RADAR KUDUS - Bibit Siklon Tropis 93S yang kini bergerak aktif di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara mulai menyita perhatian para ahli.
Sistem cuaca yang awalnya tampak kecil ini justru disebut berpotensi menjadi badai tropis kuat yang bisa menyerupai siklon Senyar—badai yang pada 2025 merusak wilayah Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat.
Peringatan ini pertama kali disampaikan oleh pakar klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin. Melalui unggahan terbarunya, ia mengingatkan masyarakat, terutama pemerintah daerah di Nusa Tenggara Timur, untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Menurutnya, data sistem prakiraan submusiman KAMAJAYA-BRIN menunjukkan sinyal intensif bahwa 93S dapat tumbuh menjadi siklon tropis pada rentang akhir Desember hingga awal Januari—bertepatan dengan puncak libur Natal dan Tahun Baru.
Peringatan Awal dari BRIN
Erma tidak menutupi kekhawatirannya. Dalam analisis tersebut, 93S tampak membentuk pola sirkulasi yang dapat meningkat cepat dalam beberapa hari, terutama bila interaksi atmosfer di perairan timur Indonesia semakin menguat.
“Waspadai potensi munculnya badai serupa Senyar yang diperkirakan mendarat di wilayah NTT antara 1–10 Januari 2026,” tulisnya.
Ia juga membagikan infografis yang memperlihatkan proyeksi pertumbuhan cepat sistem ini: dari bibit kecil menjadi badai tropis yang membawa hujan ekstrem, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah Laut Flores, Kupang, Timor Leste, dan sekitarnya.
Meski 93S dianggap relatif lebih kecil dibanding 91S yang terbentuk di sekitar Sumatra, Erma menegaskan bahwa dampak sistem cuaca semacam ini sangat bergantung pada lokasi pendaratannya. Dan kali ini, wilayah timur Indonesia—khususnya NTT—masuk dalam zona risiko tinggi.
Konvergensi Atmosfer Menguat
Kekhawatiran para ahli bukan tanpa dasar. Analisis atmosfer dasarian II Desember hingga awal Januari menunjukkan dua area pusaran besar terbentuk di wilayah barat dan timur Indonesia.
Di barat, konvergensi terjadi di Samudra Hindia, tetapi tidak langsung mengarah ke daratan.
Sementara di timur, pola itu justru lebih jelas dan lebih kuat terjadi di Laut Flores dan sekitarnya. Dalam bahasa sederhana: wilayah NTT sedang berada dalam kondisi ideal untuk memicu pertumbuhan siklon tropis.
Dengan pola seperti ini, badai bisa meningkat intensitasnya sebelum menyentuh daratan—kondisi yang dianggap paling berbahaya karena dampaknya bisa meluas secara tiba-tiba.
Erma pun mendorong pemerintah daerah agar tidak menunggu hingga tanda bahaya makin kuat. “Mitigasi sejak sekarang jauh lebih penting agar risiko bencana dapat ditekan,” ujarnya.
BMKG Beri Gambaran Berbeda, Tapi Tetap Siaga
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan yang lebih menenangkan. Menurut pemantauan mereka, Bibit Siklon 93S bergerak menjauhi daratan Indonesia.
Namun, bukan berarti wilayah NTT, NTB, dan Bali bebas dari ancaman. BMKG mengingatkan adanya potensi hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi akibat efek tidak langsung.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan kecepatan angin maksimum yang terpantau sekitar sistem mencapai 15 knot atau setara 28 km/jam.
Meski awan konvektif belum terorganisir sempurna, potensi penguatan sistem tetap ada dalam 48–72 jam mendatang.
Deputi Meteorologi BMKG Guswanto menambahkan bahwa dalam 24 jam ke depan, intensitas 93S masih cenderung stabil.
Tetapi setelah itu, sistem bisa bertambah kuat seiring pola sirkulasi yang membaik, meski arahnya terus bergerak menjauhi Indonesia.
Ancaman Libur Akhir Tahun
Puncak risiko badai 93S diprediksi terjadi pada 11–20 Desember, namun BRIN menilai potensi ancaman dapat berlanjut hingga Januari 2026.
Hal ini membuat periode liburan akhir tahun—momen ketika aktivitas transportasi laut meningkat—menjadi waktu yang harus diwaspadai.
Gelombang tinggi yang dipicu 93S bisa mencapai 2,5 meter di beberapa perairan selatan Jawa–NTT. Kondisi ini rawan bagi nelayan, jalur penyeberangan, hingga wisata bahari yang biasanya ramai menjelang pergantian tahun.
Meski posisi badai tidak langsung mengarah ke daratan, kombinasi hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi tetap dapat menciptakan skenario berbahaya bagi masyarakat.
Apa yang Harus Diantisipasi?
Melihat dua lembaga berbeda yang sama-sama memberikan peringatan, satu hal menjadi jelas: sistem ini harus dipantau ketat.
Beberapa potensi yang bisa terjadi:
-
hujan ekstrem di wilayah timur Indonesia,
-
angin kencang yang bisa merusak infrastruktur ringan,
-
risiko banjir bandang dan longsor di daerah berbukit,
-
terganggunya pelayaran dan transportasi laut,
-
gelombang tinggi di rute-rute padat jelang Nataru.
Masyarakat di wilayah berisiko, terutama NTT dan sekitarnya, disarankan mengikuti pembaruan informasi resmi dari BMKG serta arahan pemerintah daerah.
Meski Bibit Siklon 93S belum dipastikan menjadi badai sebesar Senyar, potensi pertumbuhannya cukup besar untuk memicu kewaspadaan tingkat tinggi.
BRIN melihat ancaman yang patut diantisipasi sejak dini, sementara BMKG memberikan perspektif bahwa meski sistem menjauhi Indonesia, dampaknya tetap bisa terasa.
Keduanya sepakat pada satu hal: kondisi cuaca beberapa hari ke depan harus terus dipantau. NTT berada dalam zona risiko, dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana menjelang akhir tahun.
Editor : Mahendra Aditya