RADAR KUDUS – Fakta baru kembali terungkap dalam kasus ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Polisi memastikan bom yang meledak di masjid sekolah dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control.
Dansat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Henik Maryanto menjelaskan, rangkaian bahan peledak dibuat dengan empat baterai AAAA, pemicu listrik, dan bahan kimia potassium chloride.
Baca Juga: K.H. Sholeh Darat, Sang Guru Ulama Besar yang Didorong Jadi Pahlawan Nasional
“Rangkaian tersebut aktif dan dikendalikan dengan sistem remote. Pelaku tidak berada di dalam masjid saat ledakan terjadi,” ujarnya, Selasa (11/11).
Dari hasil olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan total tujuh bom.
Dua di antaranya meledak di masjid, empat ditemukan di area bank sampah, dan satu lagi di taman baca sekolah.
Di lokasi terakhir itu pula polisi menemukan remote aktif yang diduga digunakan pelaku untuk memicu ledakan.
Kabid Balistik Mabes Polri Kombes Ari Kurniawan Jati mengungkapkan, seluruh bahan peledak tergolong low explosive atau berkekuatan rendah.
Jenis bahan serupa juga ditemukan di rumah pelaku yang masih di bawah umur.
Densus 88 menegaskan aksi ini bukan bagian dari jaringan terorisme.
“Tidak ditemukan indikasi keterlibatan kelompok radikal. Ini murni tindak kriminal individu,” jelas PPID Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Pelaku berinisial F diketahui terinspirasi dari aksi kekerasan di luar negeri dan sering mengakses dark web berisi konten ekstrem.
Kini, pelaku dirawat di RS Polri Kramatjati untuk pemulihan dan pemeriksaan lanjutan.
Akibat peristiwa itu, puluhan siswa mengalami luka dan trauma.
Pihak rumah sakit menyebut sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran akibat tekanan ledakan yang cukup kuat.
Editor : Ali Mustofa