR KUDUS - Set kelima Final Voli Putra SEA Games 2025 langsung berjalan dengan tensi tinggi.
Thailand membuka set penentuan dengan agresivitas maksimal, dan sorotan utama tertuju pada pemain bernomor punggung 9.
Outside hitter Thailand itu tampil menggila. Smash-smash tajamnya meluncur deras, sulit dibaca, dan nyaris tak mampu dihentikan oleh blok maupun pertahanan Indonesia.
Indonesia langsung berada dalam tekanan. Saat kedudukan menunjukkan 5-9 untuk keunggulan Thailand, situasi mulai mengkhawatirkan.
Pola serangan lawan berjalan mulus, sementara Indonesia terlihat sedikit kehilangan ritme setelah pertarungan panjang di set sebelumnya.
Time Out Krusial Ubah Arah Permainan
Membaca situasi yang mulai tidak ideal, pelatih Indonesia segera mengambil time out. Keputusan ini bukan sekadar untuk merombak strategi, tetapi juga meredam ketegangan pemain di lapangan. Instruksi diberikan agar Indonesia bermain lebih berani dan tidak terpancing tempo Thailand.
Usai jeda, Indonesia mencoba bangkit. Spike keras Boy Arnez sempat membuka asa. Poin itu membangkitkan semangat, tetapi Thailand kembali merespons cepat. Serangan balik mereka efektif, membuat jarak poin kembali melebar menjadi 10-6.
Sorakan suporter Thailand menggema saat skor bergerak ke 11-6. Atmosfer arena sepenuhnya memihak tim Gajah Perang, menambah tekanan bagi Indonesia di set paling menentukan.
Pemain Nomor 9 Jadi Mimpi Buruk
Thailand terus menekan lewat pemain nomor 9. Pada momen krusial, smash kerasnya mencoba dihentikan oleh Hendra Kurniawan.
Namun, bola justru menyentuh tangan dan keluar lapangan. Block out. Skor berubah menjadi 12-7, mempertegas dominasi Thailand di fase awal set kelima.
Indonesia tidak menyerah. Rivan Nurmulki kembali mengambil peran sebagai pemimpin serangan. Sebuah service ace dari Rivan memberi napas baru bagi Merah Putih.
Poin itu diikuti spike keras yang tak mampu dibendung oleh blok Thailand, memperkecil jarak menjadi 13-10.
Rivan Menolak Menyerah
Di bawah tekanan, Rivan tampil luar biasa. Serangan demi serangan dilepaskan dengan penuh keyakinan.
Indonesia perlahan mengejar, meski Thailand masih memegang kendali. Skor bergerak ke 11-13, membuat suasana semakin menegangkan.
Setiap reli di fase ini terasa seperti penentuan. Indonesia bermain dengan hati, Thailand bertahan dengan disiplin. Kedua tim sama-sama sadar, satu kesalahan kecil bisa menentukan siapa yang berdiri di podium tertinggi.
Match Poin yang Menghentikan Napas
Ketegangan mencapai puncaknya saat papan skor menunjukkan 11-14. Match point untuk Thailand.
Arena mendadak senyap sesaat sebelum servis dilepaskan. Indonesia mencoba bertahan, berharap reli panjang bisa membuka peluang comeback.
Namun, Thailand tampil dingin. Pada poin terakhir, serangan mereka berhasil menembus pertahanan Indonesia. Bola jatuh, peluit panjang berbunyi. Thailand memastikan kemenangan di set kelima sekaligus mengunci gelar juara SEA Games 2025 dan medali emas.
Indonesia Tumbang dengan Kepala Tegak
Meski gagal membawa pulang emas, perjuangan Indonesia patut diapresiasi. Dari dominasi di set kedua, kebangkitan di set keempat, hingga perlawanan sengit di set kelima, Indonesia menunjukkan mental petarung sejati.
Rivan Nurmulki menjadi simbol perlawanan hingga titik akhir. Fahri, Boy, dan pemain lainnya juga memberi kontribusi besar dalam final penuh drama ini. Kekalahan ini terasa pahit, tetapi menjadi modal berharga untuk masa depan tim nasional voli putra Indonesia.
Editor : Mahendra Aditya