Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bahaya Konten Digital Negatif untuk Anak, Psikolog: “Bisa Pengaruhi Emosi dan Cara Mereka Berpikir”

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 11 November 2025 | 23:12 WIB

Dampak media sosial bagi anak anak di era digital
Dampak media sosial bagi anak anak di era digital

Radar Kudus -  Paparan konten negatif di media digital secara berlebihan dinilai dapat mengancam kesehatan mental dan perkembangan perilaku anak. 

Konten digital yang mengandung kekerasan, ujaran kebencian, atau nilai yang tidak sehat bisa memberikan dampak psikologis serius bagi anak dan remaja.

Hal ini disampaikan oleh psikolog klinis Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, lulusan Universitas Indonesia.

Menurutnya, anak-anak yang terlalu sering menyaksikan kekerasan di dunia maya berisiko menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal. Ketika anak terus-menerus terpapar adegan kekerasan, lama-lama mereka bisa menilai itu sebagai hal yang wajar. 

Baca Juga: Awas! Kenali 7 Penyakit Mental Ini Yang Dirasakan Akibat Kebanyakan Pikiran

Selain konten kekerasan, Phoebe menyoroti bahaya konten yang menampilkan standar hidup dan penampilan tidak realistis di media sosial.

“Melihat gaya hidup mewah atau penampilan sempurna secara terus-menerus bisa membuat anak merasa rendah diri, tidak percaya diri, bahkan mengalami gangguan citra tubuh hingga depresi,” paparnya.

Ia menambahkan, anak yang belum matang secara emosional cenderung lebih sulit mengontrol perasaan ketika menghadapi konten digital yang provokatif.

Anak Rentan Meniru Perilaku dari Dunia Maya

Phoebe juga menegaskan bahwa minimnya bimbingan orang dewasa memperbesar risiko anak meniru perilaku yang mereka lihat di media digital. 

Untuk meminimalkan dampak buruk media digital, Phoebe mendorong orangtua agar aktif mendampingi anak dalam menggunakan gawai. 

Menurutnya, komunikasi terbuka antara orangtua dan anak menjadi kunci. Orangtua dapat berperan sebagai pendamping digital yang ikut mengarahkan anak memilih konten positif.

Di lingkungan sekolah, guru juga memiliki tanggung jawab besar dengan menanamkan pendidikan karakter, keterampilan sosial-emosional, dan menyediakan layanan konseling bagi siswa. “Sekolah perlu menjadi ruang aman yang membantu anak mengenali dampak positif dan negatif dari dunia digital,” ujarnya

Baca Juga: Jangan Kalah dari Gadget: 7 Tips Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Peran Pemerintah dalam Lingkungan Digital yang Aman

Selain keluarga dan sekolah, Phoebe menilai pemerintah juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak.

“Negara perlu memperkuat regulasi terhadap konten berbahaya, menjalankan kampanye literasi digital, dan mendukung riset serta layanan psikososial,” tegasnya.

Ia menutup dengan ajakan kolaborasi lintas sektor antara orangtua, guru, pemerintah, dan komunitas untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat.

“Sinergi bersama ini sangat penting agar anak bisa tumbuh di dunia digital yang aman dan mendukung kesehatannya secara menyeluruh,” ujarnya.(laura)

Editor : Mahendra Aditya
#Dampak Media sosial #Pendampingan orangtua #kesehatan mental anak #Konten Negatif Digital