Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Badai Super Fung Wong Mengintai! BRIN Peringatkan Dampak Tak Langsung ke Indonesia, Cuaca Ekstrem Bisa Terjadi

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 13 November 2025 | 00:02 WIB

 

Badai Fengshen menerpa Filipina, menewaskan delapan orang dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.
Badai Fengshen menerpa Filipina, menewaskan delapan orang dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.

RADAR KUDUS - Fenomena badai tropis Fung Wong, atau dikenal juga sebagai Topan Uwan di Filipina, tengah menjadi sorotan dunia.

Dengan kecepatan angin yang mencapai 185 kilometer per jam, badai ini telah meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Filipina dan memaksa lebih dari 1,4 juta warga mengungsi.

Kini, meski badai tersebut mulai menjauh ke arah selatan Taiwan, Indonesia diprediksi tidak sepenuhnya aman. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), badai Fung Wong berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung yang dapat memicu anomali cuaca ekstrem di beberapa wilayah Tanah Air.

Peringatan BRIN: “Efeknya Bisa Terasa Meski Tak Melintasi Indonesia”

Ahli klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa Fung Wong termasuk kategori superstorm, dengan radius badai yang sangat besar dan durasi yang panjang.
“Dengan kecepatan angin sekitar 120 kilometer per jam dan daya putar atmosfer yang luas, badai ini jelas akan memengaruhi sistem cuaca di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” jelas Erma, Selasa (11/11/2025).

Menurutnya, meski pusat badai tidak langsung melintas di wilayah Indonesia, aktivitas atmosfernya dapat mengaktifkan sistem vorteks di perairan barat Jawa dan Sumatra.

Fenomena ini dapat menimbulkan badai lokal, hujan deras berkepanjangan, hingga gelombang tinggi di sejumlah kawasan pesisir.

Bayang-bayang Siklon Tropis Seroja: Peringatan dari Masa Lalu

Erma mengingatkan bahwa pola cuaca kali ini mirip dengan Siklon Tropis Seroja yang terjadi pada tahun 2021 — badai yang menimbulkan bencana besar di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Waktu itu, sinyal pembentukannya sudah terlihat sejak enam bulan sebelumnya, tetapi kita belum cukup siap,” ujarnya.

Ia menekankan, pentingnya belajar dari pengalaman tersebut agar pemerintah daerah dan masyarakat lebih tanggap terhadap potensi pembentukan siklon tropis baru, terutama di wilayah rawan seperti NTT, Maluku, dan perairan Banda.

Menurut Erma, fenomena atmosfer global seperti gelombang Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO) dapat memperkuat peluang pembentukan badai di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

“Jika suhu laut cukup hangat, energi dari permukaan laut bisa memperkuat pusaran udara menjadi badai besar,” jelasnya.

Potensi Vorteks dan Ancaman dari Laut Banda

Erma menuturkan, pembentukan badai vorteks lokal merupakan salah satu ancaman nyata yang mungkin terjadi akibat efek tak langsung dari Fung Wong.

“Meski badai besar jarang terbentuk langsung di wilayah kita, daerah seperti Laut Banda dan Maluku sangat rentan. Energi dari laut yang hangat bisa memperkuat sirkulasi udara dan memicu badai lokal,” kata Erma.

Fenomena ini berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem di kawasan timur Indonesia, termasuk angin kencang, hujan deras, dan gelombang tinggi di perairan selatan Nusa Tenggara.
Erma juga menambahkan, pergerakan awan konvektif akibat dampak Fung Wong dapat memperburuk curah hujan musiman di sebagian besar wilayah barat Indonesia, termasuk Jawa Barat, Banten, dan Sumatra bagian selatan.

Kesiapsiagaan Jadi Kunci: “Sirine di Pesisir Harus Aktif”

Menghadapi potensi cuaca ekstrem, BRIN menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

“Ketika air laut mulai naik tidak wajar, sirine atau alarm di kawasan pantai harus segera aktif,” ujar Erma tegas.

Ia menyebutkan bahwa alat pemantau ketinggian air dan kecepatan angin menjadi instrumen vital untuk mencegah korban akibat bencana alam mendadak.

Lebih lanjut, BRIN kini tengah mengembangkan teknologi prediksi musiman berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi potensi pembentukan siklon hingga enam bulan lebih awal.

“Dengan bantuan AI, kita bisa memperkirakan perubahan atmosfer secara lebih akurat dan memberi waktu lebih panjang bagi masyarakat untuk bersiap,” tambahnya.

Fung Wong Bergerak ke Taiwan, Tapi Dampaknya Masih Terasa

Sementara itu, berdasarkan laporan terbaru dari Japan Meteorological Agency (JMA) dan Joint Typhoon Warning Center (JTWC), badai Fung Wong kini bergerak menjauh dari Filipina menuju selatan Taiwan.

Pusat badai diperkirakan melintasi ujung selatan Taiwan pada Rabu malam (12/11/2025) dengan kekuatan angin yang masih mencapai 160–185 kilometer per jam.

Meskipun menjauh dari Indonesia, efek atmosferik dari badai ini tetap terasa hingga ribuan kilometer, terutama pada sirkulasi angin di Samudra Hindia bagian timur dan Laut Jawa.

Dampaknya, gelombang laut di wilayah barat Sumatra, selatan Jawa, hingga Laut Timor diprediksi meningkat signifikan dalam beberapa hari ke depan.

BRIN: Indonesia Harus Adaptif dan Siaga

Erma menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, harus lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan sistem atmosfer global.

“Badai seperti Fung Wong adalah pengingat bahwa iklim kita semakin ekstrem dan tak terduga. Respons cepat dan koordinasi antarlembaga sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pendidikan kebencanaan dan kesadaran kolektif.

“Sirine, pelatihan evakuasi, dan sistem komunikasi darurat harus menjadi bagian dari budaya hidup di wilayah rawan bencana,” tambahnya.

Meski Fung Wong tidak akan langsung menghantam Indonesia, para ahli menilai efek atmosferiknya cukup besar untuk mengubah pola cuaca dan memperburuk kondisi ekstrem di dalam negeri.

Fenomena ini sekali lagi menunjukkan bahwa batas negara tidak berlaku bagi alam — gelombang udara, pusaran angin, dan energi laut bisa menembus jarak ribuan kilometer.

BRIN berharap masyarakat tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di wilayah pesisir barat dan timur Indonesia.

Dengan kesiapsiagaan, inovasi teknologi, dan kesadaran publik yang meningkat, Indonesia bisa menghadapi dampak global seperti Fung Wong dengan lebih tangguh dan terencana.

Editor : Mahendra Aditya
#Badai Fung Wong #Topan Fung wong #BRIN #bmkg #cuaca ekstrem indonesia