RADAR KUDUS - Di tengah sorotan publik yang kerap tertuju pada cabang-cabang populer, soft tennis Indonesia justru mencuri perhatian lewat jalur senyap.
Dari Pathum Thani, Thailand, Siti Nur Arasy mengirim pesan kuat ke Asia: Indonesia punya kekuatan baru di nomor tunggal putri. Gelar juara Pathum Thani International 2025 menjadi bukti konkret, bukan sekadar kejutan sesaat.
Turnamen internasional ini bukan panggung kecil. Deretan atlet dari Taiwan, China, Pakistan, hingga negara-negara ASEAN hadir dengan reputasi dan pengalaman. Namun Arasy menutup kompetisi dengan satu kata kunci: dominasi.
Baca Juga: Target Empat Emas Sea Games 2025 Tercapai, Pencak Silat Indonesia Langsung Fokus ke Asian Games
Jalan Mulus yang Tak Pernah Mudah
Sejak babak awal, Arasy tampil dengan ritme yang sulit dibaca lawan. Ia membuka langkah dengan menyingkirkan wakil tuan rumah Sirikorn Phoonphon.
Tekanan publik Thailand tak membuatnya goyah. Justru di situ terlihat ketenangan yang jarang dimiliki atlet seusianya.
Laga berikutnya menghadapkan Arasy dengan Haclonath S dari Laos. Skor telak 4-0 menggambarkan perbedaan level permainan. Bukan sekadar menang, Arasy memperlihatkan kontrol penuh atas lapangan, memaksa lawan terus bertahan.
Thailand Jadi Halaman Belakang
Memasuki perempatfinal dan semifinal, skenarionya nyaris sama. Dua pemain Thailand kembali harus mengakui keunggulan Arasy. Sirikom P. dan Chatcha Klomkamol tak mampu keluar dari tekanan permainan agresif yang dikombinasikan dengan penempatan bola presisi.
Menariknya, Arasy tidak bermain monoton. Ia kerap mengubah tempo, memancing lawan maju lalu mengirim bola ke area belakang. Strategi ini membuat pemain-pemain tuan rumah kehilangan ritme dan kepercayaan diri.
Baca Juga: Nyaris Tersandung Tim Divisi Tiga, Real Madrid Lolos Dramatis ke 16 Besar Copa del Rey
Final Penuh Ujian Mental
Partai puncak menghadirkan tantangan berbeda. Cheng Jul dari Taiwan dikenal memiliki pukulan forehand keras dan dropshot tajam. Sejak awal, duel berlangsung ketat. Skor sempat imbang, dan tekanan berbalik mengarah ke Arasy.
Namun di titik inilah kematangan mental berbicara. Arasy tak terpancing bermain cepat. Ia memilih reli panjang, memaksa Cheng Jul bergerak lebih banyak. Ketika lawan mulai kehilangan fokus dan mengalami cedera, Arasy langsung menaikkan intensitas.
Skor akhir 4-1 menutup laga, sekaligus memastikan Arasy berdiri di podium tertinggi. Bukan kemenangan instan, melainkan hasil dari pembacaan permainan yang cerdas.
Kunci di Balik Kebangkitan
Usai laga, Arasy mengakui sempat berada di bawah tekanan. Namun kemampuannya menguasai emosi menjadi pembeda utama. Ia tak hanya menang karena teknik, tetapi juga karena ketahanan mental.
Kemenangan ini tak berdiri sendiri. Ketua Umum PP PESTI Awal Chaeruddin menilai hasil di Thailand adalah sinyal positif menuju Asian Games 2026. Turnamen ini diikuti pemain-pemain berlevel dunia, sehingga gelar juara Arasy memiliki bobot strategis.
Baca Juga: Menang Marathon Sea Games 2025, Robi Syianturi Berikan Bonus untuk Istri dan Masa Depan Anak
Efek Latihan Korea Selatan
Satu faktor yang jarang disorot adalah dampak pemusatan latihan bersama Korea Selatan. Wakil Ketua Umum PP PESTI Ferly Montolalu menyebut training camp tersebut meningkatkan kepercayaan diri atlet secara signifikan. Adaptasi teknik dan disiplin latihan ala Korea terbukti relevan di level internasional.
Pelatih tim nasional, Gularso Muljadi, menegaskan bahwa Arasy mampu mengimbangi kualitas teknis Cheng Jul karena proses latihan yang tepat. Bukan kebetulan jika Arasy terlihat lebih tenang dan efektif saat berada dalam tekanan.
Soft Tennis dan Jalan Panjang Indonesia
Indonesia tak hanya mengirim Arasy ke Pathum Thani. Wakil Merah Putih juga turun di nomor ganda, ganda campuran, dan beregu. Ini menandakan soft tennis mulai dibangun dengan pendekatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar satu nama.
Gelar Arasy menjadi pintu masuk untuk memperluas perhatian publik terhadap soft tennis. Cabang ini memang jarang muncul di halaman utama, namun prestasi internasional memberi alasan kuat untuk diperhitungkan.
Lebih dari Sekadar Gelar
Yang menarik, kemenangan ini datang tanpa euforia berlebihan. Tak ada perayaan besar, tak ada sensasi instan. Justru di situlah kekuatannya. Soft tennis Indonesia tumbuh perlahan, dengan fondasi teknik dan mental.
Pathum Thani International 2025 bisa menjadi titik balik. Jika dikelola konsisten, Arasy dan generasi setelahnya berpotensi membawa Indonesia bersaing lebih jauh di Asia.
Momentum Menuju Asian Games
Dengan Asian Games 2026 di depan mata, kemenangan di Thailand menjadi modal penting. Bukan hanya soal peringkat, tetapi soal kepercayaan diri menghadapi lawan-lawan elite Asia.
Arasy telah membuktikan bahwa Indonesia bisa menang di luar kandang, di bawah tekanan, dan melawan pemain dengan reputasi lebih besar. Kini tantangannya adalah menjaga konsistensi.
Saatnya Soft Tennis Bicara
Prestasi Arasy mengirim pesan sederhana: Indonesia tak kekurangan talenta, hanya kurang sorotan. Dari lapangan Pathum Thani, soft tennis akhirnya berbicara lantang.
Jika momentum ini dijaga, bukan mustahil nama Indonesia akan lebih sering terdengar di podium internasional. Diam-diam, soft tennis sedang menyiapkan kejutan berikutnya.
Editor : Mahendra Aditya