Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih dari 50 Orang Dilantik Pakubuwono XIV — Sinyal Kebangkitan Besar Keraton Solo?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 10 Desember 2025 | 16:42 WIB

 

Pakubuwono XIV
Pakubuwono XIV

SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta kembali mencuri perhatian publik. Pada 7 Desember 2025, Sasono Handrawina menjadi saksi sebuah langkah strategis: pelantikan lebih dari 50 tokoh ke dalam lingkaran penting Keraton—mulai dari Abdi Dalem, penasihat raja, hingga staf khusus Pakubuwono XIV Hamangkunegoro.

Prosesi yang berlangsung penuh tata krama Jawa itu bukan sekadar upacara seremonial, melainkan penegasan arah baru Keraton dalam menata ulang perannya di era modern.

Untuk sebuah lembaga budaya yang masih memegang otoritas simbolik di Jawa, keputusan merombak struktur besar-besaran jelas membawa pesan kuat: Keraton Surakarta tidak ingin hanya menjadi ikon sejarah, melainkan pusat budaya yang relevan dan berpengaruh.

Rombakan Besar: Lebih dari 50 Tokoh Masuk Struktur Baru

Jumlah yang dilantik bukan angka kecil. Lebih dari 50 tokoh dipilih langsung oleh Pakubuwono XIV. Mereka diproyeksikan menjadi penggerak baru Keraton dalam banyak bidang—dari pelestarian budaya, penguatan jaringan sosial, konsultasi kebijakan internal, hingga diplomasi budaya ke daerah maupun negara lain.

Jumlah itu bukan hanya mencerminkan keseriusan sang raja dalam memperbarui struktur, tetapi juga simbol bahwa Keraton ingin memperbesar pengaruh melalui kolaborasi lintas generasi dan lintas profesi.

Sejumlah nama lama kembali mendapat mandat. Salah satunya yang paling mencuri perhatian adalah K.H. Said Aqil Siradj, mantan Ketua PBNU, yang kembali dipanggil untuk menjadi penasihat raja. Kehadirannya menunjukkan bahwa Keraton masih mengandalkan tokoh-tokoh berpengalaman untuk menjaga kesinambungan tradisi.

Kalangan pesantren, akademisi Islam, dan tokoh budaya yang sebelumnya dekat dengan Keraton tampak dipertahankan sebagai jembatan antara tradisi Jawa dan masyarakat luas. Dengan pengalaman panjang, mereka diharapkan memberi pijakan matang dalam berbagai keputusan strategis Keraton.

Langkah signifikan lainnya adalah keterlibatan tokoh-tokoh akademik dan budayawan. Keraton secara serius membuka pintu kolaborasi kepada cendekiawan—yang selama beberapa dekade menjadi pilar penting dalam pelestarian budaya Jawa.

Nama-nama seperti Kiai Jadul Maula, Ketua Lesbumi PBNU, serta Prof. Almakin dari UIN Sunan Kalijaga menandai arah baru: Keraton ingin memperkaya tradisi dengan riset, diskusi ilmiah, dan pendekatan lebih modern dalam pengelolaan budaya.

Dengan fondasi akademik yang kuat, strategi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Keraton di tengah tantangan global terhadap warisan budaya tradisional.

Generasi Muda Mulai Diberi Ruang: Jembatan Menuju Publik yang Lebih Luas

Langkah progresif Keraton terlihat dari keberanian memberi ruang kepada tokoh muda. Salah satu nama yang jadi sorotan adalah Wakil Bupati Kudus, Belinda Putri Sabrina Birton.

Penunjukannya menyiratkan upaya Keraton memperluas jaringan budaya hingga daerah-daerah yang memiliki hubungan historis dengan Surakarta.

Keterlibatan anak muda dalam struktur Keraton bukan hal sepele. Ini menunjukkan bahwa Keraton menyadari kebutuhan meraih perhatian generasi digital, generasi yang jauh dari kehidupan istana tetapi masih bisa menjadi ujung tombak pelestarian budaya jika didekati dengan strategi yang tepat.

Pemilihan Feri Septa Indrianto, Ketua Kadin Surakarta, sebagai bagian struktur baru menandai keterlibatan unsur ekonomi. Keraton tampaknya sedang merancang sinergi lebih besar antara budaya dan ekonomi kreatif.

Dengan potensi wisata budaya yang menggiurkan, Keraton punya modal sosial untuk menggerakkan kembali denyut ekonomi lokal—mulai dari UMKM, seni pertunjukan, kuliner tradisional, hingga pariwisata berbasis event.

Feri menyatakan komitmen untuk mengembalikan Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa melalui strategi ekonomi yang relevan dengan zaman, tidak hanya nostalgia masa lalu.

Lebih dari 50 Penasihat dan Staf Khusus: Banyak Kepala, Banyak Perspektif

Secara total, ada 21 penasihat raja dan lebih dari 30 staf khusus yang diangkat. Mereka datang dari berbagai latar belakang—akademisi, praktisi bisnis, pemuka agama, seniman, hingga pejabat publik.

Komposisi ini dirancang agar Keraton memiliki perspektif yang lengkap dalam menentukan langkah. Dalam dunia yang semakin kompleks, kolaborasi lintas ilmu menjadi kebutuhan, bukan pilihan.

Keberagaman latar belakang ini memberi peluang bagi Keraton untuk memaksimalkan potensi Surakarta bukan hanya sebagai pusat budaya, tetapi juga motor pergerakan sosial dan ekonomi.

Fokus Utama: Keraton sebagai Destinasi Tradisi dan Pariwisata

Dalam arah baru ini, Keraton Surakarta menegaskan bahwa pengelolaan budaya berbasis pariwisata menjadi prioritas utama. Keraton ingin tidak hanya dikunjungi, tetapi dihayati.

Pengalaman budaya yang lebih interaktif, edukatif, dan bernilai ekonomi tengah disiapkan. Ini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi merawatnya dalam ekosistem pariwisata modern yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pengembangan paket wisata budaya, pelatihan seni, pemutakhiran manajemen keraton, hingga event budaya internasional mulai diwacanakan sebagai strategi jangka panjang.

Jika strategi ini berhasil, Surakarta berpeluang kembali menjadi pusat kebudayaan Jawa yang bersinar di tingkat global.

Pelantikan besar-besaran ini menjadi momentum penting dalam sejarah Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan melibatkan lebih banyak tokoh dari beragam bidang, Keraton mencoba membuka lembaran baru—lebih inklusif, modern, dan strategis.

Masyarakat kini menunggu: mampukah pembaruan ini menghidupkan kembali kejayaan Surakarta dan menjadikannya pusat budaya yang tak hanya dikenang, tetapi juga berpengaruh?

Editor : Mahendra Aditya
#Pakubuwono XIV #Pelantikan Abdi Dalem #keraton surakarta #surakarta