Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ketika Guyonan Tak Lagi Lucu: Bahaya Normalisasi Candaan Bernuansa Pelecehan

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:03 WIB

Photo
Photo

RADAR KUDUS - Kasus dugaan pelecehan seksual di tempat kerja kembali mencuat setelah seorang karyawati menjadi korban komentar tidak pantas di grup WhatsApp kantor.

Peristiwa bermula ketika ia bersedia menjadi model untuk kebutuhan internal, namun seorang rekan malah mengambil foto punggungnya tanpa persetujuan.

Foto itu kemudian dibagikan ke grup dan dijadikan bahan lelucon bernada seksual.

Baca Juga: Manfaat Tomat untuk Kulit: Dari Redakan Sunburn hingga Samarkan Flek

Ironisnya, beberapa anggota, termasuk karyawan perempuan, ikut memberikan komentar yang merendahkan dengan dalih bercanda.

Pelecehan seksual memang bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk ruang kerja yang seharusnya mengutamakan profesionalitas.

Pelakunya dapat berasal dari atasan maupun sesama rekan kerja.

Salah satu bentuk yang paling sering diabaikan adalah humor seksis—komentar yang dibungkus sebagai candaan, tetapi sebenarnya merendahkan, mengobjektifikasi, dan mendiskriminasi seseorang berdasarkan gender.

Humor seksis kerap dianggap hal sepele sehingga respons tertawa atau membalas dengan candaan serupa dianggap wajar.

Normalisasi ini membuat korban tidak selalu menyadari bahwa dirinya sedang dilecehkan.

Jika terus dibiarkan, budaya ini menyuburkan seksisme dan mengaburkan batas antara “candaan” dan perilaku berbahaya.

Baca Juga: Self-Love: Mengapa Penting dan Bagaimana Cara Memulainya?

Meski laki-laki juga dapat menjadi target, perempuan tetap menjadi kelompok yang paling sering menjadi sasaran.

Laporan Melbourne Business School menyebutkan bahwa lelucon seksis berpengaruh negatif pada kesehatan mental, performa kerja, dan peluang karier pekerja perempuan.

Selain itu, perempuan juga sering mengalami bentuk seksisme lain seperti pengabaian pendapat, ketimpangan pembagian tugas, hingga pelecehan yang lebih eksplisit.

Masyarakat sering menganggap candaan bernada seksual tidak berbahaya.

Lebih menyedihkan lagi, perempuan pun kadang ikut menormalkannya karena terbiasa berada di lingkungan yang menganggap humor seperti itu lumrah.

Padahal, candaan yang merendahkan dapat melukai, menimbulkan trauma, dan memperkuat budaya diskriminatif.

Baca Juga: Chatbot Bukan Dokter: Ahli Ingatkan Risiko Self-Diagnosis Anak Muda

Langkah sederhana untuk menghentikan normalisasi ini dimulai dari keberanian untuk tidak ikut tertawa dan menegur ketika ada komentar yang melampaui batas.

Penting untuk diingat: sebuah lelucon tidak lagi layak disebut lelucon apabila membuat orang lain tersakiti—terlebih jika mengandung unsur pelecehan.(laura)

 

Editor : Ali Mustofa
#Candaan melecehkan #Diskriminasi gender #Budaya normalisasi #Humor seksis #Pelecehan di tempat kerja