Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

IHSG Rawan Terkoreksi! Aksi Profit Taking Mengintai Pasar Jelang Akhir Pekan

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 13 Desember 2025 | 00:02 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memasuki zona yang rawan tekanan.

Pada perdagangan Jumat pagi, indeks sempat dibuka menguat tipis—hanya 10,55 poin atau 0,12 persen—ke level 8.631,03.

Namun di balik kenaikan tipis ini, pelaku pasar justru semakin waspada. Aksi ambil untung yang kerap muncul menjelang akhir pekan diprediksi akan menjadi hambatan utama bagi laju indeks sepanjang hari.

LQ45, yang berisi saham-saham unggulan, juga hanya naik 0,11 persen ke 848,03. Pergerakan yang cenderung terbatas ini menunjukkan bahwa sebagian investor memilih bersikap defensif, menunggu arah pasar global yang hingga kini belum benar-benar memberikan sinyal positif.

Baca Juga: Menjelang IPO SUPA, Pasar Panas! Bank Digital Ikut Terbang dan Investor Berebut Tiket Awal Menjelang Akhir Tahun

Tekanan Profit Taking Kian Nyata

Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, gelombang koreksi kemungkinan masih berlanjut.

Ia menilai IHSG dapat menguji area support di 8.550–8.600, level yang menjadi batas psikologis penting bagi pelaku pasar.

“Ruang koreksi masih terbuka dan pasar tampaknya kembali melakukan konsolidasi setelah reli pendek kemarin,” ujarnya dalam laporan harian.

Pola ini bukanlah hal baru. Setiap kali indeks mendekati area tertinggi, sebagian besar investor ritel maupun institusi cenderung mengamankan keuntungan.

Terlebih pada pekan dengan kalender global yang padat, aksi protektif seperti ini semakin sering muncul. Pasar lokal pun tak luput dari dampaknya.

Baca Juga: Ssst… Ini 6 Daftar Saham yang Berpotensi Cetak Cuan Cepat Saat IHSG Anjlok!

Sentimen Powell: Harapan yang Tidak Sesuai Ekspektasi

Dari kancah global, investor masih memproses komentar terbaru Ketua The Fed, Jerome Powell.

Pernyataannya memang terdengar lebih “tenang” dibandingkan ekspektasi sebelumnya, namun tetap mengandung sinyal bahwa penurunan suku bunga ke depan tidak akan agresif seperti yang diharapkan banyak pihak.

Powell menyampaikan The Fed hanya melihat peluang penurunan suku bunga satu kali pada 2026—jauh dari proyeksi pasar yang sempat mengharapkan 2–3 kali pemotongan.

Kesenjangan ekspektasi ini sontak membuat pelaku pasar AS dan global mengatur ulang strategi mereka.

Di sisi lain, The Fed juga akan mulai membeli obligasi pemerintah jangka pendek senilai 40 miliar dolar AS per bulan.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan likuiditas ke pasar, namun belum cukup untuk meredam kegelisahan investor jangka pendek.

Bursa Global Bergerak Campuran

Kondisi pasar global pada Kamis malam juga memberi warna tersendiri. Bursa Eropa tampil perkasa:

Kinerja positif ini sempat memberi angin segar, tetapi pasar AS justru menunjukkan arah berbeda. Wall Street berakhir variatif:

Kontrasnya pergerakan indeks-indeks utama dunia membuat arah jangka pendek IHSG makin sukar diprediksi.

Kombinasi sinyal positif dan negatif seperti ini sering memicu volatilitas di pasar negara berkembang.

Baca Juga: IHSG Jeblok, Asing Malah Borong! Ini 10 Saham Panas yang Diam-Diam Diserok Saat Pasar Panik

Pasar Asia Dibuka Bervariasi

Saat pasar Indonesia mulai bergerak, bursa Asia lebih dulu memberi gambaran tentang risiko hari ini.

Kebangkitan Nikkei dan Hang Seng terutama didorong oleh masuknya aliran dana asing setelah rilis data ekonomi domestik yang positif.

Namun melemahnya Shanghai menjadi penanda bahwa pasar China masih bergulat dengan tekanan internal.

Indonesia berada di antara tarik-menarik sentimen global dan regional tersebut. Dengan situasi yang tidak sepenuhnya sinkron, investor domestik memilih untuk tidak terburu-buru masuk posisi besar.

Arah IHSG: Bertahan atau Terseret Koreksi?

Menggabungkan seluruh faktor, terlihat bahwa IHSG sedang berada di titik krusial. Jika tekanan profit taking semakin kuat, indeks berpotensi menuju area support yang sempat disebutkan para analis.

Namun apabila dukungan dari bursa global membaik di sesi kedua, indeks masih memiliki peluang untuk kembali bergerak ke zona hijau.

Pasar akan memantau:

Di tengah ketidakpastian ini, investor berpengalaman biasanya memilih fokus pada manajemen risiko ketimbang mengejar kenaikan jangka pendek.

Secara keseluruhan, hari ini menjadi salah satu sesi perdagangan yang layak dicermati. Tekanan profit taking, kebijakan The Fed yang tidak seagresif harapan pasar, serta dinamika bursa global dan regional membuat IHSG berada di persimpangan.

Mampukah indeks bertahan di atas 8.600 atau justru terperosok ke area koreksi lebih dalam? Semua bergantung pada seberapa besar investor berani bertahan di tengah sentimen yang masih belum menentu.

Editor : Mahendra Aditya
#Saham yang diborong asing #ihsg #pasar saham indonesia #bursa efek indonesia (bei) #Suku Bunga Saham #saham diborong asing #bursa efek indonesia #profit taking #ihsg hari ini #saham ihsg anjlok #wifi saham