Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bedah Buku KH Baidlowi Lasem di Perpusda Rembang, Jadi Langkah Awal Pengusulan Jadi Pahlawan Nasional

Ali Mahmudi • Rabu, 26 November 2025 | 01:43 WIB

 

WISNU AJI/RADAR KUDUS DISKUKSI: Pelaksanaan bedah buku KH Baidlowi Lasem oleh narasumber didampingi moderator di aula Perpusda Rembang kemarin.
WISNU AJI/RADAR KUDUS DISKUKSI: Pelaksanaan bedah buku KH Baidlowi Lasem oleh narasumber didampingi moderator di aula Perpusda Rembang kemarin.
 

REMBANG - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang menggelar bedah buku biografi KH Baidlowi Lasem bertajuk “Pencetus Gelar Soekarno: Huwaa Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah” di aula Perpusda) Rembang, Senin (24/11).

Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju pengusulan KH Baidlowi Lasem sebagai pahlawan nasional.

Acara yang dihadiri ratusan undangan dari berbagai kalangan itu menghadirkan dua narasumber kunci: KH Abdul Aziz Mas’ud (tokoh agama nasional) dan K. Amirul Ulum (penulis buku). Bertindak sebagai moderator, KH Sholahuddin Fatawi.

Hadir pula perwakilan OPD teknis seperti Dinas Sosial PPKB, Dindikpora, Dinbudpar, Kemenag Rembang, para camat, ormas Islam (NU dan Muhammadiyah), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta keluarga besar KH Baidlowi Lasem.

Kepala Dinarpus Rembang, Ahmad Sholchan menyatakan bahwa KH Baidlowi Lasem adalah tokoh yang memiliki tiga keunggulan luar biasa: keilmuan agama yang mendalam, nasionalisme yang tinggi, serta keteladanan dalam menjaga toleransi beragama.

“Beliau adalah sosok yang sangat layak diteladani, terutama oleh generasi muda Rembang. Keilmuannya tidak diragukan, nasionalismenya terbukti, dan sikap toleransinya menjadi warisan berharga,” ujar Sholchan.

Sholchan menegaskan bahwa bedah buku ini merupakan ikhtiar awal mendukung niat keluarga dan masyarakat untuk mengusulkan KH Baidlowi Lasem sebagai pahlawan nasional.

“Salah satu syarat pengusulan gelar pahlawan nasional adalah adanya seminar atau kegiatan ilmiah yang membahas jasa-jasanya.

Hari ini mungkin belum memenuhi skala nasional, tetapi ini menjadi langkah pertama yang sangat penting,” imbuhnya.

Sementara itu, KH Ahfas Faishol — pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem sekaligus keturunan langsung KH Baidlowi — menyampaikan rasa bangga dan haru atas digelarnya bedah buku ini.

“Kami menggelar acara ini pertama untuk mencari berkah, kedua agar masyarakat memahami teladan yang diberikan Mbah Baidlowi sepanjang hidupnya,” tutur Gus Ahfas, sapaan akrabnya. (noe/ali)

Terkait wacana pengusulan gelar pahlawan nasional, Gus Ahfas menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat dan pemerintah.

“Kalau memang dianggap layak dan diusulkan secara bersama-sama, kami keluarga sangat mendukung. Tapi kami tidak pernah memasang target atau memaksa. Yang penting perjuangan dan teladan beliau terus dikenang,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti peran besar KH Baidlowi Lasem dalam perjuangan kemerdekaan, khususnya fatwa legendarisnya yang memberikan legitimasi syar’i kepada Ir. Soekarno untuk memimpin perjuangan dengan kewenangan penuh (waliyyul amri adh-dharuri bisy-syaukah) di masa genting.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Rembang serius mengawal salah satu putra terbaiknya menuju pengakuan sebagai pahlawan nasional. (noe/ali)

Editor : Mahendra Aditya
#harno hanies #lasem kota pusaka #KH Baidlowi Lasem #pondok pesantren #pahlawan nasional #lasem #kabupaten rembang