RADARKUDUS - Siapa sangka, kendaraan sederhana yang dulu jadi ikon jalanan Indonesia kini malah mendapat napas baru di Eropa.
Namanya Chat Rickshaw Bike, becak versi modern buatan perusahaan Belanda van Raam, lengkap dengan bantuan motor listrik dan desain futuristik.
Bentuknya mirip becak, tapi tampilan elegan: dudukan penumpang empuk di depan, pengayuh di belakang, dan motor elektrik yang membantu tenaga kayuhan.
Di Belanda, kendaraan ini dipromosikan sebagai ramah lingkungan, inklusif, dan berbudaya. Sementara di Indonesia, becak justru kerap dianggap penghambat lalu lintas.
Ironi? Jelas. Kendaraan yang di negeri asalnya diburu petugas Satpol PP, justru di negeri kincir angin dijadikan simbol kemajuan transportasi hijau.
Chat Rickshaw Bike bahkan dipasarkan sebagai sarana wisata berkelas untuk lansia, turis, atau komunitas sosial yang ingin menikmati udara kota tanpa polusi.
Harga satu unitnya bisa mencapai lebih dari Rp150 juta, lengkap dengan motor elektrik hibrida, sistem pengereman canggih, dan garansi pabrik.
Becak, yang di Indonesia sering diasosiasikan dengan kemiskinan, kini di Belanda jadi simbol inovasi ramah lingkungan.
Perusahaan van Raam memang dikenal fokus mengembangkan sepeda khusus untuk penyandang disabilitas dan lansia.
Dalam situs resminya, Chat Rickshaw Bike disebut sebagai kendaraan social e-bike dirancang agar dua orang bisa duduk santai di depan sambil diajak berkeliling kota.
Sang pengayuh tetap mengayuh seperti becak biasa, tetapi dengan bantuan motor listrik yang membuatnya ringan, senyap, dan tanpa polusi.
Slogan produk menuliskan bahwa dapat bersepeda bersama tanpa kelelahan, berbagi cerita di jalan.
Coba bandingkan dengan nasib pengayuh becak di Indonesia, yang lebih sering berkeringat, terjebak panas dan debu, dan terkadang harus berurusan dengan razia karena mengganggu ketertiban kota.
Becak di Indonesia sebenarnya punya sejarah panjang. Ia bukan sekadar alat transportasi, tapi simbol kehidupan urban sejak awal abad ke-20.
Di Yogyakarta, becak sempat menjadi bagian penting dari ekonomi rakyat , alat mobilitas murah untuk warga, sekaligus ikon wisata.
Di Surabaya, becak menjadi saksi lahirnya kawasan niaga. Namun di era modern, statusnya menurun drastis.
Becak mulai dilarang di Jakarta sejak era Gubernur Ali Sadikin, dianggap tidak sesuai dengan wajah kota modern.
Sejak itu, becak pelan-pelan menghilang dari jalan raya, tersisih oleh motor dan angkot.
Padahal, di sisi lain dunia, model serupa justru bermunculan, dari trishaw di Singapura, tuk-tuk listrik di Bangkok, hingga pedicab di Amsterdam yang kini versi listriknya viral di media sosial.
Mungkin disinilah letak ironi kita sebagai bangsa: terlalu cepat membuang hal-hal yang dianggap kampungan, sebelum sempat melihat potensinya di masa depan.
Saat Belanda melihat becak sebagai konsep transportasi berkelanjutan, kita justru sibuk menyingkirkannya demi citra modern.
Padahal kalau dipikir, becak adalah moda transportasi paling ramah lingkungan yang pernah kita punya.
Tak butuh bahan bakar, tak menghasilkan emisi, dan nyaris nol karbon. Tapi kita malah menghapusnya, bukan mengadaptasinya.
Bayangkan jika Indonesia mau meniru langkah Belanda, bukan meniru secara desain, tapi secara filosofi, memperbarui yang lama tanpa menghapus identitasnya.
Kita bisa punya becak listrik nasional, diproduksi oleh UMKM dengan komponen lokal, digunakan untuk pariwisata, dan dijadikan bagian dari transportasi hijau di kota-kota heritage seperti Yogyakarta, Solo, atau Malang.
Tapi sayangnya, wacana seperti ini sering kandas sebelum dimulai. Kita lebih sibuk membuat proyek mobil listrik miliaran, padahal ide sederhana seperti becak hybrid bisa jauh lebih membumi dan inklusif.
Menurut John Preston Mobility UK, Chat Rickshaw Bike kini digunakan di berbagai negara Eropa untuk wisata perkotaan dan layanan sosial bagi lansia. Artinya, model seperti ini bukan hanya komersial, tapi juga sosial.
Bayangkan jika di Indonesia becak modern digunakan untuk mengangkut siswa sekolah di daerah padat, atau untuk mengantar lansia di jalan kecil tempat ambulans tak bisa masuk. Biayanya kecil, dampaknya besar.
Tapi sayangnya, dalam kebijakan transportasi nasional, kata becak sudah lama dihapus dari kamus perencanaan kota.
Sebenarnya, kita sudah sempat punya wacana serupa. Di Yogyakarta, beberapa tahun lalu muncul prototipe becak listrik buatan mahasiswa UGM dan ITS, tapi tak pernah dilanjutkan ke tahap produksi massal.
Alasannya klasik, regulasi, biaya, dan perizinan. Padahal kalau proyek serupa muncul di Belanda, biasanya pemerintah langsung turun tangan mendukung, memberi subsidi, bahkan menjadikannya bagian dari agenda nasional transportasi hijau.
Di Indonesia? Inovasi seperti ini sering terjebak dalam birokrasi dan mentalitas tunggu perintah.
Kita sering berbicara soal transisi energi dan kendaraan listrik, tapi lupa bahwa kita pernah punya moda transportasi nol emisi sejak puluhan tahun lalu, dan kita larang sendiri.
Belanda membuktikan bahwa modernisasi bukan berarti menghapus masa lalu, tapi memberi masa depan baru untuk tradisi lama.
Sementara di sini, tradisi lama sering kali hanya dijadikan latar foto untuk festival budaya ,lalu dilupakan lagi keesokan harinya.
Mari bayangkan kalau becak diberi kesempatan kedua. Becak listrik buatan lokal, digerakkan motor hybrid ringan, dipakai untuk wisata di kawasan heritage.
Penarik becak tak lagi menguras tenaga, tapi tetap punya mata pencaharian. Kota pun mendapat citra ramah lingkungan.
Tapi untuk itu, kita butuh pemerintah yang mau melihat ke bawah, bukan hanya ke masa depan yang tinggi-tinggi. Karena modernisasi seharusnya bukan soal mengganti, tapi memperbaiki.
Ketika Belanda bisa membuat becak jadi simbol teknologi bersih, kita justru sibuk mengimpor mobil listrik dari Cina dan memamerkannya di pameran otomotif.
Bedanya? Di sana mereka membangun masa depan dari nilai lama, di sini kita membangun citra baru dari pinjaman luar negeri.
Lucunya lagi, di Amsterdam becak listrik ini dikendarai anak muda berjaket tebal, sementara di Jogja pengayuh becak masih berkeringat di bawah terik matahari, menunggu penumpang yang makin jarang datang. M
ungkin kita tak perlu terlalu cepat menertawakan bangsa sendiri. Tapi kadang, untuk berubah, kita memang harus menertawakan kebodohan yang sudah terlalu lama kita pelihara, Kita bangga dengan kemajuan luar negeri, padahal mereka hanya memoles apa yang dulu kita buang.
Jadi, pertanyaannya bukan kapan becak kembali, tapi apakah kita masih punya rasa hormat terhadap apa yang pernah jadi bagian dari kehidupan rakyat?
Kalau Belanda bisa memodernisasi becak dan menjadikannya simbol kemanusiaan, masa Indonesia tempat becak dilahirkan, cuma bisa menatap sambil berkata bahwa dulu itu cuma alat angkut orang miskin.
Mungkin sudah waktunya becak kembali, bukan sebagai peninggalan masa lalu, tapi sebagai bukti bahwa kemajuan sejati tidak selalu datang dari yang baru kadang, ia datang dari yang berani menghargai yang lama.
Editor : Ali Mustofa