RADAR KUDUS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data terkini mengenai potensi bencana geologi di Indonesia.
Lembaga tersebut mencatat terdapat 13 zona megathrust yang membentang di wilayah Tanah Air, dua di antaranya kini berstatus menunggu waktu untuk melepaskan energinya.
Pernyataan BMKG ini merujuk pada kondisi geologis, bukan prediksi waktu gempa. Lembaga tersebut dengan tegas membantah adanya kemampuan meramal kapan kedua zona tersebut akan memicu bencana gempa bumi hingga tsunami besar.
Baca Juga: Ini Lokasi Potensi Gempa Megathrust Terbesar di Indonesia. Dimana?
"Tinggal menunggu waktu, bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat," tulis BMKG melalui akun resmi Instagram mereka.
Menurut BMKG, istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi.
Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No 31 Tahun 2009 yang menugaskan BMKG untuk bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi terkait gempa bumi dan tsunami.
Ancaman Seismic Gap dan Kesiapsiagaan Dini
Kewaspadaan ini ditekankan mengingat beberapa segmen aktif telah ratusan tahun tidak melepaskan energi. Contohnya, segmen megathrust di Selat Sunda yang terakhir melepaskan gempa pada tahun 1757, serta segmen Mentawai-Siberut yang belum aktif sejak gempa tahun 1797.
"Kondisi ini dikenal sebagai seismic gap, yaitu wilayah yang secara geologis menyimpan potensi besar karena lama tidak melepaskan energi.
Jadi, meskipun belum terjadi, potensi itu nyata dan harus kita waspadai," imbau BMKG, menekankan pentingnya mengenali potensi megathrust sebagai langkah awal kesiapsiagaan.
Baca Juga: 16 Zona Megathrust Kelilingi Indonesia, Ini Daftarnya!
Secara terpisah, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa zona megathrust merupakan zona patahan besar di batas lempeng tektonik, tempat lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua.
"Kedua lempeng di zona ini akan saling menekan dengan kekuatan sangat besar, sehingga akan menyimpan energi elastik dalam jumlah besar," terang Daryono.
Istilah 'mega' merujuk pada area yang sangat luas dan panjang, mencapai ratusan hingga ribuan kilometer.
Sementara 'thrust' berarti dorongan naik, di mana lempeng atas terdorong secara vertikal akibat tekanan yang terkunci dalam waktu lama.
"Saat bidang kontak ini patah secara tiba-tiba, terjadi pergeseran vertikal di dasar laut, melepaskan energi gempa sangat besar (>M8) dan dapat memicu tsunami dahsyat," ujar Daryono melalui akun X pribadinya.
Indonesia sendiri dikelilingi oleh tiga lempeng utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia, yang memicu adanya 13 segmen megathrust potensial dan 295 segmen sesar aktif yang telah teridentifikasi, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan gempa.
13 Segmen Megathrust dan Potensi Magnitudo
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017, berikut adalah 13 segmen megathrust yang mengancam wilayah Indonesia beserta potensi magnitudo gempanya:
-
Megathrust Aceh-Andaman: Berpotensi gempa hingga Magnitudo (M) 9,2.
-
Megathrust Mentawai-Pagai: Berpotensi gempa hingga M8,9.
-
Megathrust Mentawai-Siberut: Berpotensi gempa hingga M8,9.
-
Megathrust Selat Sunda: Berpotensi gempa hingga M8,7.
-
Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah: Berpotensi gempa hingga M8,7.
-
Megathrust Jawa Timur: Berpotensi gempa hingga M8,7.
-
Megathrust Nias-Simeulue: Berpotensi gempa hingga M8,7.
-
Megathrust Papua: Berpotensi gempa hingga M8,7.
-
Megathrust Sumba: Berpotensi gempa hingga M8,5.
-
Megathrust Sulawesi Utara: Berpotensi gempa hingga M8,5.
-
Megathrust Enggano: Berpotensi gempa hingga M8,4.
-
Megathrust Filipina: Berpotensi gempa hingga M8,2.
-
Megathrust Batu: Berpotensi gempa hingga M7,8.
Editor : Mahendra Aditya