Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tak Tahu Jika Perang Sudah Usai Pada 1445, Inilah Kisah Prajurit Jepang Bertahan di Hutan Selama 29 Tahun

Nayla Karima • Senin, 17 November 2025 | 23:23 WIB
Ilustrasi prajurit Jepang
Ilustrasi prajurit Jepang

RADAR KUDUS - Seorang prajurit, begitu setia pada perintah, sehingga hutan menjadi rumahnya selama dua puluh sembilan tahun setelah perang usai.

Ini adalah kisah nyata Letnan Onoda Hiro, seorang intelijen Jepang yang bertahan di hutan Filipina hingga 1974, meyakini perang Dunia Kedua masih berlangsung.

Psikolog dari Universitas Kyoto dalam studi tahun 2019 menyoroti bagaimana isolasi ekstrem dan keyakinan kokoh dapat menciptakan realitas kognitif yang terpisah, sebuah fenomena yang menjelaskan keteguhan hati Onoda.

1. Onoda ditugaskan di Pulau Lubang, Filipina, pada 1944 dengan perintah terakhir: jangan menyerah atau bunuh diri

Perintah ini, diperkuat oleh pelatihan militer yang keras, tertanam dalam di benaknya. Penelitian tentang ketaatan otoritas, seperti yang dikemukakan oleh Stanley Milgram, menunjukkan bahwa individu dengan disiplin tinggi cenderung menjalankan perintah secara literal, bahkan ketika konteksnya telah berubah secara dramatis.

2. Untuk bertahan hidup, Onoda mengandalkan keterampilan bertahan hidup yang luar biasa

Ia membangun shelter dari dedaunan, berburu hewan hutan, dan meramu tumbuhan. Pola hidupnya beradaptasi penuh dengan ekosistem, sebuah bukti ketangguhan manusia dalam menghadapi kelangkaan sumber daya. Ia dan anak buahnya bahkan merampas hasil panen penduduk setempat, yang mereka anggap sebagai taktik perang gerilya.

3. Keyakinan Onoda bahwa perang masih berlangsung diperkuat oleh setiap pesawat yang melintas atau suara tembakan di kejauhan

Menganggap selebaran dan koran yang ditinggalkan sebagai tipu musuh musuh. Fenomena kognisi ini disebut bias konfirmasi, di mana manusia cenderung menginterpretasikan informasi baru sebagai pembenaran bagi keyakinan yang sudah ada, menurut jurnal Psychological Review.

4. Upaya untuk meyakinkannya bahwa perang telah usai selalu gagal

Bahkan ketika mantan komandannya, Mayor Taniguchi, diterbinkan ke Filipina pada 1974 untuk secara resmi membebastugaskannya, Onoda awalnya mendekati dengan curiga.

Momen penyerahan diri itu menunjukkan betapa dalamnya sebuah keyakinan dapat tertanam, dan hanya figur otoritas asli yang dapat mengubahnya.

5. Kisah Onoda bukan sekadar kelangenan sejarah

Ia adalah studi kasus nyata tentang ketahanan mental manusia dan bahaya dari isolasi informasi.

Dalam dunia modern yang penuh dengan ruang gema dan informasi yang terfragmentasi, kita semua rentan terhadap versi realitas kita sendiri. Pelajaran dari Onoda mengajarkan kita nilai dari keterbukaan dan verifikasi fakta.

Kisah Letnan Onoda adalah cermin bagi kita semua tentang kekuatan dan sekaligus kerapuhan pikiran manusia.

Ia bertahan bukan hanya dengan keterampilan fisik, tetapi dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, yang justru menjadi penjaranya.

Perjalanannya kembali ke peradaban mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, p3rt3mpuran terberat yang kita hadapi adalah melawan realitas yang kita ciptakan sendiri.

 

Editor : Mahendra Aditya
#jepang #Program Hunian Prajurit #Kesejahteraan Prajurit