Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lampu Katanya Sudah 97 Persen Menyala, Tapi Aceh Masih Gelap! Warga Protes ke Bahlil

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 8 Desember 2025 | 00:30 WIB

Bahlil Lahadalia setelah resmi dilantik (19/8/2024).
Bahlil Lahadalia setelah resmi dilantik (19/8/2024).

RADAR KUDUS - Pemulihan jaringan listrik di Aceh terus menjadi sorotan setelah banjir dan longsor melumpuhkan sejumlah wilayah dalam dua pekan terakhir.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa hingga Minggu malam (7/12/2025), listrik di Aceh sudah menyala 97 persen. Pernyataan itu disampaikan saat ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau Jembatan Bailey Teupin Mane di Kabupaten Bireuen.

Malam ini nyala semua, Pak. Seluruh Aceh, 97 persen sudah menyala,” ujar Bahlil dalam siaran langsung Kompas TV.

Presiden Prabowo merespons dengan apresiasi. Ia menilai kinerja pemangku kepentingan berjalan maksimal dan saling menopang, mulai dari TNI–Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat di lapangan.

Bahkan, Prabowo langsung menunjuk KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak sebagai komandan satgas percepatan perbaikan jembatan yang rusak akibat bencana.

Namun, di balik laporan optimistis pemerintah, suara berbeda justru muncul dari banyak warga Aceh Besar dan Banda Aceh. Di medan nyata, terang tampaknya belum sepenuhnya kembali.

Warga: “Lampu Rumah Saya Masih Gelap, Pak Bahlil!”

Reza Munawir (39), warga Aceh Besar, adalah salah satu yang paling terdampak. Selama 12 hari berturut-turut, listrik di rumahnya tidak menyala sedikit pun.

Setiap kali perlu mengisi daya laptop atau ponsel untuk bekerja, Reza harus bolak-balik ke warung kopi. Itu pun penuh karena satu-satunya sumber listrik adalah genset.

Pak Bahlil, lampu di rumah saya belum menyala,” keluhnya, kecewa sekaligus lelah menghadapi situasi yang tak kunjung membaik.

Reza bahkan menyebut banyak rumah makan terpaksa tutup karena tidak sanggup beroperasi tanpa listrik dan air bersih. Beberapa titik di Aceh Besar gelap gulita setiap malam. Sementara sejumlah warkop berubah menjadi “ruang darurat penerangan” bagi warga.

Selain listrik, internet juga terganggu. Banyak mahasiswa harus menumpang wifi publik atau menunda mengerjakan tugas kuliah. Mobilitas warga terhambat. Kebutuhan pokok ikut terdampak.

Listrik Hidup Sebentar, Mati Lagi

Kondisi serupa juga dialami Dani Randi, warga Banda Aceh. Meski listrik di daerahnya sudah mulai menyala, sifatnya bergilir—hidup hanya sebentar dan kemudian padam lagi dalam waktu lama.

“Belum sempat istri masak, lampu sudah padam lagi,” ujarnya.

Karena mengelola usaha konveksi, Dani akhirnya membeli genset untuk mempertahankan operasional. Namun biaya operasional melonjak signifikan.

“Kami ingin usaha tetap berjalan, tapi boros sekali. Harapannya listrik segera benar stabil,” katanya.

Dani sempat optimistis ketika mendengar informasi bahwa listrik akan normal mulai Sabtu (6/12/2025). Tetapi hingga Minggu malam, situasi masih sama. Ia menunggu janji yang menurutnya “perlu bukti nyata, bukan sekadar laporan.”

Fira: “Tidak Bisa Masak, Air Tidak Mengalir, Hidup Benar-Benar Sulit”

Fira, warga Krueng Cut, Baet, menghadapi kombinasi paling berat: listrik padam, air PDAM tidak mengalir lebih dari sepekan, dan lingkungan gelap total tiap malam.

“Suami saya harus cari air ke masjid atau rumah saudara. Itu pun hanya cukup untuk kebutuhan darurat,” tuturnya.

Fira mengaku listrik dan air adalah kebutuhan dasar, dan ketiadaannya membuat kehidupan sehari-hari lumpuh. Ia tak bisa memasak dan terpaksa membeli makanan jadi, yang membuat pengeluaran membengkak.

“Saya hanya berharap satu: listrik cepat hidup. Hidup tanpa air dan cahaya itu bukan main beratnya,” ucapnya.

Presiden Turun Tangan, Satgas Dipercepat

Dalam kunjungannya ke Bireuen, Presiden Prabowo meminta aparat mempercepat pemulihan seluruh infrastruktur fisik, terutama jembatan yang rusak parah dan kini menjadi jalur logistik vital.

Ia menunjuk KSAD Jenderal Maruli sebagai kepala satgas perbaikan jembatan karena memiliki unit zeni, konstruksi, dan pasukan teritorial yang mumpuni. Prabowo menilai kolaborasi antarlembaga berjalan baik dan harus dituntaskan dengan cepat demi normalisasi aktivitas warga.

“Saya melihat semua instansi bekerja dengan baik, bahu-membahu. Polisi, tentara, pemerintah daerah, semuanya bergerak,” katanya.

Namun upaya ini baru terlihat di sisi infrastruktur jalan. Pada sektor listrik, warga masih menanti hasil nyata dari klaim pemulihan 97 persen.

Kontras Angka dan Kenyataan

Konflik antara data yang disampaikan pemerintah dan pengalaman langsung warga memunculkan pertanyaan besar: Apakah 97 persen benar-benar mencerminkan kondisi lapangan?
Sebab bagi banyak warga Aceh Besar dan Banda Aceh, klaim tersebut belum terasa sama sekali.

Sebagian besar warga merasa pemulihan memang berlangsung, tetapi tidak merata. Ada titik yang sudah terang, ada yang masih gelap total, ada pula yang hidup mati secara acak.

Di tengah kondisi pascabencana, transparansi data dan kejujuran situasi real-time sangat diperlukan agar warga tidak merasa ditinggalkan.

Harapan: Aceh Kembali Terang Sepenuhnya

Dari Fira yang berjuang mencari air, Dani yang terpaksa membeli genset, hingga Reza yang hidup 12 hari tanpa cahaya—semua kisah itu memotret satu harapan yang sama: Aceh ingin kembali normal secepat mungkin.

Listrik bukan sekadar lampu yang menyala, tetapi penopang aktivitas ekonomi, pendidikan, komunikasi, dan kebutuhan dasar. Pulihnya Aceh sepenuhnya akan menjadi tanda bahwa masa krisis telah benar-benar berlalu.

Editor : Mahendra Aditya
#Krisis listrik dan air Aceh #listrik Aceh #Bahlil Lahadalia listrik 97 persen #bahlil lahadalia