Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Zero Post: Mengapa Gen Z Memilih Kosongkan Media Sosialnya?

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 9 Desember 2025 | 18:05 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Fenomena “zero post” kini ramai dibahas setelah banyak Gen Z memilih membiarkan akun media sosial—khususnya Instagram—tanpa unggahan.

Kebiasaan ini kontras dengan fungsi awal media sosial sebagai ruang berbagi aktivitas dan berinteraksi.

Sebuah studi dari The Financial Times menunjukkan bahwa penggunaan media sosial menurun sekitar 10 persen, terutama di kalangan anak muda.

Survei tersebut dilakukan terhadap 250.000 pengguna di hampir 20 negara.

Baca Juga: Bahaya Oversharing di Media Sosial: Kenali Risiko dan Cara Menghindarinya

Istilah “zero post” diperkenalkan oleh penulis esai Kyle Chayka. Ia menggambarkan bahwa kebiasaan berbagi momen pribadi di internet makin jarang dilakukan.

Chayka memperkirakan masyarakat biasa—yang tidak terlibat dunia profesional atau komersial—mulai menjauh dari unggah-mengunggah karena jenuh dengan hiruk-pikuk media sosial.

Menurutnya, fenomena ini bisa menjadi tanda fase baru: berakhirnya era media sosial sebagai tempat berbagi kehidupan, sebuah platform yang selama ini dianggap sebagai cermin aktivitas sosial.

Mengapa Gen Z Ikut Tren Zero Post?

Chayka menyebutkan bahwa Gen Z sebenarnya tidak sepenuhnya abai terhadap privasi.

Mereka justru tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh tekanan, hingga akhirnya merasa lelah terus-menerus membagikan sisi hidup mereka secara daring.

 

Baca Juga: Self-Love: Mengapa Penting dan Bagaimana Cara Memulainya?

Sejak kecil mereka telah terbiasa menggunakan internet sebagai ruang komunikasi utama.

Namun ketergantungan ini perlahan menggerus kemampuan bersosialisasi secara langsung, membuat sebagian dari mereka memilih untuk menarik diri dari aktivitas online.

Kejenuhan Gen Z juga dipengaruhi oleh membludaknya konten berbasis AI.

Media sosial tidak lagi terasa “sosial”—lebih banyak berupa konsumsi konten komersial, aspirasi gaya hidup, serta unggahan idealisasi yang jauh dari kenyataan.

Banyak anak muda merasa ruang ini kehilangan nilai otentiknya.

Chayka menambahkan bahwa bila unggahan dari pengguna biasa semakin berkurang, media sosial bisa berubah layaknya televisi: dipenuhi iklan, promosi gaya hidup, hingga konten pemasaran.

Kondisi ini sejalan dengan konsep “dead internet theory”, yakni gagasan bahwa internet kelak penuh dengan konten buatan AI dan minim interaksi manusia.

Fenomena ini juga berkaitan dengan istilah enshittification atau crapification, yang merujuk pada menurunnya kualitas suatu platform ketika kontennya makin tidak relevan dan lebih dikendalikan algoritma serta kepentingan komersial.

Pada akhirnya, tren “zero post” bukan bentuk boikot, melainkan cara pengguna—terutama Gen Z—mengambil jarak dari lingkungan digital yang terasa tidak lagi manusiawi. Mereka ingin kembali merasakan kehidupan yang lebih nyata, jauh dari sorotan layar.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Konten AI #Gen Z #Zero Post #media sosial #Dead Internet Theory