RADAR KUDUS – Penyebab pasti kebakaran besar yang melanda kawasan Tai Po, Hong Kong, dan menewaskan sedikitnya 44 orang hingga kini belum dipastikan.
Meski demikian, sejumlah dugaan mulai bermunculan sejak Rabu (27/11) malam, ketika api masih belum benar-benar padam dan proses investigasi resmi masih berlangsung.
Menurut laporan South China Morning Post (SCMP), Kamis (27/11), para pakar serta warga menilai insiden ini mungkin dipicu oleh kombinasi berbagai faktor.
Baca Juga: Tragedi Tai Po: Kebakaran Terburuk Hong Kong dalam 50 Tahun, Tewaskan 44 Orang, Ratusan Masih Hilang
Mulai dari sifat perancah bambu yang tidak sepenuhnya tahan api, serpihan material terbakar yang beterbangan tertiup angin, hingga laporan adanya pekerja renovasi yang merokok di area proyek.
Kebakaran mulai terlihat sebelum pukul 15.00 waktu setempat dan dengan cepat meningkat menjadi alarm level No. 5, kategori peringatan tertinggi.
Api merambat dari satu blok ke enam blok lainnya di komplek Wang Fuk Court yang saat itu tengah dalam tahap renovasi dan seluruh bangunannya diselimuti perancah serta jaring pelindung.
Gary Au Gar-hoe, juru bicara divisi rekayasa kebakaran di Hong Kong Institute of Engineers, menjelaskan bahwa perancah bambu tidak dirancang untuk mampu sepenuhnya menahan api.
“Meski jaring yang dipasang berlapis bahan penahan api, perancah tetap dapat terbakar,” terangnya. Ia menambahkan bahwa intensitas panas radiasi dari api dapat membuat bangunan di sekitarnya ikut tersulut.
“Jika di sekitar perancah terdapat material yang mudah terbakar seperti kayu, koran, atau cat, api dapat berkembang cepat seperti yang kita saksikan hari ini,” tambahnya.
Au mengungkapkan bahwa skala kebakaran ini menunjukkan kemungkinan adanya kekurangan pada bahan keselamatan, manajemen proyek, ataupun kedisiplinan para pekerja.
Baca Juga: Teaser “Esok Tanpa Ibu”: Ketika Duka Anak Dipeluk Kembali Lewat Teknologi AI
Regulasi memang mengatur penggunaan bahan berlapis penahan api pada jaring, namun dalam kondisi tertentu, materi tersebut tetap dapat terbakar.
“Tahan api bukan berarti tidak dapat tersulut,” jelasnya.
Kondisi angin sore hari turut memperluas sebaran api. Rekaman di lokasi memperlihatkan serpihan yang terbakar jatuh dari lantai atas dan tertiup ke blok lain, sehingga perancah di gedung sebelah ikut terbakar.
Sebagian warga juga menyoroti perilaku pekerja renovasi. Kenny Tam, seorang karyawan ritel, mengatakan bahwa renovasi telah berlangsung satu tahun, dengan keluhan tentang pekerja yang merokok muncul sejak enam bulan lalu.
“Banyak yang mengatakan mereka sering melihat pekerja merokok. Keluhannya sudah lama,” ujarnya.
Baca Juga: Penanganan Sampah di Kudus Kian Nyata, Mesin RDF Sudah 85 Persen Beroperasi Awal Tahun
Kwong Pui-lun, mantan ketua asosiasi pemilik Wang Fuk Court, juga mengaku pernah melihat pekerja membuang puntung sembarangan.
Sementara itu, Deputi Direktur Dinas Pemadam, Derek Armstrong Chan, menjelaskan bahwa suhu ekstrem dalam gedung menghambat operasi petugas.
“Puing dan perancah yang jatuh juga meningkatkan risiko bagi pemadam,” jelasnya.
Au kembali menambahkan bahwa panas radiasi menciptakan kondisi seperti “oven” yang membungkus dinding luar bangunan, sehingga memicu barang-barang di dalam unit ikut terbakar.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk menemukan penyebab utama dari salah satu kebakaran paling fatal di Hong Kong dalam beberapa dekade.
Dalam perkembangan terbaru, polisi Hong Kong menahan tiga pejabat konstruksi menyusul insiden tersebut, setelah jumlah korban meninggal dikonfirmasi mencapai sedikitnya 44 orang.
Lebih dari 270 penghuni masih belum ditemukan, sementara petugas pemadam terus berupaya menjangkau unit-unit yang terjebak di balik sisa perancah.
Mengutip New York Times, Kamis (27/11), ketiga orang yang ditahan adalah dua direktur perusahaan konstruksi serta satu konsultan berusia 52–68 tahun.
Baca Juga: Profil Tristan Molina: Aktor Tampan Viral yang Disebut Pacar Baru Olla Ramlan
Mereka dituduh melakukan pembunuhan tanpa rencana setelah ditemukan material bangunan yang tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran.
Lai Yee Chung, pejabat senior kepolisian, mengungkapkan bahwa investigasi awal menemukan penggunaan papan busa yang mudah terbakar pada area luar jendela lobi lift di setiap lantai salah satu blok.
“Ada indikasi kelalaian serius dari pihak konstruksi, yang menyebabkan kebakaran ini menyebar begitu cepat,” ujarnya.
Kebakaran sendiri terjadi sekitar pukul 14.50 waktu setempat sebelum merambat ke sejumlah menara lain.
Kompleks Wang Fuk Court, yang berdiri sejak awal 1980-an dan berisi lebih dari 2.000 unit, saat itu tengah dipenuhi perancah bambu untuk renovasi.
Baca Juga: Five Nights at Freddy’s 2: Sekuel Gelap yang Bongkar Misteri Terdalam Freddy Fazbear’s
Asap tebal menyelimuti distrik Tai Po ketika api merayap melalui jaring pelindung dan perancah yang melingkupi gedung.
Otoritas menerima banyak panggilan darurat, termasuk laporan dari kelompok warga yang mencari anggota keluarga mereka.
“Lebih dari 10 warga mengatakan anggota keluarga mereka masih berada di dalam gedung,” ujar mantan anggota dewan distrik, Herman Yiu Kwan-ho.
Lebih dari 1.200 petugas pemadam dikerahkan. Sekitar 900 penduduk dievakuasi ke pusat penampungan sementara di balai komunitas dan sekolah sekitar.
Banyak warga lansia yang harus dipandu turun dari gedung menuju lokasi aman.
Upaya penyelamatan pun terhambat oleh suhu tinggi dan jatuhnya puing perancah.
Derek Armstrong Chan mengatakan bahwa dua mobil pemadam hanya dapat menyemprot air hingga setengah tinggi menara 32 lantai, sedangkan api di bagian atas jauh lebih sulit dijangkau.
Penggunaan perancah bambu kembali menjadi sorotan publik. Pemerintah Hong Kong telah mengkaji rencana pengurangan penggunaan perancah bambu dan menggantinya dengan scaffolding baja yang lebih aman.
Baca Juga: Pembelaan Pihak Pendemo 13 Agustus di Pati, Munaji Hanya Terprovokasi Membakar Mobil Provos
Pada Oktober lalu, kebakaran di sebuah perkantoran juga membesar akibat perancah bambu.
Kompleks Wang Fuk Court dihuni oleh banyak keluarga multigenerasi dan warga lanjut usia, membuat proses evakuasi semakin rumit.
Hong Kong diketahui memiliki populasi lansia dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan hampir seperempat penduduknya berusia di atas 65 tahun.
Pemerintah menegaskan bahwa investigasi dilakukan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan ulang standar bahan bangunan pada berbagai proyek lain di kota tersebut.
Menurut Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, gugus tugas gabungan kepolisian dan dinas pemadam telah dibentuk untuk menelusuri asal mula kebakaran serta memastikan akuntabilitas pihak-pihak terkait.
Editor : Ali Mustofa