Perjalanan Resbob dari Konten IRL Berujung Hina Sunda, DO kampus Hingga Ditangkap Polisi
Mahendra Aditya Restiawan• Selasa, 16 Desember 2025 | 16:45 WIB
Resbob ditangkap
RADAR KUDUS - Nama Resbob mendadak melonjak ke puncak pencarian warganet. Bukan karena prestasi digital, melainkan akibat ucapannya dalam sebuah siaran langsung yang dianggap merendahkan suku Sunda.
Dari sekadar obrolan live yang awalnya dianggap santai, pernyataan itu menjelma menjadi polemik nasional, memantik reaksi keras publik, selebritas, hingga berujung proses hukum.
Fenomena Resbob membuka kembali diskusi lama soal batas kebebasan berekspresi di ruang digital.
Di era ketika satu kalimat bisa dipotong, dibagikan, dan ditafsirkan jutaan orang, seorang kreator tak lagi hanya berhadapan dengan algoritma, tetapi juga dengan sensitivitas sosial dan konsekuensi hukum.
Resbob memiliki nama asli Adimas Firdaus. Ia dikenal sebagai konten kreator sekaligus streamer yang cukup aktif di berbagai platform media sosial.
Namanya tidak benar-benar asing, terutama bagi penikmat konten live streaming, karena ia merupakan kakak kandung dari YouTuber Bigmo.
Keduanya kerap tampil bersama dalam berbagai konten kolaborasi. Hubungan kakak-adik ini membuat Resbob ikut terseret ke sorotan publik, terutama karena Bigmo sudah lebih dulu memiliki basis penggemar yang kuat.
Dari sinilah, nama Resbob perlahan tumbuh di dunia digital, meski tidak selalu dengan citra positif.
Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG
Jejak Digital dan Basis Pengikut
Di Instagram, Resbob menggunakan akun @adimasfirdauss dengan jumlah pengikut belasan ribu.
Di TikTok, ia tampil lebih aktif lewat akun @resbobbb yang memiliki puluhan ribu pengikut.
Sementara di YouTube, ia rutin melakukan siaran langsung melalui kanal @panggilajabob, meski jumlah subscribernya relatif lebih kecil dibanding platform lain.
Namun, ukuran pengaruh di dunia digital tak selalu ditentukan oleh angka pengikut. Beberapa potongan konten Resbob justru kerap viral dan menembus jutaan penonton, terutama ketika pernyataannya dianggap berani, blak-blakan, atau memancing emosi publik.
Gaya Konten IRL yang Spontan
Resbob dikenal mengusung konsep IRL atau in real life dalam banyak kontennya. Ia sering melakukan live streaming sambil beraktivitas di luar rumah, berbincang dengan teman, atau sekadar menyapa penonton.
Format ini memberi kesan autentik, seolah penonton diajak masuk ke kehidupan sehari-harinya tanpa filter.
Namun, gaya spontan ini pula yang kerap menjadi bumerang. Cara bicara yang ceplas-ceplos, tanpa skrip, dan minim penyaringan membuat Resbob beberapa kali terjebak dalam pernyataan kontroversial.
Bagi sebagian penggemar, gaya tersebut dianggap jujur dan apa adanya. Bagi yang lain, itu justru dipandang sembrono dan berisiko.
Menariknya, tidak semua konten Resbob bernuansa negatif. Di TikTok, ia juga kerap mengunggah potongan video berisi pandangannya tentang hidup, kepercayaan diri, dan mentalitas pantang menyerah. Beberapa unggahan ini bahkan menuai respons positif dan dianggap relevan dengan generasi muda.
Kontras inilah yang membuat sosok Resbob sulit dikotakkan. Di satu sisi, ia tampil sebagai figur percaya diri yang berbicara lugas tentang hidup. Di sisi lain, ia berkali-kali tersandung kontroversi akibat ucapannya sendiri.
Sepanjang 2025, nama Resbob tercatat terlibat dalam lebih dari satu polemik besar. Pada Agustus lalu, ia dilaporkan ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik oleh Azizah Salsha.
Laporan itu dipicu oleh pernyataannya dalam sebuah live streaming yang menyinggung dugaan perselingkuhan Azizah, yang kala itu masih berstatus istri pesepakbola Pratama Arhan.
Kasus tersebut sempat mereda, namun jejak digitalnya masih tersimpan rapi di ingatan publik. Belum lama berselang, Resbob kembali menuai kritik tajam setelah meledek suporter Persib Bandung dalam siaran langsung.
Pernyataan itu kemudian berkembang menjadi isu yang lebih sensitif karena dianggap menghina suku Sunda secara keseluruhan.
Ucapan Resbob yang beredar luas di media sosial memicu kemarahan banyak pihak. Bagi sebagian masyarakat Sunda, pernyataan tersebut dianggap melukai martabat dan identitas budaya. Isu ini tidak lagi dipandang sebagai candaan personal, melainkan serangan simbolik terhadap kelompok tertentu.
Reaksi publik pun datang dari berbagai arah. Komedian Sule secara terbuka menyampaikan ketidaksukaannya.
Aktor Ganindra Bimo bahkan merespons dengan nada keras dan menantang Resbob untuk bertanggung jawab atas ucapannya.
Gelombang kritik ini menunjukkan bahwa sensitivitas identitas masih menjadi isu krusial di ruang publik Indonesia.
Permintaan Maaf yang Tak Menutup Luka
Di tengah tekanan publik, Resbob akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.
Ia mengaku tidak memiliki niat menghina suku Sunda dan tidak menyadari bahwa ucapannya bisa ditafsirkan sejauh itu.
Ia juga menyebut pernyataannya keluar secara spontan tanpa maksud merendahkan.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak sepenuhnya meredam amarah. Respons publik terbelah.
Sebagian menerima dan menganggapnya sebagai pelajaran berharga, sementara yang lain menilai permintaan maaf itu datang terlambat dan tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan.
Kasus Resbob menghadirkan angle yang jarang disorot: bagaimana budaya live streaming tanpa filter justru menjadi jebakan bagi kreator itu sendiri. Dalam format IRL, batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi kabur.
Satu kalimat yang diucapkan tanpa pikir panjang bisa bertransformasi menjadi masalah sosial dan hukum.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi kreator konten lain. Popularitas yang dibangun lewat kontroversi mungkin cepat, tetapi risikonya jauh lebih besar.
Di era digital, jejak ucapan tak pernah benar-benar hilang, dan publik kini semakin sensitif terhadap isu identitas dan martabat kelompok.
Bagi Resbob, kasus ini menjadi titik krusial dalam perjalanan karier digitalnya. Ia berada di persimpangan antara memperbaiki citra atau tenggelam dalam stigma negatif.
Publik akan menilai bukan hanya dari klarifikasi, tetapi dari perubahan sikap dan konsistensi ke depan.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa influencer bukan sekadar pembuat konten, melainkan figur publik dengan tanggung jawab sosial.
Apa yang mereka ucapkan dapat membentuk opini, memicu emosi, bahkan melukai identitas kolektif.