Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terungkap! Pakar IPB: Kayu Raksasa di Banjir Sumatera Bukan Alam, Tapi Ulah Manusia?

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 5 Desember 2025 | 01:29 WIB
Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor.
Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor.

Jakarta — Tumpukan gelondongan kayu yang berserakan setelah banjir bandang di berbagai wilayah Sumatera kembali memantik kegelisahan publik.

Muncul pertanyaan yang sama: dari mana asal semua batang kayu raksasa itu? Alamkah penyebabnya, atau ada sesuatu yang selama ini ditutup-tutupi?

 

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, menjawab kegelisahan itu dengan tegas.

Baca Juga: Data Terbaru BNPB: Korban Banjir Bandang Sumatera Terus Bertambah, 753 Meninggal, 650 Hilang

Menurutnya, karakter kayu-kayu yang terbawa banjir tidak menunjukkan ciri pohon tumbang alami.

Justru sebaliknya—semua indikasi mengarah pada aktivitas manusia yang merusak tatanan hutan.

Dalam penjelasan resminya, ia menegaskan, “Kayu-kayu besar yang ditemukan setelah banjir bukan sekadar pohon lapuk. Ada tanda-tanda jelas bahwa lapisan vegetasi di hutan telah rusak oleh campur tangan manusia.”

Prof Bambang memulai dengan penjelasan sederhana. Dalam kondisi alami, hutan memiliki mekanisme pertahanan sendiri. Pohon tumbang—jika terjadi pun—hanya satu atau dua, bukan puluhan bahkan ratusan batang sekaligus.

Menurutnya, sistem perakaran pohon tua yang kuat dan keberagaman vegetasi di lantai hutan membuat ekosistem tetap kokoh menghadapi cuaca ekstrem. Ketika satu pohon roboh, maka ruang yang tercipta segera diisi oleh regenerasi baru. Hutan pada dasarnya tidak membiarkan dirinya kosong.

Karena itu, temuan besar-besaran gelondongan kayu di Sumatera tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai bagian dari proses alami.

“Kalau pohon tumbang alami, jenisnya tidak seragam dan jumlahnya pun tidak sebanyak itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pohon yang jatuh karena usia atau badai biasanya memperlihatkan pola patahan yang berbeda dibandingkan kayu yang ditebang.

Menurut Prof Bambang, masalah utama muncul ketika pembalakan liar masuk ke kawasan hutan. Aktivitas ilegal ini tidak hanya menebang pohon, tapi turut merusak tajuk (kanopi) yang berfungsi seperti payung raksasa bagi ekosistem.

Pada hutan yang sehat, kanopi tertata berlapis. Daun-daun di bagian atas memecah butiran hujan, menghaluskannya sebelum mencapai permukaan tanah. Sedangkan lapisan di bawahnya—vegetasi rendah dan serasah—bertugas menyerap air dan mengendalikan alirannya.

Namun ketika kanopi terbuka karena ditebang, hujan turun langsung menghantam tanah. Laju air menjadi lebih cepat, erosi meningkat, tanah menjadi rapuh, dan banjir bandang mudah terjadi.

“Ketika celah di antara tajuk semakin terbuka akibat pembalakan, maka air hujan jatuh tanpa hambatan. Aliran air menjadi deras dan membawa apa saja yang ada di bawahnya, termasuk kayu-kayu besar,” jelas Prof Bambang.

Baca Juga: 75 Bonek Nekat Menembus Larangan, Siap Hadiri Duel Panas PSM vs Persebaya di Parepare

Ini berarti, gelondongan kayu yang menyerbu pemukiman bukan semata kiriman banjir, tetapi hasil dari hutan yang dilukai manusia.

Prof Bambang mengaitkan kejadian ini dengan beberapa kasus yang pernah ia tangani. Di Sumatera Utara beberapa tahun lalu, bencana serupa juga menunjukkan pola yang sama: kayu-kayu besar berhamburan setelah hujan besar.

Pada setiap kasus, temuan ilmiah mengarah pada satu titik: kerusakan vegetasi akibat aktivitas ilegal manusia.

“Hutan itu punya sistem pertahanan berlapis. Ketika lapisan-lapisan itu hilang, maka bencana tinggal menunggu waktu,” paparnya.

Ia mencontohkan bagaimana struktur tajuk yang rapat mampu memecah laju air hujan dan mengalirkannya perlahan melalui batang, sebuah mekanisme dikenal sebagai stem flow.

Tanpa mekanisme alami itu, air turun seperti tirai besar—deras dan menghantam tanah dengan kekuatan berlipat.

Lapisan vegetasi hutan bukan hanya sekadar pemandangan hijau. Ia adalah sistem kompleks yang telah Tuhan ciptakan sebagai penyangga kehidupan.

Baca Juga: Data Terbaru Korban Banjir Sumatra: 583 Meninggal, 553 Masih Hilang, Evakuasi 35.682 Jiwa

Mulai dari pepohonan raksasa hingga tumbuhan-tumbuhan kecil, semuanya bekerja dalam ritme yang teratur.

Prof Bambang menegaskan bahwa kehancuran sistem ini—entah melalui pembalakan liar, perambahan hutan, hingga penebangan massal—akan membuat bencana tak terhindarkan.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pasca banjir adalah konsekuensi dari rusaknya vegetasi oleh manusia,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa bencana bukan takdir semata. Perilaku manusia sering menjadi penyebab utama yang memperbesar skala kerusakan.

Kasus banjir dan kayu gelondongan di Sumatera membuka kembali urgensi evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan hutan.

Prof Bambang menilai pemerintah harus berani melacak dari mana kayu-kayu itu berasal dan siapa yang bertanggung jawab atas pembalakan liar.

Ia menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan kebetulan, melainkan akibat dari serangkaian aktivitas merusak yang berlangsung lama.

Editor : Mahendra Aditya
#banjir sumatera #kayu gelondongan #banjir Sumatera Utara #Banjir Sumatera Barat #pembalakan liar #kerusakan hutan #Pembalakan Liar Sumatera #pembalakan liar di Tapteng