Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

‘Saya Tak Mengira Sebesar Ini’ — Pengakuan Mengejutkan Kepala BNPB Soal Banjir Sumatra

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 2 Desember 2025 | 02:22 WIB

Kepala BNPB Suharyanto
Kepala BNPB Suharyanto

RADAR KUDUS - Kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, ke wilayah Tapanuli Selatan berubah menjadi momen yang menyentuh sekaligus penuh kejujuran.

Saat menapaki tanah becek di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Minggu (30/11), ia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat skala kerusakan yang lebih besar dari laporan yang sebelumnya diterimanya.

Dengan raut serius yang jarang terlihat dalam kunjungan resmi, Suharyanto mengakui bahwa bencana banjir di Tapanuli Selatan mencapai tingkat yang tak ia perkirakan. “Saya surprise, saya benar-benar tidak mengira sebesar ini,” tuturnya sambil menatap hamparan reruntuhan yang ditinggalkan air bah.

Dalam kesempatan itu, ia juga memohon maaf kepada Bupati Tapsel. “Saya mohon maaf, Pak Bupati.

Bukan berarti kami tidak peduli,” ucapnya, sebuah pernyataan yang langsung menyita perhatian publik karena jarang sekali muncul dari pejabat setingkat pimpinan BNPB.

Baca Juga: Gelandang Persiraja Menangis di Tengah Banjir Bandang: Lima Hari Tanpa Kabar Anak dan Istri!

Derita Warga Bagaikan Luka Terbuka

Dari kejauhan, sisa-sisa banjir masih terlihat jelas. Pohon tumbang, material rumah berserakan, dan jalan setapak berubah menjadi lumpur pekat. Warga yang kehilangan tempat tinggal tampak masih kebingungan mencari barang-barang yang mungkin tersisa.

Suharyanto tidak menutupi perasaannya. “Kita meneteskan air mata melihat penderitaan masyarakat,” katanya sambil menghela napas panjang. Ia menyoroti tiga wilayah yang memerlukan penanganan ekstra cepat: Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan—tiga titik merah yang dampaknya paling parah dalam rangkaian banjir yang melanda Sumatra Utara.

Kedatangannya juga menunjukkan bahwa situasi sebenarnya di lapangan sering kali jauh berbeda dibanding apa yang tampak di media sosial.

“Memang terlihat mencekam, tetapi setelah kami tinjau langsung, banyak daerah sudah tidak hujan,” jelasnya.

Namun, realita kerusakan masih tetap masif, terutama di Tapanuli Tengah yang hingga kini masih dalam status kritis.

Baca Juga: Google Rilis Peringatan Darurat Banjir Sumatera: Cek Status Wilayah Anda Dalam Hitungan Detik

Sorotan Publik dan Kontroversi Sebelumnya

Permohonan maaf ini muncul hanya beberapa hari setelah pernyataan Suharyanto menjadi bahan perdebatan publik.

Dalam konferensi pers sebelumnya, ia menegaskan bahwa rangkaian bencana di Sumatra belum memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai bencana nasional.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia hanya dua kali menetapkan status tersebut: Tsunami 2004 dan Covid-19.

Pernyataan ini memicu diskusi hangat, karena sebagian masyarakat menilai dampak banjir Sumatra sudah sangat luas dan merenggut banyak korban.

Komentar itu kemudian dibandingkan dengan kondisi lapangan yang viral di media sosial, di mana warga terlihat berjuang di tengah arus banjir, rumah hanyut, hingga relawan yang kewalahan.

Kini, setelah melihat sendiri kondisi sebenarnya, pernyataan terbarunya dianggap sebagai bentuk klarifikasi sekaligus penegasan bahwa penanganan bencana masih harus ditingkatkan.

Mengapa Tapsel Jadi Titik Paling Parah?

Wilayah Tapanuli Selatan selama ini dikenal memiliki kontur geografis yang kompleks: kombinasi perbukitan dan area rendah yang rentan menjadi kantong-kantong air. Hujan ekstrem yang terus menerus sejak akhir November menyebabkan debit air naik drastis.

Di beberapa titik, volume air tidak hanya meluap, tetapi menghanyutkan rumah dan memutus akses antar desa. Kondisi ini diperparah dengan minimnya ruang resapan di area tertentu dan tanah yang mudah longsor.

BNPB menyoroti bahwa daerah-daerah ini kini membutuhkan penanganan jangka pendek dan jangka panjang:

• Evakuasi korban dan akses bantuan
• Pembuatan jalur distribusi darurat
• Pendataan kerusakan infrastruktur
• Pembangunan kembali titik rawan

Harapan Warga dan Tugas Berat Pemerintah

Meski permintaan maaf Kepala BNPB diapresiasi banyak pihak, masyarakat tetap menantikan langkah nyata penanganan yang lebih cepat dan sistematis.

Bantuan logistik mulai berdatangan, tetapi akses ke beberapa wilayah masih sulit karena jalan yang rusak berat.

Pekerjaan besar menanti pemerintah pusat dan daerah: memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, memperbaiki infrastruktur vital, dan mengurangi risiko bencana berulang.

Warga berharap bahwa kejadian ini bukan hanya dicatat sebagai “kejutan” bagi pejabat, tetapi menjadi alarm serius untuk memperbaiki sistem mitigasi bencana di masa depan.

Seorang warga Aek Garoga bahkan menyampaikan, “Kami tidak butuh janji—yang kami butuh sekarang adalah kehadiran pemerintah sampai situasi benar-benar pulih.”

Langkah Selanjutnya

BNPB menyatakan akan menambah tim di lapangan dan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah. Fokus utama dalam beberapa hari ke depan adalah:

• Memastikan tidak ada korban yang terisolasi
• Mempercepat pendistribusian makanan dan obat-obatan
• Menata kembali wilayah yang dihantam banjir

Suharyanto menegaskan, “Kami tidak akan meninggalkan masyarakat Sumatra. Ini tanggung jawab kami.”

Editor : Mahendra Aditya
#Kepala BNPB Suharyanto #Banjir Tapanuli Selatan #bencana nasional #Banjir Sumatra Utara #bencana banjir #Banjir Sumatra 2025 #kepala bnpb