RADAR KUDUS - Penggunaan artificial intelligence (AI) yang semakin masif di kalangan Gen Z ternyata tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko serius bagi kemampuan kognitif mereka.
Guru Besar UGM sekaligus pakar rekayasa perangkat lunak, Prof. Ridi Ferdiana, mengungkapkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat memicu fenomena yang ia sebut sebagai underload—kondisi ketika otak kurang terstimulasi sehingga kemampuan berpikir menurun.
Menurutnya, efek underload bisa menyerang aspek penting dalam fungsi otak seperti pemikiran kritis, kapasitas mengingat, hingga munculnya gejala brain rot.
Kebiasaan terlalu sering meminta jawaban dari AI membuat otak jarang dilatih untuk menganalisis mandiri.
Baca Juga: Gen Z Dominasi Penggunaan AI di Indonesia, Literasi Masih Jadi PR Besar
“Critical thinking dan kemampuan menghafal bisa merosot. Yang berbahaya adalah brain rot karena jadi malas berpikir dan apa-apa langsung bertanya ke AI,” jelasnya melalui laman resmi UGM
Ia memaparkan bahwa setiap kelompok usia memiliki cara berbeda dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan AI.
Generasi X dan baby boomers—yang disebutnya sebagai digital immigrant—biasanya hanya melihat AI sebagai alat bantu kerja, serupa dengan program produktivitas seperti Word atau Excel.
Sebaliknya, Gen Z justru memandang AI sebagai bagian dari rutinitas harian dan melekat pada hampir seluruh aktivitas mereka.
Sementara generasi milenial berada di posisi antara, karena sebagian besar hidup mereka dipengaruhi teknologi namun tidak sedekat Gen Z dalam hal ketergantungan.
Prof. Ridi juga mengamati adanya perubahan perilaku lintas generasi. Jika dulu orang mencari informasi melalui mesin pencari, kini banyak anak muda mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban instan.
Pergeseran ini tidak hanya menyentuh aspek teknologi, tetapi juga budaya kerja dan kebiasaan belajar.
Untuk menghindari dampak negatif, ia mendorong generasi muda agar menerapkan prinsip ERA (Esensial, Rating, Applicable) dalam literasi digital mereka.
-
Esensial: Dasar pengetahuan tetap perlu dicari dari sumber terpercaya seperti buku, bukan langsung mengandalkan AI.
-
Rating: Melatih kemampuan evaluasi diri dan pemikiran kritis sebelum meminta pendapat AI.
-
Applicable: Menggunakan AI sebagai alat bantu untuk menyempurnakan pekerjaan, setelah dua tahapan sebelumnya dipahami dengan baik.
Dengan pendekatan ini, AI diharapkan menjadi mitra yang membantu, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir.
“Generative AI itu partner, bukan pengganti kita dalam menyelesaikan masalah,” tegasnya.(laura)
Editor : Ali Mustofa