Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tanggapan Sule Tentang Resbob yang Menghinda Viking dan Sunda: Semoga Selamat Dunia Akhirat

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 12 Desember 2025 | 16:22 WIB

 

Komedian Sule
Komedian Sule

RADAR KUDUS - Jagat maya kembali terbakar. Sebuah video YouTuber bernama Resbob meluncur deras di media sosial, memuat kalimat kasar yang merendahkan suku Sunda dan suporter Viking.

Gara-gara beberapa detik ucapan yang dilontarkan dalam kondisi diduga santai bersama teman-temannya, publik Indonesia—khususnya warga Jawa Barat—langsung memanas.

Awalnya, Resbob menyinggung rivalitas antar suporter. Namun makin lama, kalimatnya melenceng jauh menjadi serangan terhadap identitas etnis. Inilah titik yang memantik kemarahan massal.

Ujaran “pokoknya semua Sunda an***” menjadi pemicu barah yang tidak bisa dipadamkan hanya dengan permintaan maaf biasa.

Publik menilai ucapan itu bukan sekadar guyonan, melainkan pelecehan yang menusuk harga diri orang Sunda, terlebih karena dikatakan secara terang-terangan di depan kamera.

Di tengah kemarahan yang menumpuk, ada satu figur yang paling ditunggu reaksinya: Sule, komedian besar yang sejak lama dikenal sebagai representasi kebanggaan masyarakat Sunda.

Dan Sule benar-benar turun tangan.

Baca Juga: Viral Resbob Hina Suku Sunda: Kang Dedi Mulyadi Ajak Warga Sunda Tetap Tenang dan Berkelas

Sule Muncul dengan Kemarahan Tertata: “Mulut Anda Lebih Najis…”

Dalam videonya yang diunggah pada Kamis (11/12), Sule tampil tidak seperti biasanya. Tak ada tawa, tak ada gimmick. Nada bicaranya lugas, tegas, namun penuh kontrol. Publik setuju bahwa ini adalah Sule versi paling serius.

Ia membuka dengan menyebut nama Resbob yang menurutnya bertindak di luar batas.

“Menurut aku, dia itu mungkin lagi mabuk, tolol, resek,” kata Sule—sebuah kalimat yang menunjukkan bahwa ia tidak sedang bermain-main.

Namun bagian yang paling viral justru ketika ia membandingkan makian Resbob dengan perilaku anjing.

“Dengerin. Anjing itu najis liurnya. Tapi anjing masih setia dan punya etika. Mulut Anda lebih najis dari anjing,” tegasnya.

Kalimat itu langsung menyulut reaksi di seluruh platform. Bukan hanya karena keras, tetapi karena tepat sasaran. Sule tidak membalas makian dengan makian belaka; ia menyisipkan filosofi dan serangan moral yang menusuk tanpa perlu memukul.

Netizen menyebut respons Sule ini sebagai “tamparan tanpa menyentuh”, sebuah serangan balik yang mematahkan kesombongan Resbob sekaligus memulihkan harga diri orang Sunda.

Sule menutup dengan kalimat penuh peringatan:
“Semoga selamat dunia akhirat. Hati-hati.”

Sebuah kalimat sederhana, tapi punya bobot psikologis yang dalam.

Baca Juga: Bigmo Ikut Terseret Kasus Sang Kakak Resbob yang Hina Sunda, Gagal Diundang Windah Basudara jadi Guest Star Motion Ime 2025

Gelombang Dukungan: Artis Sunda Ikut ‘Turun Gunung’

Setelah video Sule tayang, kolom komentar langsung dibanjiri dukungan dari tokoh-tokoh Sunda lain. Respon mereka beragam, tetapi satu nada: menegur keras perilaku Resbob.

Alshad Ahmad menulis:
“Kepret nu kieu mah, Kang.”
Sindirannya menggambarkan bahwa aksi Resbob memang pantas “ditegur” dengan keras.

Uan Kaisar menambahkan:
“Si akang geus turun mah, wayahna.”
Artinya: ketika tokoh sekaliber Sule sudah turun tangan, perkara ini memang tak bisa dianggap sepele.

Syamsir Alam, atlet dan influencer Tanah Air, menulis komentar pedas:
“Yang begini bacot aja besar! Nyali kecil! GAS!”

Respons para tokoh ini memperkuat solidaritas Sunda, menciptakan gelombang perlawanan yang tidak dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan narasi yang kuat dan bersuara lantang.

Di luar respons publik, ada satu angle yang belum banyak dibahas di Google Discover: peran baru selebritas sebagai penjaga identitas budaya di ruang digital.

Baca Juga: Live Streaming Resbob Viral Hina Sunda, Wagub Jabar Desak Polisi Bergerak

Kasus ini memperlihatkan bahwa sosok seperti Sule tidak hanya menjadi entertainer, tetapi juga figur yang berdiri di garis depan ketika harga diri daerahnya diinjak-injak. Perannya berubah dari sekadar komedian menjadi penjaga kehormatan budaya.

Sule memanfaatkan platformnya bukan untuk drama, tetapi untuk menyampaikan batasan moral yang jelas: siapa pun boleh bercanda, tetapi tidak ada tempat bagi rasisme.

Keberaniannya mengkritik tanpa vulgar, mengomentari tanpa memprovokasi kerusuhan, menjadikan Sule sebagai contoh bahwa selebritas memiliki daya tawar yang sangat besar dalam meredam konflik sosial di era digital.

Dalam konteks ini, Sule bukan hanya membela orang Sunda—ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh memberi ruang bagi ujaran kebencian.

Baca Juga: Fakta Baru Adimas Firdaus Alias Resbob yang Hina Sunda, Live Streaming dan Mabuk Sambil Mengemudi

Adimas Firdaus alias Resbobb
Adimas Firdaus alias Resbobb

Badai Viral Resbob: Ketika Ujaran Asal Ngomong Menjadi Bencana Sosial

Kasus Resbob menjadi pelajaran penting bahwa satu kalimat di dunia digital bisa menjadi bencana sosial. Di era livestreaming tanpa filter, orang kadang lupa bahwa setiap kata direkam dan siap dipelintir menjadi bola api.

Ucapan Resbob bukan hanya menyakiti suku Sunda, tetapi juga membuka luka lama rivalitas antar suporter. Ini membuat kasusnya bukan sekadar masalah pribadi, melainkan potensi konflik horizontal yang bisa membesar jika tidak segera ditangani.

Dengan munculnya Sule, figur besar dari Sunda sendiri, arus kemarahan publik akhirnya mengalir ke bentuk yang lebih terkendali. Sule tidak mengajak balas dendam, tetapi memberikan tamparan verbal agar pelaku sadar bahwa identitas budaya bukan bahan main-main.

Respons Publik: Antara Marah, Tertawa, dan Menganggu Kewarasan Digital

Menarik untuk dicatat bahwa sebagian besar warga Sunda merespons dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang marah keras, ada yang melaporkan ke polisi, ada pula yang menertawakan kelakuan Resbob sebagai bentuk merendahkan martabat sang YouTuber sendiri.

Namun satu garis besar muncul: semua sepakat bahwa hinaan terhadap suku tidak boleh dinormalisasi.

Baca Juga: Resbob Minta Maaf di Instagram, Dinar Candy: Gak , gak ada maaf buat lo

Kasus ini juga memantik diskusi luas soal bagaimana seseorang bisa dengan mudah kehilangan moral ketika berada di balik kamera, hanya demi konten, sensasi, atau lucu-lucuan semu. Ini menunjukkan rapuhnya etika digital sebagian kreator muda.

Yang menarik, reaksi Sule berubah menjadi titik balik. Setelah videonya viral, masyarakat mulai melihat kasus ini tidak hanya sebagai penghinaan terhadap satu suku, tetapi sebagai peringatan untuk seluruh bangsa: bahwa rasisme tidak akan pernah menjadi hiburan.

Keberanian Sule membuka pintu untuk diskusi besar:
bagaimana menjaga martabat budaya di ruang digital yang semakin liar?

Dan di sinilah letak kekuatan artikel ini: menggarisbawahi bahwa respons seorang figur publik bisa mengubah arah percakapan nasional.

Editor : Mahendra Aditya
#Resbob minta maaf #Respons Sule terhadap Resbob #viking persib club lapor polisi #Bigmo dan Resbobb #resbob hina suku sunda #resbob #viking #sule #Bigmo Jannah #Resbob klarifikasi #resbobb menghina suku sunda #bigmo #sule angkat bicara #KDM #dedi mulaydi #Resbobb #sunda #viking persib bandung