Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

“Empat Hari Tak Makan”: Teriakan Warga Silungkang Agam Saat Bantuan Tak Kunjung Datang

Ali Mustofa • Senin, 1 Desember 2025 | 21:20 WIB
BNPB memperbarui data korban meninggal dunia di Kabupaten Agam, Sumbar. Pada Sabtu (29/11) sebanyak 74 korban meninggal dunia sudah terdata di Kabupaten Agam.
BNPB memperbarui data korban meninggal dunia di Kabupaten Agam, Sumbar. Pada Sabtu (29/11) sebanyak 74 korban meninggal dunia sudah terdata di Kabupaten Agam.

RADAR KUDUS – Serangkaian bencana alam berupa tanah longsor hingga banjir kembali mengguncang Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Situasi tersebut membuat sejumlah wilayah memasuki fase darurat kemanusiaan.

Warga di Jorong Silungkang, Kampung Aua, dan Kampung Lansek, Nagari Tigo Koto Silungkang, melaporkan bahwa mereka telah empat hari menghadapi kesulitan mendapatkan makanan.

Baca Juga: Aceh Tengah Krisis Energi, Panic Buying BBM Lumpuhkan Penanganan Bencana

Akses jalan yang terputus serta dugaan ketimpangan pembagian bantuan membuat kondisi menjadi semakin genting.

Keluhan masyarakat semakin ramai terdengar setelah beras yang diminta warga disebut tidak diizinkan disalurkan oleh Wali Nagari Tigo Koto Silungkang.

Bantuan disebut lebih dulu diarahkan ke Nagari Salareh Aia sehingga sejumlah warga di nagari sendiri merasa terabaikan.

Kebijakan itu memicu keprihatinan mendalam karena warga di titik bencana telah berhari-hari menahan lapar.

“Tolong Pak, masyarakat Silungkang, Kampung Aua, dan Kampung Lansek sudah empat hari tidak makan,” kata Winda, seperti diberitakan Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Senin (12/1).

Winda menegaskan bahwa dalih prioritas bantuan tidak bisa diterima, mengingat kebutuhan pangan warga di nagarinya sendiri belum terpenuhi.

Ia juga mempertanyakan alasan penyaluran yang dinilai tidak adil.

Baca Juga: Dua Sahabat di Perjalanan Hidup: Perasaan yang Membimbing, Percaya Diri yang Menguatkan

“Tidak bisa kalau warga Koto Alam didahulukan, sementara kami di sini belum makan. Jalan menuju kampung kami pun terputus,” ucapnya.

Kondisi warga kian memprihatinkan. Puji, warga Jorong Silungkang lainnya, mengungkapkan bahwa mereka kini hanya bisa menyiasati apa pun yang tersisa untuk bertahan hidup.

“Syukur alhamdulillah, walaupun tidak ada kayu dan api, ubi masih bisa kami makan mentah. Itu saja yang masih tersisa,” ungkapnya.

Keluhan serupa juga datang dari warga lain yang mulai mempertanyakan lambatnya reaksi dari pemerintah serta pihak nagari.

“Apa harus ada yang meninggal dulu, baru kita diperhatikan?” ujar seorang warga.

Baca Juga: Sembilan Tangga Kehidupan ala Pertanian: Percaya Diri sebagai Pondasi Pertumbuhan Hidup

Menanggapi aduan tersebut, Camat Palembayan, Sabirun, menyampaikan akan langsung meneruskan laporan itu kepada pihak nagari.

“Terima kasih informasinya, segera kita sampaikan ke Wali Nagari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Agam, Reza Syafdefianti, turut mengonfirmasi bahwa persoalan tersebut akan segera diingatkan kepada pihak terkait.

“Masalah ini akan kami ingatkan,” tuturnya singkat.

Editor : Ali Mustofa
#akses jalan #bantuan #banjir #agam #tanah longsor