RADAR KUDUS - Kawasan Arjasari, Kabupaten Bandung, kini resmi masuk kategori “merah pekat”. Setelah hujan deras memicu bencana gerakan tanah pada Jumat (5/12/2025), Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan langkah paling ekstrem: semua rumah terdampak harus direlokasi total, bukan sekadar diperbaiki atau diperkuat.
Ini bukan keputusan spontan. Tim geologi mendapati jenis gerakan tanah di Wargaluyu merupakan tipe rotasional—jenis pergeseran yang lazimnya menjatuhkan tanah dalam bentuk blok berputar, menciptakan potensi runtuhan berantai yang dapat kembali terjadi kapan saja.
Insiden itu menelan korban: tiga warga tewas tertimbun, satu terluka, dan lebih dari 400 orang mengungsi. Namun yang mencemaskan bukan hanya apa yang sudah terjadi, melainkan apa yang bisa menyusul.
Dalam laporannya, Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut kawasan tersebut “belum selesai bergerak”. Tanah masih labil, retakan baru terus muncul, dan kondisi geologinya tidak mendukung pemukiman kembali.
“Daerah itu masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan. Bangunan terdampak sebaiknya dipindahkan ke lokasi aman,” tegas Lana.
Mengapa Arjasari Sangat Berbahaya?
Tim geologi menemukan rangkaian faktor pemicu yang saling menguatkan:
1. Tanah Gembur dan Berongga
Material tanah pelapukan di lereng Gunung Sinapeul bersifat mudah runtuh saat jenuh air.
2. Beban Lereng yang Tidak Stabil
Gerakan rotasional menunjukkan adanya bidang gelincir cekung—tanda khas lereng yang siap longsor ulang.
3. Curah Hujan Tinggi & Durasi Panjang
Hujan deras sejak awal Desember membuat air meresap ke kedalaman lereng, meningkatkan tekanan pori hingga tanah kehilangan kekuatan geseknya.
4. Drainase Permukaan Buruk
Air tidak mengalir, melainkan menggenang. Kombinasi yang fatal.
5. Kondisi Geologi Rawan Runtuhan
Batuan penyusun berupa Andesit Waringin–Bedil dan formasi Malabar Tua, yang terdiri dari lava dan breksi, rentan tergerus saat jenuh air.
Semua elemen ini memunculkan skenario terburuk: longsor susulan yang lebih besar dari kejadian awal.
Dalam Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah Desember 2025, Arjasari termasuk zona kerentanan menengah. Artinya, longsor sangat mungkin terjadi jika curah hujan di atas normal.
Yang lebih rawan adalah titik-titik yang berbatasan dengan:
-
lembah sungai,
-
tebing jalan,
-
dan lereng yang sebelumnya sudah terganggu kestabilannya.
Semua itu ada di Arjasari.
Baca Juga: Banjir Sumut Kian Mencekam: 13 Kecamatan Terputus Total, Jumlah Korban Tembus 330 Jiwa!
Bukan hanya warga yang terancam. Tim penyelamat juga dibayangi risiko maut.
“Pencarian korban jangan dilakukan saat atau setelah hujan deras. Lereng masih sangat labil dan bisa menimbun petugas,” ujar Lana mengingatkan.
Proses evakuasi pun dilakukan ekstra hati-hati, mengingat beberapa area hanya bisa diakses berjalan kaki dan kondisi tanah terus bergerak.
Alih-alih memperbaiki rumah, Badan Geologi menegaskan bahwa relokasi adalah satu-satunya solusi aman. Jika dipaksa ditempati, risiko longsor lanjutan bisa menelan korban lebih besar.
Setelah relokasi, ada paket mitigasi jangka panjang yang disarankan:
-
pembuatan terasering untuk mengurangi tekanan lereng,
-
penanaman vegetasi berakar dalam sebagai pengikat alami,
-
dan perbaikan sistem drainase di seluruh zona terdampak.
Namun langkah-langkah ini hanya efektif jika warga sudah dipindahkan dari pusat bahaya.
Berdasarkan temuan teknis, jika pergerakan tanah berlanjut, Arjasari bisa menghadapi apa yang disebut geolog sebagai total slope failure—kondisi ketika seluruh massa tanah pada lereng runtuh sekaligus.
Fenomena ini pernah terjadi di beberapa daerah pegunungan dan berpotensi memindahkan material dalam volume besar, yang dapat menyapu rumah, jalan, hingga fasilitas publik.
Inilah alasan relokasi tidak bisa ditunda.
Kasus Arjasari seharusnya menjadi pelajaran. Banyak pemukiman dibangun di lereng dengan kondisi geologi serupa. Tanpa evaluasi struktur tanah, ancaman longsor berlapis tak bisa dihindari.
Relokasi bukan sekadar respons bencana, tetapi investasi keselamatan jangka panjang.
Editor : Mahendra Aditya