RADAR KUDUS - Jagat maya kembali berguncang ketika nama Resbob, atau Adimas Firdaus, memuncaki trending lintas platform. Ia bukan pertama kalinya terseret kontroversi, namun kali ini, ledakannya jauh lebih besar.
Sebuah potongan siaran langsung memperlihatkan dirinya mengeluarkan kalimat yang dianggap menghina suku Sunda, Viking, dan pendukung Persib Bandung. Cuplikan itu menyebar seperti percikan api yang jatuh ke ladang kering.
Tetapi ada yang berbeda dari kontroversi kali ini:
untuk pertama kalinya, bukan hanya Resbob yang menerima imbasnya—melainkan juga sang adik, Big Mo, konten kreator yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kejadian tersebut.
Ujaran kasar yang meluncur di dalam mobil, diiringi tawa rekan-rekannya, menjelma badai nasional yang memantik kemarahan kolektif.
Identitas budaya tersentuh, emosi publik tersulut, dan dalam hitungan jam video itu memecah gelombang besar di ruang digital.
Baca Juga: Live Streaming Resbob Viral Hina Sunda, Wagub Jabar Desak Polisi Bergerak
Kemarahan Publik Mendidih: Ancaman Terbuka Menggema
Salah satu reaksi paling mencolok datang dari seorang warga Sunda bernama Abah Deden. Lewat video di Instagram, ia menyampaikan pernyataan keras:
“Kamu yang menghina Sunda, ingat! Sampai ke mana pun ku kejar kamu.”
Nada suaranya penuh luka dan penghinaan. Banyak warga Sunda lain ikut menyuarakan kekecewaan. Mereka menilai serangan Resbob bukan sekadar hinaan, tetapi penghancuran martabat komunal yang dipegang turun-temurun.
Di TikTok, ribuan akun menduplikasi video itu. Di Instagram, fanbase suporter ikut bersuara. Twitter (X) penuh tagar bernada kemarahan. Ledakan emosi terjadi bukan hanya karena satu kalimat kasar, tetapi karena tersentuhnya identitas budaya yang sangat sensitif.
Efek Domino: Karier Big Mo Terpukul Tanpa Salah
Di tengah kerumunan amarah itu, muncul satu fakta lain yang tidak kalah mengejutkan:
Big Mo, adik kandung Resbob, mendadak ikut dihantam badai meski tidak melakukan apa-apa.
Big Mo—yang belakangan naik daun berkat kontennya—seharusnya menjadi bintang tamu di acara besar: Motion Ime Festival 2025 bersama Windah Basudara. Kehadirannya sudah direncanakan, bahkan menjadi salah satu sorotan utama festival.
Namun, setelah kasus Resbob meledak, keputusan berubah.
Pihak penyelenggara urung mengundang Big Mo.
Bukan karena performanya buruk, bukan karena kontroversi pribadi, melainkan karena stigma yang menempel akibat ulah kakaknya.
Big Mo akhirnya muncul di media sosial untuk menjernihkan keadaan. Ia menegaskan bahwa ia tidak membenarkan tindakan kakaknya dan tidak memiliki hubungan dengan pernyataan tersebut.
Ia menuliskan inti pesannya:
“Saya tidak mendukung apa pun yang dilakukan kakak saya. Saya tidak ada kaitannya dengan ucapan tersebut.”
Ironis, publik kini menyaksikan efek domino: satu kalimat ceroboh menghancurkan dua karier dalam satu waktu.
Budaya Barbar Konten: Ledakan yang Sudah Lama Ditabung
Mengapa publik begitu marah?
Jawabannya tidak hanya pada video itu, tetapi pada akumulasi kejenuhan yang bertahun-tahun dipendam masyarakat.
Selama ini ruang digital Indonesia dipenuhi kreator konten yang membuka jalan popularitas melalui gaya barbar, sindiran ekstrem, dan ucapan provokatif. Pola ini terus berlangsung, disulut oleh algoritma yang mengutamakan sensasi.
Maka ketika Resbob kembali berulah—setelah sebelumnya terjerat kasus pencemaran nama baik terhadap selebgram Azizah Salsha—publik memutuskan: cukup sudah.
Resbob menjadi titik pecah dari lelahnya publik terhadap fenomena selebritas digital yang merasa kebal dari konsekuensi.
Baca Juga: Fakta Baru Adimas Firdaus Alias Resbob yang Hina Sunda, Live Streaming dan Mabuk Sambil Mengemudi
Kejadian Berawal di Mobil Biasa, Berakhir di Konflik Nasional
Video yang pertama kali viral dari akun TikTok @reiclipssx memperlihatkan Resbob memegang vape, bercanda, santai, tanpa beban.
Dalam suasana yang tampak biasa, ia melontarkan kalimat yang tidak biasa—kalimat yang melukai satu identitas etnis.
Dari mobil itu, suara Resbob menembus algoritma, melewati ratusan ribu layar, dan menghantam harga diri masyarakat Sunda.
Itulah kekuatan ruang digital hari ini:
satu kalimat bisa berubah menjadi bara yang membakar reputasi dan merusak hubungan antar kelompok.
Desakan Pemrosesan Hukum Menguat
Gelombang kemarahan berubah menjadi desakan yang lebih formal: publik meminta agar aparat bertindak.
Ucapan Resbob dianggap masuk kategori ujaran kebencian berbasis etnis—suatu pelanggaran yang memiliki konsekuensi pidana melalui KUHP maupun UU ITE.
Dengan rekam jejak yang sudah pernah bersentuhan dengan hukum, publik menilai aparat perlu mengambil sikap lebih tegas.
Kasus ini tidak lagi dipandang sebagai drama dunia maya, tetapi ancaman yang bisa memicu konflik horizontal jika dibiarkan.
Klarifikasi Muncul: Menyalahkan Alkohol
Di tengah badai itu, Resbob akhirnya muncul dengan permohonan maaf. Lewat Instagram, ia berkata:
“Ketidaksadaran menjadikan kecelakaan saya dalam ucapan… sampai sekarang saya nggak ingat mulut saya mengucapkan itu.”
Ia juga menulis:
“Mari kita tinggalkan alkohol. Najis dan membuat mulut orang celaka.”
Resbob menyalahkan alkohol sebagai pemicu ucapannya. Sebagian publik menilai hal itu sebagai bentuk penyesalan. Sebagian lain justru menilai alasan itu tidak cukup menutup luka kolektif.
Yang jelas, tulisan itu memperlihatkan bahwa Resbob tengah berada di titik paling rentan dalam hidupnya—dengan reputasi di ujung tanduk dan arus publik yang tidak lagi bisa ia kontrol.
Siapa yang Paling Terluka? Publik Menjawab: Big Mo
Ironisnya, dari seluruh drama ini, nama yang paling banyak mendapat simpati justru bukan Resbob—melainkan Big Mo.
Unggahan klarifikasinya menunjukkan dirinya terpojok oleh situasi yang bukan ulahnya. Banyak netizen menilai bahwa pembatalan undangan di Motion Ime Festival terasa tidak adil.
Big Mo pun menegaskan bahwa ia tidak mendukung pernyataan kakaknya dan ingin agar publik tidak menyamakan mereka.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting:
ketika satu selebritas jatuh, radius kejatuhannya bisa menyeret orang-orang di sekitarnya, bahkan yang tidak terlibat sama sekali.
Kasus Resbob bukan sekadar kontroversi selebritas. Ia adalah cermin dari:
• rapuhnya ruang digital,
• cepatnya amarah publik mengkristal,
• dan bagaimana kesalahan satu orang bisa menghantam banyak pihak.
Karier Resbob berada di tubir jurang.
Karier Big Mo terpukul tanpa alasan.
Masyarakat Sunda merasa direndahkan.
Dan kini, publik menunggu satu hal: apakah aparat akan bertindak sebelum bara ini membesar?
Editor : Mahendra Aditya