RADAR KUDUS – Fakta baru kembali terungkap dalam penyelidikan kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pelaku yang diketahui merupakan seorang pelajar berinisial F ternyata hanya tinggal bersama ayahnya. Sementara sang ibu telah lama bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengungkapkan hal tersebut saat dikonfirmasi oleh wartawan di Jakarta, Rabu (12/11).
Menurutnya, kondisi keluarga yang tidak lengkap itu diduga turut memengaruhi kejiwaan pelaku yang kini berstatus sebagai anak berkonflik dengan hukum (ABH).
“ABH ini tinggal bersama ayahnya, sementara ibunya bekerja di luar negeri,” ujar Budi Hermanto. Ia menambahkan, penyidik masih menelusuri sejauh mana situasi keluarga berperan terhadap tindakan nekat sang pelaku.
Dalam konferensi pers yang digelar Polda Metro Jaya pada Selasa malam (11/11), dijelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi tindakan pelaku.
Di antaranya perasaan tertindas, kesepian, hingga dendam terhadap orang-orang di sekitarnya.
Namun, polisi masih melakukan pendalaman untuk memastikan motif tersebut.
“Semua masih kami dalami, apalagi kondisi ABH saat ini masih menjalani perawatan pasca operasi di RS Polri Kramat Jati,” jelas Budi. Ia memastikan bahwa perkembangan kondisi pelaku maupun hasil penyelidikan akan disampaikan secara terbuka kepada publik.
Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11) itu menimbulkan 96 korban luka.
Baca Juga: Densus 88: Ledakan di SMAN 72 Jakarta Murni Tindakan Kriminal, Bukan Teror
Sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran akibat gelombang ledakan, sementara beberapa lainnya mengalami luka berat hingga memerlukan tindakan medis lanjutan.
Pelaku sendiri termasuk di antara korban luka berat.
Berdasarkan hasil penyelidikan, ia diketahui membawa tas jinjing berwarna biru berisi bahan peledak dan senjata mainan sebelum memicu ledakan kedua yang melukai dirinya sendiri.
“Ia sengaja meledakkan tas itu,” terang Budi.
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menjelaskan bahwa pelaku dikenal sebagai sosok yang tertutup dan jarang bergaul.
Baca Juga: KPK Selidiki Dugaan Korupsi Kuota Haji, Subhan Cholid Diperiksa sebagai Saksi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ABH memiliki ketertarikan terhadap konten-konten bernuansa kekerasan serta ekstremisme.
“Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku bertindak sendiri tanpa keterlibatan jaringan teror tertentu,” ungkap Asep dalam konferensi pers, Selasa (11/11). Tim gabungan dari Puslabfor Mabes Polri, Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dan Polres Metro Jakarta Utara telah menggeledah rumah pelaku serta memeriksa 18 saksi, termasuk guru, siswa, dan keluarga ABH.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, menambahkan bahwa pelaku diduga bertindak karena perasaan terasing dan tidak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
“Dia merasa sendiri, tidak punya tempat berbagi, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Editor : Ali Mustofa