Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Resbob yang Hina Suku Sunda, Dapat Ancaman, Bergegas Klarifikasi dan Minta Maaf: ‘Mulutku Celaka karena Alkohol!’

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 12 Desember 2025 | 00:25 WIB

Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG
Adimas Firdaus alias Resbobb klarifikasi dan meminta maaf melalui postingan di IG

RADAR KUDUS - Nama Resbob, atau Adimas Firdaus, kembali menjadi pusat amukan publik setelah cuplikan siaran langsungnya tersebar luas di media sosial.

Ucapannya yang menyinggung suku Sunda, Viking, dan pendukung Persib Bandung langsung membakar ruang digital seperti bensin yang disiram ke api.

Namun kali ini, reaksi publik bukan lagi sekadar kecaman biasa. Ada kemarahan yang sifatnya jauh lebih personal, kolektif, dan menembus batas dunia maya. Dalam waktu singkat, pernyataan Resbob berubah menjadi ledakan emosional berjilid-jilid, memancing ancaman terbuka dari warga Sunda yang merasa martabat mereka diinjak.

Fenomena ini bukan hanya soal konten “barbar” seorang streamer—tetapi tentang bagaimana ketegangan sosial bisa mengembang hanya melalui satu kalimat yang meluncur tanpa kontrol.

Baca Juga: Biodata Resbobb, Nama Lengkap, Tanggal Lahir, Agama Hingga Karir, Bikin Konten Menghina Viking dan Sunda

Video yang pertama kali diposting oleh akun TikTok @reiclipssx memperlihatkan Resbob berada di dalam mobil bersama beberapa rekannya. Kamera menyorot ia sedang memegang vape, santai, seperti sedang mengobrol biasa, hingga ia melontarkan kalimat yang membuat satu etnis terguncang.

Kata-kata itu keluar begitu saja, dengan nada meremehkan dan merendahkan. Dan seketika, satu kesalahan itu merambat ke seluruh penjuru negeri.

Dari sebuah mobil pribadi, suaranya melewati dinding digital, lalu menghantam ruang publik—dan menghentakkan harga diri masyarakat Sunda.

Amarah Publik: “Kami Kejar Kamu!”

Tidak butuh 24 jam bagi publik untuk mengorganisasi kemarahan mereka. Seorang pria Sunda, Abah Deden, menjadi wajah perlawanan lewat sebuah video yang diunggah ke Instagram.

Dalam videonya, ia mengatakan:

“Kamu yang menghina Sunda, ingat! Sampai ke mana pun ku kejar kamu.”

Nada suaranya bukan sekadar marah; tetapi campuran antara terluka, tercoreng, dan merasa dilecehkan atas identitas turun-temurun mereka.

Baginya, penghinaan Resbob tidak hanya menyerang individu, tetapi leluhur, keluarga, dan komunitas besar yang memiliki sejarah dan budaya panjang.

Unggahannya langsung memantik ribuan komentar. Warga Sunda lain ikut bersuara, sebagian menyerukan proses hukum, sebagian bersiap mengambil jalur lain jika hukum terlambat merespons.

Kemarahan itu merembet ke berbagai platform. TikTok penuh duplikasi video itu, X (Twitter) dibanjiri kecaman, di Instagram banyak akun fanbase suporter ikut bersuara. Fenomena ini menggambarkan sesuatu yang lebih besar: keterhubungan emosi kolektif yang sangat kuat di era digital.

Ketika satu identitas dilecehkan, algoritma memperkuat kejengkelan itu, lalu mempertemukan ratusan ribu orang yang merasakan hal sama. Inilah yang membuat kasus Resbob tidak berhenti di ranah hiburan, tetapi naik ke level sosial.

Dari satu kalimat, lahirlah tekanan massa yang membentuk gelombang yang sulit dihentikan.

Dalam pusaran kemarahan itu, muncul desakan agar Resbob diproses hukum. Ujarannya dianggap masuk ke kategori ujaran kebencian dan penghinaan kelompok etnis, yang dalam KUHP maupun UU ITE memiliki konsekuensi pidana.

Ini bukan pertama kalinya Adimas berurusan dengan hukum. Sebelumnya, ia sudah terseret kasus pencemaran nama baik terhadap selebgram Azizah Salsha, dan kasus itu bahkan sudah naik ke penyidikan.

Dengan kasus baru ini, tekanan publik memaksa aparat melihat situasi lebih serius.

Jika ditarik ke akar lebih dalam, kemarahan publik tidak lahir dari video itu semata. Ada fenomena yang lebih senyap namun tumbuh lama: keletihan masyarakat terhadap konten provokatif.

Selama bertahun-tahun, ruang digital Indonesia dipenuhi persona “barbar”, kreator yang membangun karier dengan mulut tajam dan aksi sensasional. Sementara sebagian penonton menganggap hiburan, sebagian lagi mulai jenuh—dan pada titik tertentu, kejenuhan itu meledak.

Kontroversi Resbob adalah akumulasi dari:
• maraknya ujaran sembrono
• normalisasi menghina kelompok
• budaya memancing sensasi demi engagement
• dan minimnya refleksi dari kreatornya sendiri

Apa yang terjadi pada Resbob bukan sekadar hukuman publik—tapi akumulasi perlawanan terhadap budaya digital yang dianggap sudah melewati batas.

Klarifikasi Mengejutkan: Resbob Salahkan Alkohol

Di tengah badai ini, Resbob akhirnya muncul di Instagram dan menulis permintaan maaf yang tak disangka-sangka.

Ia menulis:

“Ketidaksadaran menjadikan kecelakaan saya dalam ucapan… sampai sekarang saya nggak ingat mulut saya mengucapkan itu.”

Ia lalu menambahkan:

“Inilah hikmah besar. Mari kita tinggalkan alkohol. Najis dan membuat mulut orang celaka.”

Resbob memposisikan ucapannya sebagai efek dari konsumsi alkohol. Ia menyebut dirinya sebagai contoh “mulut celaka” akibat ketidakwarasan sesaat.

Namun klarifikasi itu justru membuka babak baru. Sebagian publik menerima permohonan maaf itu sebagai introspeksi. Sebagian lagi menilai bahwa menyalahkan alkohol tidak cukup untuk meredakan luka kolektif.

Yang jelas, klarifikasi itu mengungkap sisi lain dari tragedi ini: Resbob sedang berada pada titik paling goyah dalam karier dan reputasinya.

Saat artikel ini dibuat, tidak ada tindak lanjut hukum resmi, tetapi tekanan publik masih terus membara. Setiap jam, video-video baru bermunculan, memperkuat ekspos kasus ini.

Resbob berada di tengah badai yang tidak ia duga. Satu kalimat membuat seluruh momentum digital berubah jadi bumerang, mengancam masa depan kariernya sebagai kreator.

Bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan, tetapi juga rasa aman dan privasinya—karena ancaman nyata sudah dilontarkan oleh warga Sunda yang merasa martabatnya diinjak-injak.

Editor : Mahendra Aditya
#Bigmo dan Resbobb #resbob hina suku sunda #resbob #viking #profil resbobb adimas firdaus #Azizah Salsha Laporkan bigmo dan resbobb #Adimas Firdaus #YouTuber Resbobb #resbobb menghina suku sunda #Resbobb #sunda