RADAR KUDUS - Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra terus memperlihatkan wajah pilunya seiring akses menuju daerah terdampak yang perlahan terbuka.
Data terbaru yang dirilis Badan SAR Nasional (Basarnas) pada Selasa (2/12) pagi menunjukkan angka korban yang terus bertambah, menggambarkan skala tragedi yang sesungguhnya.
Update Korban: Angka yang Terus Bergerak Naik
Hingga pukul 10.00 WIB, Basarnas mencatat 35.682 orang telah berhasil dievakuasi dari tiga provinsi terdampak (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat).
Dari angka tersebut, 583 jiwa dinyatakan meninggal dunia, sementara 553 orang lainnya masih tercatat hilang dan dalam proses pencarian.
"Jumlah korban yang terevakuasi totalnya 35.682, dimana update untuk yang dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia 583 orang dan dilaporkan dalam pencarian 553 orang," jelas Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dalam rapat di DPR.
Baca Juga: Hitung-hitungan Pilu Pasca Banjir: Deforestasi untuk Tambang & Sawit Picu Kerugian Rp68,67 Triliun!
Penyebab Lonjakan Data: Daerah Terisolasi yang Akhirnya Terjangkau
Syafii menerangkan bahwa lonjakan signifikan dalam data korban terjadi karena banyak daerah yang sebelumnya terisolasi total akhirnya bisa diakses oleh tim gabungan.
Pemutusan infrastruktur jalan dan komunikasi sempat menyulitkan proses assesment dan pelaporan di hari-hari awal bencana.
"Kemarin penambahan (data) cukup banyak karena memang ada daerah-daerah yang baru terbuka dan ada akses komunikasi sehingga baru dilaporkan," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa gambaran awal mungkin belum mencerminkan keseluruhan situasi, dan angka korban bisa saja masih berpotensi berubah seiring perluasan operasi SAR.
Operasi Evakuasi: Helikopter Dikerahkan, Kendala Komunikasi Jadi Tantangan Utama
Basarnas telah mengerahkan pesawat helikopter di tiga titik lokasi bencana untuk mempercepat proses evakuasi korban yang terisolir dan mendistribusikan bantuan logistik. Namun, operasi udara ini sempat terkendala parah oleh terputusnya jaringan komunikasi di daerah-daerah terdampak.
"Andai saja komunikasi bisa tersambung, kemungkinan besar kita dengan heli masih bisa mengirimkan tim aju. Namun karena kemarin terisolasi, komunikasi tidak ada, begitu terbuka baru ada informasi tambahan korban," papar Syafii. Kendala ini menyoroti betapa rapuhnya infrastruktur pendukung ketika menghadapi bencana skala besar.
Wilayah Terdampak dan Penyebab Bencana
Bencana hidrometeorologi ini terutama melanda:
-
Aceh: Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Tenggara.
-
Sumatera Utara: Binjai, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan.
-
Sumatera Barat: Padang, Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Solok, Pesisir Selatan.
Penyebab utamanya adalah hujan ekstrem yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, fenomena cuaca yang langka di wilayah khatulistiwa dan diduga terkait dengan perubahan iklim.
Kombinasi faktor alam ini dengan kerusakan lingkungan di daerah hulu (seperti penyempitan daerah aliran sungai) memperparah dampak yang terjadi.
Operasi SAR masih terus berlangsung dengan intensif. Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus berupaya menjangkau lokasi-lokasi terpencil, mengevakuasi korban, dan mendistribusikan bantuan.
Data korban yang terungkap perlahan ini adalah pengingat pahit akan dahsyatnya bencana dan mendesaknya upaya penanganan serta pemulihan yang komprehensif.
Editor : Mahendra Aditya