Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gen Z dan Fenomena ‘Avoidant Attachment’: Mandiri, tapi Takut Terluka Lagi

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 13 November 2025 | 22:29 WIB

avoidant attachment
avoidant attachment

RADAR KUDUS - Istilah avoidant attachment kini tengah ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di platform TikTok.

Banyak anak muda, khususnya Gen Z, mengaku memiliki kepribadian atau gaya hubungan yang termasuk dalam kategori ini.

Namun, apa sebenarnya arti dari avoidant attachment?

Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menjelaskan bahwa avoidant attachment adalah gaya keterikatan di mana seseorang cenderung menjaga jarak emosional, merasa tidak nyaman dengan kedekatan, dan lebih memilih untuk mandiri.

Biasanya ini berakar dari pengalaman masa lalu baik hubungan yang traumatis maupun masa kecil di mana kebutuhan emosional tidak terpenuhi dengan baik.

Menurutnya, kecenderungan menghindar ini bisa muncul karena kelelahan emosional, kehilangan rasa percaya diri, atau trauma yang membuat seseorang takut untuk kembali membuka diri.

Dalam konteks psikologis, perilaku tersebut merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri dari stres sosial.

Baca Juga: Sering Mengaku ‘Nyaman Sendiri’? Ahli Jiwa Ungkap Fakta di Balik Avoidant Attachment

Namun, bila penghindaran berlangsung lama dan mengganggu kemampuan membangun hubungan yang sehat, hal itu bisa menjadi tanda Avoidant Personality Disorder (AVPD) atau bentuk kecemasan sosial yang lebih serius.

Sebagai analogi, fenomena ini kadang digambarkan lewat perilaku seekor monyet: tampak mandiri dan tidak membutuhkan bantuan, namun sesungguhnya tetap butuh kedekatan dan rasa aman.

Spesialis kejiwaan dr Lahargo Kembaren, SpKJ menambahkan bahwa individu dengan tipe avoidant sering menekan emosinya karena menganggap menampilkan perasaan sebagai kelemahan.

Mereka tampak rasional dan kuat, tetapi di baliknya tersimpan ketakutan akan penolakan dan kehilangan kendali.

“Saat orang lain terlalu dekat secara emosional, mereka bisa merasa tertekan atau tidak nyaman,” jelas dr Lahargo.

Fenomena ini, kata dia, menjadi cara bagi Gen Z untuk mengekspresikan luka emosional dengan bahasa yang lebih mudah mereka pahami dan bagikan di media sosial.

Dampak Positif:

Dampak Negatif:

Fenomena avoidant attachment di kalangan Gen Z ini menunjukkan bagaimana generasi muda berusaha memahami kondisi mental mereka dengan cara yang relatable dan mudah diakses secara digital.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan mental #Trauma emosional #avoidant attachment #Gen Z #Hubungan interpersonal