Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Live Streaming Resbob Viral Hina Sunda, Wagub Jabar Desak Polisi Bergerak

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 12 Desember 2025 | 01:40 WIB

 

Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG
Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG

RADAR KUDUS - Pernyataan sembrono seorang kreator konten bernama Resbob kembali menguji daya tahan ruang digital Indonesia.

Dalam siaran langsungnya—yang kini viral berkali-kali lipat di berbagai platform—Resbob diduga mengucapkan hinaan terhadap suku Sunda dan kelompok suporter Persib Bandung.

Rekamannya menyebar begitu cepat, mengalir ke kolom komentar, forum komunitas daerah, bahkan grup percakapan internal warga Sunda.

Video yang tersebar menunjukkan ia melontarkan kalimat merendahkan identitas kesukuan, sambil disambut tawa rekan yang merekam.

Nada congkak dan ekspresi meremehkan membuat publik merasa diserang bukan sebagai individu, melainkan sebagai satu kesatuan budaya.

Di tengah derasnya arus informasi yang sulit dibendung, reaksi masyarakat Sunda pun langsung mengeras. Lini masa Twitter (X), TikTok, dan Instagram dibanjiri kecaman.

Warganet menganggap tindakan Resbob bukan sekadar candaan, bukan pula konten hiburan, melainkan bentuk penghinaan yang menyentuh ranah SARA—ranah yang paling sensitif di negeri yang beragam ini.

Baca Juga: Fakta Baru Adimas Firdaus Alias Resbob yang Hina Sunda, Live Streaming dan Mabuk Sambil Mengemudi

Erwan Setiawan Angkat Suara: “Ini Luka di Harga Diri Sunda”

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menjadi salah satu tokoh publik pertama yang bereaksi keras.

Kalimatnya lugas, emosinya terlihat tidak dibuat-buat. Ia berbicara bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat Sunda yang merasa martabatnya diguncang.

“Saya sebagai orang Sunda merasa sangat terhina dan sangat marah,” ucap Erwan, menegaskan sikapnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Resbob bukan lagi kategori iseng. Ucapannya dapat memantik permusuhan antar suku jika tidak segera ditangani.

Ia pun meminta langkah tegas dari pihak kepolisian—bukan sekadar pemanggilan, tetapi penangkapan dan proses hukum yang dapat memberikan efek jera.

Erwan menyebut tindakan influencer itu sebagai pelanggaran etika publik dan ancaman yang merongrong sendi persatuan bangsa.

Dalam sudut pandangnya, ruang digital harus tetap menjadi tempat berekspresi, bukan memicu bara konflik horizontal.

Peringatan Serius: Jangan Balas Dendam, Fokus pada Pelaku

Meski suaranya keras, Erwan tetap memberikan pesan penyejuk kepada masyarakat Jawa Barat.

Ia mengimbau agar warga tidak menyerang, memprovokasi, atau menghina suku lain sebagai balasan. Menurutnya, tindakan balas dendam hanya akan memperluas keretakan sosial.

“Jangan dendam kepada sukunya, karena tidak semua sama. Fokus pada oknum tersebut,” tegasnya.

Erwan mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman. Penghinaan terhadap satu suku pada akhirnya melukai semangat Bhineka Tunggal Ika.

Ia percaya aparat hukum mampu mengusut tuntas kasus ini dan memastikan tidak ada lagi ruang bagi tindakan serupa.

Baca Juga: Daftar Jejak Kontroversi Resbob: Dari Azizah Salsha Sampai Menghina Sunda dan Viking Supporter Persib Bandung

Tagar #Resbob menjadi trending. Banyak tokoh Sunda, komunitas budaya, hingga kelompok suporter Persib bereaksi keras.

Mereka menilai tindakan Resbob mengungkit luka lama tentang stereotip negatif terhadap suku tertentu.

Narasi publik kemudian berkembang. Banyak warganet menyatakan bahwa ujaran kebencian berbasis identitas seperti ini berbahaya karena dapat menjadi pemantik konflik antar kelompok, sebagaimana yang pernah terjadi di beberapa daerah Indonesia di masa lalu.

Konten seperti ini dianggap menunjukkan betapa ringkihnya ruang digital. Satu kalimat dari seorang influencer bisa menimbulkan kegaduhan nasional.

Inilah sebabnya mengapa publik mendukung langkah Wagub Jabar untuk menekan aparat mempercepat proses hukum.

Baca Juga: Resbob Minta Maaf di Instagram, Dinar Candy: Gak , gak ada maaf buat lo

Dampak Lebih Luas: Ujaran Kebencian dan Ancaman Polarisasi Sosial

Kasus Resbob bukan hanya persoalan lokal atau emosi sesaat. Ia menjadi cermin dari realitas bahwa ruang internet telah menjelma arena yang bisa memperkuat stereotip dan memecah belah masyarakat. Negara perlu hadir karena ujaran kebencian dapat menyulut fanatisme dan konflik horizontal.

Meski sudah ada Undang-Undang ITE dan pasal terkait SARA, kasus serupa berkali-kali muncul, seolah ada celah yang belum tertutup. Banyak influencer memanfaatkan sensasi untuk menaikkan engagement, tanpa mengukur dampak sosialnya.

Kasus ini membuka diskusi luas:
– apakah edukasi literasi digital di Indonesia masih minim?
– apakah regulasi belum cukup menjerakan?
– atau apakah publik sudah jenuh dengan perilaku influencer yang mengobral provokasi?

Baca Juga: Biodata Resbobb, Nama Lengkap, Tanggal Lahir, Agama Hingga Karir, Bikin Konten Menghina Viking dan Sunda

Desakan Publik: Hukum Harus Turun, Bukan Sekadar Teguran

Wagub Jabar bukan satu-satunya yang meminta langkah tegas. Sejumlah organisasi paguyuban Sunda, tokoh masyarakat, hingga komunitas sepak bola juga mendesak agar polisi tidak hanya memanggil, tapi memastikan proses hukum berjalan secara objektif dan transparan.

Menurut sejumlah pemerhati media sosial, tindakan resmi dari aparat menjadi penting bukan hanya untuk menghukum, tetapi untuk memutus mata rantai kejahatan digital.

Jika tidak, influencer lain bisa meniru pola yang sama karena melihat “kontroversi = viral = cuan”.

Publik berharap penanganan kasus ini menjadi preseden kuat bagi penegakan hukum ujaran kebencian di Tanah Air.

Kasus Resbob menjadi alarm keras bahwa kebebasan berekspresi bukan alasan untuk merendahkan identitas orang lain. Penghinaan yang dilakukan tidak hanya menggores masyarakat Sunda, tetapi merusak fondasi keberagaman Indonesia.

Pesan Wagub Erwan menggema: hormati perbedaan, jaga persatuan, dan jangan biarkan satu oknum merusak kepercayaan antar suku yang telah lama terbina.

Dan kini, publik menunggu satu hal: langkah tegas dari aparat penegak hukum.

Editor : Mahendra Aditya
#Resbob minta maaf #wagub jabar #Erwan Setiawan #resbob hina suku sunda #resbob #viking #Resbob klarifikasi #resbobb menghina suku sunda #Resbobb #sunda