RADAR KUDUS – Polda Metro Jaya mengungkapkan, puluhan korban ledakan di SMAN 72 Jakarta mengalami berbagai jenis luka.
Mulai dari luka bakar serius, gangguan pendengaran, hingga cedera berat seperti patah tulang tengkorak.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya, Kombes Pol dr. Martinus Ginting, menjelaskan bahwa kondisi para korban cukup beragam.
Baca Juga: Google Doodle Hari Ini Tampilkan Ilustrasi Menyentuh untuk Peringati Hari Ayah Nasional
“Beberapa korban menderita luka bakar, gangguan pernapasan, hingga trauma kepala akibat benturan keras dan serpihan logam,” ujarnya di Jakarta, Rabu (12/11).
Martinus menegaskan, seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis terbaik.
Tim kesehatan, katanya, bergerak cepat sesuai dengan golden period—periode emas yang menentukan keberhasilan pemulihan pasien pascakecelakaan.
Ia menambahkan, satu di antara korban telah menjalani operasi dekompresi tulang kepala oleh tim gabungan dokter bedah saraf dan bedah plastik di RS Polri pada Selasa (11/11).
“Kami juga memberikan dukungan pemulihan fisik dan psikologis agar pasien bisa pulih sepenuhnya,” ucapnya.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri dalam keterangan terpisah menyebutkan, total korban mencapai 96 orang.
Dari jumlah itu, 67 orang mengalami luka ringan, 26 orang luka sedang, dan tiga orang luka berat.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Naik Dua Hari Berturut-turut, UBS dan Galeri24 Kompak Melonjak
“Sebanyak 68 korban telah diperbolehkan pulang, sementara 28 lainnya masih dirawat di beberapa rumah sakit,” ungkap Asep.
Dari 28 korban tersebut, 13 dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, satu di RS Polri, dan 14 di RS Yarsi.
Sementara itu, seluruh pasien di RS Pertamina, Balai Kesehatan Lantamal, dan Puskesmas Kelapa Gading sudah dinyatakan pulih dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Dalam perkembangan penyelidikan terbaru, fakta baru terungkap.
Pelaku ledakan yang merupakan seorang siswa diketahui telah lama menyimpan kemarahan dan rasa dendam kepada lingkungan sekolahnya.
Hasil pemeriksaan Densus 88 Antiteror Polri menunjukkan, pelaku mengalami tekanan psikologis sejak awal tahun 2025.
Ia merasa dijauhi teman-temannya dan tidak memiliki tempat untuk bercerita, hingga akhirnya muncul niat melakukan aksi balas dendam.
“Pelaku merasa terpinggirkan dan mencari pelampiasan di dunia maya. Ia kemudian bergabung dengan komunitas daring yang mengagungkan kekerasan,” jelas Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Pelaku disebut terinspirasi dari berbagai aksi brutal yang beredar di internet.
Bahkan, saat melakukan aksinya, ia membawa senjata mainan yang ditempeli nama-nama pelaku penembakan terkenal dunia seperti Alexandre Bissonette (Kanada), Luca Traini (Italia), dan Brenton Tarrant (Selandia Baru).
Mayndra menilai, fenomena ini menjadi peringatan serius terhadap pengaruh konten ekstrem di dunia digital terhadap remaja.
“Kita harus lebih waspada terhadap paparan ideologi kekerasan yang menjebak anak muda di ruang maya,” tegasnya.
Editor : Ali Mustofa