Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cuaca Makin Tidak Stabil: BMKG Ungkap Sinyal La Niña & Siklon Filipina yang Picu Hujan Deras

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 14 November 2025 | 23:38 WIB

Ilustrasi foto tips berkendara aman saat hujan deras
Ilustrasi foto tips berkendara aman saat hujan deras

RADAR KUDUS - Fenomena La Niña kembali menjadi sorotan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terbaru mengenai dampaknya terhadap cuaca di Indonesia—khususnya wilayah Papua Selatan. Meski statusnya saat ini berada pada kategori lemah, efeknya terhadap pola hujan tidak bisa dianggap remeh.

La Niña terjadi saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menurun dari kondisi normal. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini biasanya memicu peningkatan curah hujan, terutama di wilayah timur Nusantara.

Prakirawan BMKG Tanah Merah, Tiar Novan Haidar, menegaskan bahwa pengaruh La Niña memang masih terasa, tetapi ada faktor tambahan yang membuat cuaca di Papua Selatan semakin tidak stabil.

Baca Juga: Besaran Gaji Pensiunan PNS yang Cair November 2025: Fakta Terbaru & Klarifikasi Taspen Terkait Isu Rapelan dan Kenaikan

Faktor Pemicu Hujan Lebat Bukan Hanya La Niña

Menurut Tiar, situasi cuaca saat ini bukan semata-mata dipicu oleh La Niña. Ada dua faktor pendukung yang memperkuat potensi hujan intensitas tinggi:

  1. Siklon tropis yang muncul di kawasan sekitar Filipina

  2. Anomali suhu muka laut di Papua Selatan yang terpantau dua derajat lebih hangat dari normal

Kenaikan suhu muka laut ini berperan besar karena menghasilkan asupan uap air lebih banyak ke atmosfer, sehingga memacu pembentukan awan hujan tebal.

“Walaupun La Niña hanya dalam kategori lemah, kombinasi siklon tropis dan anomali suhu laut membuat peluang hujan deras meningkat,” jelas Tiar.

Efek gabungan inilah yang membuat cuaca Papua Selatan, khususnya wilayah Boven Digoel, menjadi sangat dinamis—bahkan tidak jarang berubah drastis dalam hitungan jam.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Jas Hujan Setelan Terlaris 2025: Mana yang Paling Worth It?

Boven Digoel Jadi Titik Cuaca Paling Tidak Stabil

BMKG mencatat bahwa kawasan Tanah Merah dan sekitarnya termasuk wilayah yang paling rentan terhadap curah hujan tinggi. Sifat cuacanya yang mudah berubah—pagi cerah, siang mendung, sore hujan deras—menandakan adanya pembentukan awan pemicu badai yang sangat aktif.

Di antara tanda-tanda awal potensi hujan ekstrem yang harus diwaspadai masyarakat adalah:

Frekuensi petir di Boven Digoel bahkan terpantau lebih tinggi dari bulan-bulan biasanya. Tiar menyebut kondisi ini sebagai sinyal bahwa atmosfer sedang sangat labil dan mudah memproduksi awan badai.

Indonesia Resmi Masuk Musim Hujan, Puncaknya hingga Februari

Secara nasional, Indonesia kini telah memasuki musim penghujan yang diprediksi berlangsung hingga Februari tahun depan. Untuk Papua Selatan, hal ini menjadi peringatan ekstra karena wilayah tersebut memiliki karakter geografis yang mudah terdampak banjir, genangan, dan longsor.

BMKG meminta masyarakat untuk:

Baca Juga: Panduan Memilih Merk Jas Hujan Terbaik 2025: Anti Rembes, Awet, dan Sesuai Aktivitas

BMKG: Jangan Hanya Mengandalkan Prediksi Medsos

Selain imbauan teknis, BMKG juga menyoroti banyaknya informasi menyesatkan di media sosial terkait perubahan cuaca dan potensi bencana.

Warga diminta untuk mengandalkan informasi resmi dari BMKG, baik melalui aplikasi, website, maupun kanal media sosial lembaga tersebut.

“Musim hujan kali ini membawa dinamika atmosfer yang lebih kompleks. Info resmi sangat penting agar masyarakat bisa mengambil keputusan yang tepat,” tegas Tiar.

Cuaca Ekstrem Mengintai, Waspada Itu Wajib

La Niña yang masih aktif, ditambah siklon tropis dan anomali suhu laut, menjadi kombinasi yang membuat wilayah Papua Selatan berada dalam fase cuaca berisiko tinggi.

Dalam beberapa bulan ke depan, BMKG memprediksi pola hujan deras akan terus muncul secara berkala. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan untuk menghindari dampak bencana seperti:

Musim hujan 2025–2026 membutuhkan kesiapan ekstra, dan informasi yang tepat menjadi kunci utama keselamatan masyarakat.

Editor : Mahendra Aditya
#la nina Indonesia #la nina #cuaca ekstrim #bmkg #hujan ekstrem