Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Properti Naik Signifikan di 2025, Denpasar hingga Semarang Jadi Primadona

Iwan Arfianto • Jumat, 19 Desember 2025 | 17:57 WIB
ilustrasi rumah
ilustrasi rumah

RADAR KUDUS – Sejumlah kota di Indonesia mencatat lonjakan nilai properti sepanjang 2025.

Kenaikan ini tidak hanya terjadi di wilayah Jabodetabek, tetapi juga merata ke sejumlah kota besar lain yang ditopang oleh sektor pariwisata, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi regional.

Berdasarkan Flash Report Desember 2025 yang dirilis Rumah123, Denpasar, Bali, menjadi kota dengan pertumbuhan harga properti tertinggi secara tahunan.

Baca Juga: OTT KPK di Banten, Penanganan Jaksa Dilimpahkan ke Kejaksaan Agung

Harga rumah di Kota Denpasar tumbuh 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan median harga hunian di segmen atas menembus Rp 6,5 miliar atau naik 8,3 persen secara tahunan.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menyebutkan bahwa kenaikan harga di Denpasar didorong oleh pemulihan pariwisata Bali pascapandemi yang berimbas pada meningkatnya aktivitas ekonomi dan minat investasi properti.

“Segmen atas memang lebih cepat menyesuaikan harga, meskipun kontribusi volumenya relatif lebih kecil dibanding segmen menengah,” ujar Marisa, Kamis (18/12/2025).

Selain faktor pariwisata, kebijakan pemerintah seperti pemberlakuan Second Home Visa, Golden Visa, serta relaksasi aturan kepemilikan properti bagi warga negara asing turut memperluas permintaan, khususnya di segmen menengah atas.

Meski demikian, permintaan terbesar di Denpasar tetap berada pada rumah dengan harga Rp 1-3 miliar serta Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar.

Kota Yogyakarta menempati posisi berikutnya sebagai wilayah dengan pertumbuhan harga properti yang konsisten setiap tahun.

Kenaikan tertinggi juga terjadi pada hunian segmen atas dengan median harga mencapai Rp 6,5 miliar dan tumbuh 18,2 persen secara tahunan.

Baca Juga: KPK Segel Ruang Kerja Bupati Bekasi Ade Kuswara, Status Hukum Tunggu 1x24 Jam

Meski demikian, pasar properti di Yogyakarta masih didominasi oleh permintaan rumah di segmen bawah dan menengah, dengan kisaran harga Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar, diikuti segmen Rp 1-3 miliar.

Kuatnya konektivitas wilayah, terutama sejak beroperasinya Tol Solo–Klaten pada September 2024, serta meningkatnya mobilitas dan pariwisata menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.

Sementara itu, Semarang juga mencatatkan tren kenaikan harga rumah, terutama pada hunian kelas atas dengan luas bangunan di atas 251 meter persegi.

Median harga rumah di kota ini tercatat sebesar Rp 5,9 miliar dengan pertumbuhan tahunan mencapai 7,3 persen.

Adapun permintaan terbesar di Semarang masih berasal dari segmen rumah seharga Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar, disusul segmen Rp 1-3 miliar.

Baca Juga: Belum Setahun Menjabat, Bupati Bekasi Ade Kuswara Terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK

Marisa menilai posisi Semarang sebagai pusat logistik dan perdagangan regional, serta integrasi ekonomi kawasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, menjadi faktor utama pengerek harga properti.

“Meski kenaikan harga banyak dipicu oleh segmen atas, struktur permintaan tetap ditopang oleh segmen menengah dan menengah bawah yang cenderung lebih stabil,” kata Marisa.

Selain Denpasar, Yogyakarta, dan Semarang, Rumah123 juga mencatat kota lain yang mengalami pertumbuhan harga properti positif sepanjang 2025, antara lain Medan, Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Kota-kota tersebut dinilai memiliki daya tarik investasi yang terus meningkat seiring pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi yang berkembang.

Editor : Ali Mustofa
#harga properti #harga properti naik #kenaikan harga rumah