RADAR KUDUS - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, termasuk Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, telah menimbulkan kerugian besar dengan mencatatkan lebih dari 442 korban jiwa per 30 November 2025, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Tingginya intensitas dan kerusakan yang ditimbulkan memunculkan pertanyaan mendasar mengenai faktor-faktor penyebabnya.
Para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengidentifikasi tiga faktor utama yang berinteraksi, menyebabkan bencana ekstrem ini.
Baca Juga: Bukan Sekadar Banjir: Mengenal 'Hujan Abadi' yang Mengguncang Planet Kita di Zaman Dinosaurus
1. Puncak Musim Hujan dan Curah Ekstrem
Faktor penyebab pertama adalah tingginya curah hujan, seiring wilayah Sumatra yang sedang berada pada puncak musim hujan.
Pakar meteorologi dari ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa Sumatera bagian utara memiliki pola hujan dua puncak dalam setahun, dan saat ini sedang mencapai puncaknya.
"Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan... dan saat ini berada pada puncaknya," ungkap Rais, dikutip dari laman ITB pada Sabtu (29/11/2025).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa curah hujan di Pulau Sumatra telah mencapai 150–300 milimeter, yang tergolong dalam kategori hujan ekstrem.
2. Penguatan Fenomena Sirkulasi Siklonik
Kondisi cuaca ekstrem ini diperparah oleh adanya pusaran udara atau sirkulasi siklonik di sekitar Sumatra bagian utara. Fenomena ini berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, yang terbentuk di sekitar Selat Malaka dan bergerak ke barat.
Menurut Dr. Rais, sistem ini sudah mulai terlihat sejak 24 November. Meskipun tidak sekuat siklon di Samudra Pasifik atau Hindia, fenomena ini signifikan mendorong pembentukan awan hujan.
Selain itu, adanya vortex (pusaran angin kuat) membawa massa udara lembap dari utara yang memperkuat pembentukan awan, berkontribusi besar terhadap tingginya curah hujan.
Baca Juga: SIMAK! Fakta-Fakta Terbaru Banjir Bandang dan longsor di Pulau Sumatra
3. Degradasi Lingkungan dan Penurunan Daya Tampung
Faktor ketiga yang menjadi penentu parahnya dampak bencana adalah kerusakan lingkungan dan menurunnya daya tampung wilayah.
Dr. Heri Andreas S.T., M.T., Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, menjelaskan bahwa bencana banjir bandang menjadi sangat parah karena daya serap air di kawasan tersebut telah berkurang drastis.
"Saat presipitasi turun, Proporsi [air yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan yang mengalir di permukaan (runoff)] sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah," jelas Heri.
Pengamatan menunjukkan adanya alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan permukiman.
Hilangnya kawasan penahan air alami ini menyebabkan air hujan mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir bandang, bukan terserap ke dalam tanah.
Untuk mitigasi jangka panjang, Heri menekankan pentingnya penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial.
Sementara itu, Dr. Rais menambahkan perlunya peringatan dini cuaca yang akurat serta peningkatan literasi kebencanaan dan edukasi publik untuk meminimalisir dampak musibah di masa depan. (*)
Editor : Mahendra Aditya