Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ketika Penampilan Menjadi Kekuasaan: Menelaah Beauty Privilege di Era Gen Z

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 5 Desember 2025 | 22:18 WIB
Photo
Photo

Radar Kudus - Isu kecantikan telah lama menjadi perbincangan, terutama di kalangan perempuan.

Cerita tentang standar kecantikan berkembang luas dan memengaruhi cara masyarakat memandang seseorang.

Meski tidak memiliki batasan yang benar-benar pasti karena sifatnya subjektif, konsep kecantikan tetap membentuk sudut pandang sosial.

Dalam KBBI, kata “cantik” digambarkan sebagai keindahan atau keelokan yang berkaitan dengan wajah dan penampilan perempuan.

Kini, perhatian terhadap penampilan semakin meningkat, terlihat dari menjamurnya layanan perawatan diri seperti salon, spa, pusat kebugaran, hingga klinik estetika.

Bagi generasi muda, khususnya perempuan Gen Z, penampilan sering menjadi ukuran yang menentukan rasa percaya diri.

Sebagian dari mereka menghubungkan self-image dengan kondisi fisik, termasuk bentuk tubuh.

Hal ini membuat banyak perempuan merasa perlu memperbaiki penampilan agar sesuai dengan standar ideal yang sering dipromosikan oleh lingkungan maupun media.

Di tengah situasi tersebut, muncul fenomena “beauty privilege”, yaitu keuntungan sosial yang cenderung diterima seseorang karena dianggap menarik secara fisik.

Baca Juga: Postur Semakin Memburuk? Kenali Kebiasaan yang Dapat Menyebabkan Skoliosis

Riset Daniel Hamermesh dalam bukunya Beauty Pays (2011) menunjukkan bahwa individu dengan daya tarik fisik di atas rata-rata sering memperoleh perlakuan lebih baik di banyak aspek kehidupan.

Dalam dunia pendidikan misalnya, adanya “halo effect” membuat seseorang yang terlihat menarik dianggap juga kompeten, meskipun tidak selalu demikian kenyataannya.

Di balik keuntungan yang diterima mereka yang memenuhi standar kecantikan, terdapat sisi lain yang perlu dicermati.

Mereka yang tidak masuk dalam kategori “menarik” versi masyarakat dapat mengalami ketidakadilan, seperti diskriminasi terselubung, rasa tidak percaya diri, dan kesulitan dalam membangun relasi sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa beauty privilege bukan sekadar istilah populer, tetapi fenomena nyata yang diperkuat oleh bukti.

Oleh karena itu, pemahaman tentang beauty privilege seharusnya menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil.

Penting untuk menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman fisik dan memastikan bahwa penilaian terhadap seseorang tidak hanya berdasarkan penampilan, tetapi juga kemampuan, karakter, dan kontribusi mereka.(laura)

Editor : Mahendra Aditya
#kepercayaan diri #Gen Z #penampilan #Beauty Privilage #Standar Kecantikan