Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Cuma Jawa: Ilmuwan Jepang Sebut 14 Zona Megathrust, Indonesia Dikepung Gempa

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 15 Desember 2025 | 02:12 WIB

 

Peta Lokasi Zona Megathrust
Peta Lokasi Zona Megathrust

RADAR KUDUS - Jauh di bawah permukaan samudra, di sepanjang palung yang membelah kerak bumi, dua lempeng raksasa terus saling menekan.

Tak terlihat, tak terdengar, namun menyimpan energi yang kelak bisa dilepaskan dalam hitungan detik. Itulah megathrust, sumber gempa paling dahsyat di muka bumi.

Ancaman ini bukan lagi sekadar teori. Indonesia, yang berada di jantung Cincin Api Pasifik, kini menjadi sorotan para ilmuwan dunia.

Salah satunya datang dari Jepang, negara yang lebih dulu hidup berdampingan dengan gempa megathrust selama ratusan tahun.

Prof. Kosuke Heki, pakar geodesi dari Hokkaido University yang juga menjadi Visiting Researcher di BRIN, menyampaikan peringatan serius bagi Indonesia.

Dalam paparannya tentang gempa megathrust Nankai Trough di Jepang, ia menegaskan bahwa pengalaman Jepang seharusnya menjadi cermin bagi negara-negara rawan gempa besar, termasuk Indonesia.

Menurut Heki, pandangan lama tentang siklus gempa besar telah berubah. Jika dahulu gempa berkekuatan sangat besar dianggap terjadi dalam rentang waktu sangat panjang, kini data menunjukkan intervalnya bisa jauh lebih pendek.

“Kami memahami bahwa gempa berkekuatan 8 bisa terjadi dalam siklus 50 hingga 100 tahun,” ujar Heki. Artinya, ancaman itu tidak jauh, tidak pula abstrak.

Mengapa Megathrust Sulit Diprediksi?

Heki menekankan satu fakta penting: waktu pasti terjadinya gempa besar hampir mustahil diprediksi. Namun, bukan berarti manusia sepenuhnya buta terhadap tanda-tandanya.

Ia menjelaskan pentingnya pengamatan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang. Melalui teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS), ilmuwan bisa memantau pergerakan permukaan bumi hingga milimeter per tahun. Dari situlah diketahui area yang mengalami “penguncian” antar-lempeng—tempat energi terus menumpuk.

“Kopling antar-lempeng yang terkunci ini sering berada dekat sumbu palung. Di situlah regangan besar terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelas Heki.

Selain GNSS, Prof. Heki menyoroti fenomena Slow Slip Event (SSE) atau pergeseran lambat. Gerakannya nyaris tak terasa, tak merusak bangunan, bahkan sering luput dari perhatian publik. Namun justru di situlah letak bahayanya.

Di Jepang, SSE kerap muncul sebelum gempa besar megathrust. Pergeseran kecil ini diyakini bisa menjadi pemicu pelepasan energi raksasa yang telah lama terkunci.

“Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini mungkin memicu gempa besar berikutnya,” kata Heki.

Fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia, terutama di zona subduksi aktif seperti Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku.

Indonesia Dikepung Megathrust, Bukan Hanya Jawa

Kekhawatiran Prof. Heki diperkuat oleh Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Dalam peta terbaru tersebut, para ahli memetakan 14 zona megathrust, meningkat dari 13 zona pada peta tahun 2017.

Pulau Jawa memang menjadi sorotan utama karena dikepung tiga zona megathrust sekaligus. Zona Megathrust Jawa memiliki potensi gempa hingga magnitudo 9,1, sementara Jawa bagian barat dan timur masing-masing berpotensi mencapai magnitudo 8,9.

Namun ancaman ini tidak berhenti di Jawa.

Daftar 14 Zona Megathrust Indonesia

Merujuk peta resmi 2024, 14 zona megathrust tersebut meliputi Aceh–Andaman (M 9,2), Nias–Simeulue (M 8,7), Batu (M 7,8), Mentawai–Siberut (M 8,9), Mentawai–Pagai (M 8,9), Enggano (M 8,9), Jawa (M 9,1), Jawa bagian barat (M 8,9), Jawa bagian timur (M 8,9), Sumba (M 8,9), Sulawesi Utara (M 8,5), Palung Cotobato (M 8,3), Filipina Selatan (M 8,2), dan Filipina Tengah (M 8,1).

Sebagian zona bahkan memiliki potensi gempa lebih besar dibandingkan Jawa, menegaskan bahwa risiko megathrust bersifat nasional, bukan regional.

Prof. Heki menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat mitigasi bencana melalui jaringan GNSS darat dan teknologi geodesi dasar laut. Dengan pemantauan yang konsisten, akumulasi tegangan bisa dipetakan lebih dini.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi ancaman global.

Mitigasi, Bukan Kepanikan

Pesan utama dari para ilmuwan bukanlah untuk menakut-nakuti. Justru sebaliknya, kesadaran ilmiah adalah dasar kesiapsiagaan. Megathrust bisa terjadi kapan saja, tetapi dampaknya bisa ditekan jika masyarakat dan pemerintah siap.

Belajar dari Jepang, mitigasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga budaya sadar bencana, tata ruang yang bijak, dan edukasi berkelanjutan.

Indonesia hidup berdampingan dengan gempa. Pertanyaannya kini bukan apakah megathrust akan terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.

Editor : Mahendra Aditya
#Megathrust Mentawai #Doa selamat dari bencana megathrust #gempa megathrust brin #Hukum memprediksi bencana megathrust #dimana megathrust #Megathrust Pesisir Barat dan Selatan Jawa #zona megathrust Indonesia #14 zona megathrust #Gempa Megathrust #Peta zona Megathrust Indonesia #Megathrust Selat Sunda Meledak #kawasan megathrust #Megathrust Selat Sunda #potensi megathrust #Megathrust Sumatera #Megathrust nias simeulue #megathrust #Zona Merah Megathrust di Indonesia #BMKG gempa megathrust #ancaman gempa bumi megathrust #Zona rawan gempa Megathrust #Megathrust Sumatera Barat #gempa megathrust Bengkulu #ancaman Megathrust #daftar zona gempa megathrust #Daftar Lengkap 14 Zona Megathrust dalam Peta 2024 #gempa megathrust bmkg