RADAR KUDUS - Bencana banjir bandang dan longsor yang menghantam sebagian besar wilayah Sumatra Utara memasuki fase paling kritis.
Data terbaru Pusdalops PB Sumut menunjukkan angka korban meninggal kembali melonjak menjadi 330 jiwa, tersebar di 12 kabupaten/kota.
Kenaikan jumlah korban ini memperlihatkan betapa masifnya dampak bencana yang sudah berlangsung hampir dua pekan.
Sri Wahyuni, Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumut, menyebutkan bahwa data ini masih bersifat dinamis. Tim di lapangan masih melakukan pencarian dan verifikasi, termasuk identifikasi korban yang ditemukan di berbagai titik.
Peningkatan jumlah korban bukan hanya soal skala bencana, tetapi juga menggambarkan terputusnya akses yang membuat penanganan berjalan berat.
Baca Juga: Banjir–Longsor Lumpuhkan Sumatera, Kemensos Salurkan Rp66,7 M! Ini Rincian Bantuannya
13 Kecamatan Terisolasi: Akses Putus, Bantuan Terhambat
Yang paling memprihatinkan, 13 kecamatan hingga Minggu (7/12) masih benar-benar terputus dari akses kendaraan. Tidak bisa dilalui roda dua maupun roda empat, beberapa wilayah bahkan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Di Kabupaten Tapanuli Utara, dua kecamatan – Adian Koting dan Parmonangan – menjadi titik paling sulit ditembus. Situasi lebih parah terjadi di Tapanuli Tengah dengan total 11 kecamatan yang terisolasi, di antaranya:
-
Sosor Gadong
-
Sorkam
-
Kolang
-
Sitahuis
-
Lumut
-
Badiri
-
Tukka
-
Pasaribu Tobing
-
Pinang Sori
-
Sibabangun
-
Tapian Nauli
Beberapa kecamatan menerima bantuan lewat helikopter, sementara lainnya bergantung pada dapur umum kecamatan karena distribusi langsung ke rumah warga tidak memungkinkan.
Kondisi ini membuat proses evakuasi, pendataan korban hilang, dan distribusi bantuan vital menjadi sangat lambat. Ketergantungan pada jalur udara dan perjalanan kaki menambah tekanan pada tim penyelamat, terutama TNI, yang turun langsung mengangkut logistik.
Peta Korban: 330 Jiwa Tewas di 12 Kabupaten/Kota
BPBD Sumut merinci sebaran korban meninggal sebagai berikut:
-
Tapanuli Tengah: 102 jiwa
-
Tapanuli Selatan: 85 jiwa
-
Sibolga: 53 jiwa
-
Tapanuli Utara: 36 jiwa
-
Humbang Hasundutan: 9 jiwa
-
Medan: 12 jiwa
-
Langkat: 11 jiwa
-
Deliserdang: 17 jiwa
-
Pakpak Bharat: 2 jiwa
-
Padangsidimpuan: 1 jiwa
-
Nias: 1 jiwa
-
Nias Selatan: 1 jiwa
Data ini diyakini belum final karena sejumlah wilayah terdampak masih sulit dijangkau.
Diskominfo Sumut juga mencatat data sebelumnya yang menunjukkan adanya 123 orang hilang, 647 luka-luka, dan lebih dari 37 ribu warga mengungsi.
Di Balik Banjir Terparah: Kondisi Lapangan yang Nyaris Lumpuh
Sudah hampir dua minggu pascabencana, tetapi puluhan desa masih dalam kondisi kritis. Infrastruktur runtuh, jalur darat terputus, dan cuaca buruk menghambat operasi penyelamatan.
Bahkan jalur darat menuju beberapa kecamatan di Tapanuli Tengah sepenuhnya hilang tersapu banjir. Upaya perbaikan terhalang curah hujan tinggi dan longsor susulan.
Dapur umum yang dikelola kecamatan menjadi tumpuan ribuan warga, namun persediaan bantuan terbatas. Pengiriman menggunakan helikopter juga tidak selalu bisa dilakukan akibat cuaca.
Keadaan ini menciptakan tekanan psikologis bagi warga, khususnya yang kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal.
Banjir besar di Sumut kali ini bukan hanya bencana alam biasa. Skala kerusakan dan jumlah wilayah yang terisolasi menyoroti rapuhnya infrastruktur, minimnya jalur alternatif, dan perlunya pembaruan sistem early warning.
Selain itu, keterlambatan akses bantuan memperlihatkan bahwa mitigasi bencana di wilayah-wilayah berbukit Sumut masih perlu pembenahan serius.
Situasi Sumut hari ini menjadi alarm keras:
bencana bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem, tetapi juga ujian kesiapan pemerintah dalam merespons keadaan darurat skala besar.