Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gen Z dan Tantangan Hoaks: Cara Jitu Memilah Fakta di Era Digital

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 14 November 2025 | 22:26 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan masyarakat—terutama Generasi Z—untuk memilah fakta dari kebohongan menjadi sangat penting.

Arus konten di internet mengalir tanpa henti, sehingga pengguna perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam hoaks.

Pakar literasi digital, Santi Indra Astuti, menekankan bahwa berpikir kritis berarti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Langkah ini dapat dilakukan melalui pengecekan fakta, menelusuri sumber kredibel, serta melakukan verifikasi silang dengan informasi lain.

Langkah Menghadapi Hoaks

Santi menjelaskan beberapa cara efektif untuk memerangi penyebaran hoaks.

Pertama, kapasitas digital masyarakat perlu ditingkatkan lewat pendidikan formal maupun nonformal.

Ia juga mendorong pengaktifan para agen literasi digital dari berbagai kalangan untuk membantu mendeteksi hoaks dan menyebarkan klarifikasi.

Kedua, klarifikasi cepat dan tepat harus dilakukan agar hoaks tidak sempat menyebar luas dan menguasai ruang percakapan publik.

Ketiga, komunitas pemeriksa fakta atau fact-checker dapat dibentuk di ruang komunikasi digital seperti grup percakapan atau forum daring.

Santi menambahkan bahwa edukasi literasi digital serta kampanye anti-hoaks perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak.

Selain itu, perlu adanya kewaspadaan karena hoaks sering muncul dalam momen tertentu seperti menjelang pemilu, hari besar keagamaan, atau saat terjadi bencana.

Bagaimana Hoaks Menyebar

Menurut Santi, hoaks dapat tersebar cepat karena memanfaatkan emosi pengguna dan masih rendahnya literasi digital.

Pembuat hoaks sengaja merancang narasi yang memicu kemarahan, ketakutan, atau simpati, sehingga orang terdorong menyebarkannya tanpa proses berpikir panjang.

Algoritma media sosial juga memengaruhi persebaran hoaks. Sistem digital cenderung memprioritaskan konten dengan tingkat interaksi tinggi tanpa mempertimbangkan akurasinya.

Ketika informasi resmi belum tersedia, penyebar hoaks mengambil kesempatan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Mengapa Gen Z Harus Memperkuat Literasinya

Berdasarkan Survei Penetrasi Internet APJII 2024, Gen Z merupakan kelompok pengguna internet terbesar di Indonesia, mencapai 34,4 persen.

Dominasi ini membuat mereka menjadi kelompok paling rentan terpapar informasi digital dalam jumlah besar.

Santi menjelaskan bahwa kehidupan Gen Z sangat terhubung dengan dunia digital.

Tanpa literasi digital yang kuat, mereka rentan terhadap berbagai risiko, mulai dari perundungan siber, kebocoran privasi, hingga penipuan daring.

Karena itu, mereka perlu membangun kemampuan berpikir kritis dan kewaspadaan digital agar dapat berkontribusi positif sebagai pembuat maupun penyebar informasi.

Dampak Hoaks terhadap Kesehatan Mental dan Sosial

Santi juga menyoroti dampak hoaks yang dapat mengganggu kondisi psikologis masyarakat.

Hoaks dapat menimbulkan kegelisahan, rasa takut, hingga menciptakan pola pikir yang tidak rasional dalam pengambilan keputusan.

Secara sosial, hoaks merusak kepercayaan di antara anggota masyarakat.

Banyak orang lebih percaya pada tokoh panutannya dibandingkan isi informasi itu sendiri, sehingga opini publik mudah dipengaruhi untuk tujuan tertentu.

Ia menegaskan bahwa persoalan hoaks bukan hanya berkaitan dengan teknologi atau kemampuan individu, tetapi menyangkut kualitas peradaban.

Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja sama lintas sektor antara pemerintah, institusi pendidikan, media, serta komunitas digital.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Gen Z #hoaks #media sosial #Cara pilah informasi #literasi digital