Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Indonesia Jadi Raja Nikel Dunia, Energi Hijau di Tangan Kita

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 14 November 2025 | 01:57 WIB

 

Ilustrasi menambang nikel
Ilustrasi menambang nikel

RADAR KUDUS - Siapa sangka logam yang dulu dianggap tidak berguna kini menjadi primadona dunia.

Nikel, yang dulu hanya disebut sebagai “tembaga iblis” oleh para penambang Eropa karena sering mengecoh mereka, kini menjadi elemen paling diburu di era transisi energi bersih.

Logam berwarna keperakan ini kini menjadi kunci penting dalam revolusi kendaraan listrik global — dan Indonesia berdiri di pusat pusarannya.

Jejak nikel pertama kali ditemukan pada tahun 1751 oleh ilmuwan Swedia Axel Fredrik Cronstedt. Kala itu, nikel hanya digunakan untuk campuran baja tahan karat, jembatan, hingga pesawat tempur.

Namun abad ke-21 mengubah segalanya — perang industri baru tak lagi tentang senjata, tetapi tentang energi hijau.

Kendaraan Listrik dan Lonjakan Permintaan Nikel

Ledakan kendaraan listrik (EV boom) yang terjadi dua dekade terakhir menjadi penentu nasib baru bagi nikel.

Data BloombergNEF Electric Vehicles Outlook 2025 mencatat penjualan kendaraan listrik mencapai 22 juta unit tahun ini, meningkat 25 persen dari tahun sebelumnya.

China menjadi pasar terbesar dengan dua pertiga penjualan global, disusul Eropa dan Amerika Serikat.

Di balik setiap kendaraan listrik, tersembunyi peran besar nikel. Logam ini menjadi bahan utama katoda dalam baterai lithium-ion yang digunakan oleh Tesla hingga Hyundai.

Kandungan nikel yang tinggi membuat baterai bisa menyimpan energi lebih banyak dan memberikan jarak tempuh lebih jauh.

Rata-rata, satu mobil listrik membutuhkan hingga 40 kilogram nikel. Bayangkan, dengan target global menuju nol emisi, kebutuhan terhadap logam ini akan terus melonjak.

Menurut proyeksi International Energy Agency (IEA), permintaan nikel dunia akan meningkat dari 3,3 juta ton pada 2023 menjadi 6,2 juta ton pada 2040.

Indonesia, Sang Raja Baru Nikel Dunia

Indonesia kini tak sekadar pemain, tetapi penguasa peta nikel global. Berdasarkan data IEA (2024), Indonesia menguasai 62 persen produksi nikel dunia dan 44 persen proses pemurniannya (refining).

Dengan cadangan mencapai 55 juta ton — tersebar di Sulawesi dan Maluku — Indonesia menjadi pusat baru ekonomi hijau dunia.

Namun, perjalanan menuju posisi ini tidak instan. Selama puluhan tahun, bijih nikel mentah diekspor ke Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan tanpa nilai tambah.

Semua berubah ketika pemerintah melarang ekspor nikel mentah pada 2020 sebagai bagian dari kebijakan hilirisasi. Langkah berani ini bahkan memicu gugatan Uni Eropa ke WTO, namun Indonesia bergeming.

Presiden Joko Widodo kala itu menegaskan, “Hilirisasi tidak boleh berhenti. Kita ingin nilai tambah ada di dalam negeri.”

Kini, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan kebijakan tersebut dengan visi besar: menjadikan Indonesia berdaulat atas sumber daya alamnya.

Pemerintah bahkan menyiapkan dana hingga USD 45 miliar untuk memperkuat hilirisasi dan rantai industri nikel nasional.

Dari Tambang ke Pabrik Baterai: Lahirnya Ekosistem EV Indonesia

Kebijakan hilirisasi menciptakan efek domino. Investasi asing langsung di sektor logam dasar melonjak tajam — mencapai Rp94,1 triliun hanya dalam semester pertama 2025.

Kawasan industri besar seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara menjadi motor utama pertumbuhan.

Dua kawasan tersebut kini mempekerjakan lebih dari 160.000 tenaga kerja, menghadirkan efek ekonomi berantai yang masif. Lebih dari itu, industri ini menciptakan rantai nilai panjang: dari tambang, ke smelter, ke pabrik bahan baku baterai, hingga produksi kendaraan listrik.

Kolaborasi global pun mengalir deras. Raksasa dunia seperti CATL, LG Energy Solution, dan Hyundai menanamkan modal besar di Indonesia.

Pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara kini berdiri megah di Karawang dengan kapasitas produksi 10 GWh per tahun.

Tantangan Baru: Dari “Dirty Nickel” ke “Responsible Nickel”

Namun, tak ada kemajuan tanpa kritik. Dunia internasional menyoroti praktik tambang Indonesia yang dianggap masih menggunakan energi fosil dan mencemari lingkungan. Istilah “dirty nickel” pun muncul — tudingan bahwa produksi nikel Indonesia belum sepenuhnya hijau.

Menjawab tantangan ini, pemerintah dan perusahaan tambang nasional mulai berbenah. Holding BUMN pertambangan MIND ID, bersama anak perusahaannya seperti Antam dan PT Vale Indonesia, kini mendorong penggunaan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) — metode pengolahan bijih nikel kadar rendah yang menghasilkan limbah lebih sedikit.

PT Vale bahkan sudah memanfaatkan energi air untuk menekan emisi karbon. Di Sulawesi Selatan, tiga PLTA — Larona, Balambano, dan Karebbe — menjadi sumber utama energi operasi tambang mereka.

Langkah-langkah ini menegaskan bahwa Indonesia tak hanya ingin menjadi penghasil terbesar, tetapi juga produsen responsible nickel — nikel bersih yang mendukung ekonomi hijau dunia.

Nikel, Kunci Indonesia Menuju Masa Depan Energi Bersih

Kini, Indonesia berdiri di garis depan revolusi energi global. Dari tanah yang kaya mineral, negeri ini mengirim pesan ke dunia: masa depan energi bersih tak bisa lepas dari tangan Indonesia.

Namun, tantangannya kini bukan sekadar menggali, melainkan menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Karena di era baru energi hijau, yang berkuasa bukan hanya negara dengan sumber daya besar — tetapi negara yang mampu mengelolanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Dari “tembaga iblis” menjadi emas hijau, kisah nikel Indonesia adalah potret bagaimana transformasi besar bisa lahir dari kesadaran dan keberanian untuk berubah. Dan mungkin, di masa depan, dunia akan mengingat bahwa revolusi energi hijau pernah dimulai dari nikel — dari Indonesia.

Editor : Mahendra Aditya
#kendaraan listrik #energi hijau #electric vehichle #nikel #Nikel Indonesia