RADAR KUDUS - Menjelang akhir tahun 2025, kelangkaan bahan bakar subsidi kembali menjadi perhatian warga Jember.
Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah ini tampak dipenuhi kendaraan yang mengular panjang sejak pagi hari.
Pengendara truk, pikap, dan kendaraan pribadi berbahan bakar solar tampak sabar menunggu, meski beberapa di antaranya sudah menunggu hingga tiga jam lebih hanya untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar.
Fenomena ini terjadi bukan karena stok habis total, melainkan akibat kebijakan pembatasan distribusi solar subsidi oleh Pertamina.
Langkah ini diambil agar jatah tahunan biosolar bisa mencukupi hingga akhir Desember, mengingat realisasi pemakaian sudah mencapai lebih dari 86 persen dari kuota tahun 2025.
Baca Juga: Solar Langka, Warga Kuansing Rela Antre 3 Jam di SPBU!
Pengetatan Pembelian, Pertamina Batasi Kuota Harian
Sales Brand Manager Pertamina Area Jember, Hendra Saputra, menjelaskan bahwa pembatasan ini merupakan bagian dari pengaturan kuota nasional yang ditetapkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
“Distribusi biosolar dan pertalite diatur berdasarkan kuota tahunan, yang kemudian dibagi ke setiap SPBU. Kami hanya menjalankan sesuai alokasi agar stok bisa cukup hingga akhir tahun,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, dua jenis bahan bakar subsidi yang masih beredar di Jember adalah Biosolar dan Pertalite. Hingga awal November, penggunaan biosolar di wilayah Jember sudah menyentuh angka 86 persen dari total kuota yang disediakan pemerintah. Sedangkan pertalite masih berada pada level aman, sekitar 70 persen serapan.
“Sekarang kami atur distribusinya harian. Kalau stok habis lebih cepat, maka SPBU itu tidak bisa lagi menjual solar sampai akhir tahun,” kata Hendra.
Permintaan Tinggi, Stok Biosolar Mulai Menipis
Penyebab utama meningkatnya antrean adalah tingginya permintaan dari sektor logistik dan transportasi.
Banyak kendaraan operasional di wilayah Jember, Bondowoso, dan Lumajang yang menggantungkan aktivitasnya pada solar bersubsidi.
“Biosolar ini digunakan untuk truk pengangkut hasil bumi, pertanian, dan distribusi barang. Karena aktivitas ekonomi meningkat di akhir tahun, kebutuhan ikut melonjak,” jelas Hendra.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa stok secara nasional maupun di depot Pertamina masih dalam kondisi aman.
Tantangannya terletak pada pengaturan distribusi agar tidak ada SPBU yang kehabisan terlalu cepat.
“Kalau di satu SPBU terbatas, masyarakat bisa mencari di SPBU lain. Tidak perlu panik,” tegasnya.
Barcode Jadi Senjata Pengawasan BBM Subsidi
Kebijakan pengendalian pembelian solar juga melibatkan Hiswana Migas Besuki, yang bertanggung jawab mengawasi distribusi di lapangan.
Kabid BBM Hiswana Migas Besuki, Wahyu Prayudi Nugroho, mengatakan pihaknya kini memperketat sistem verifikasi pembelian melalui barcode kendaraan.
“Setiap pembelian biosolar wajib pakai barcode sesuai nomor polisi kendaraan. Kalau tidak cocok, SPBU wajib menolak,” jelasnya.
Langkah ini bertujuan mencegah praktik penyalahgunaan subsidi, seperti pembelian berulang atau penimbunan oleh oknum. SPBU juga diminta disiplin membatasi kuota per kendaraan agar stok harian mencukupi.
“Jika ada kendaraan yang berulang kali isi dalam satu hari, kami sarankan untuk tidak dilayani. Ini demi keadilan bagi semua pengguna,” katanya.
SPBU di Wilayah Kota Paling Padat
Beberapa SPBU di wilayah perkotaan Jember, seperti di Gebang, Baratan, dan Patrang, disebut menjadi titik paling padat antrean.
Bukan hanya karena meningkatnya jumlah kendaraan, tapi juga karena keterbatasan lahan yang membuat antrean tampak memanjang hingga ke jalan raya.
“SPBU di tengah kota biasanya kecil. Begitu buka solar, langsung padat. Tapi itu hanya bersifat sementara, tidak separah kelangkaan yang sempat terjadi pada Juli lalu,” ujar Wahyu.
Pertamina sendiri sudah menerapkan sistem pembagian kuota harian, misalnya 8.000 liter per SPBU per hari.
Pembagian ini diatur dalam dua sesi: pagi dan sore, masing-masing 4.000 liter. Tujuannya agar stok tidak habis sekaligus.
“Kalau dijual habis di pagi hari, sore tidak bisa melayani. Jadi kami minta operator lebih disiplin,” tambahnya.
Aktivitas Ekonomi Meningkat, Kuota Harus Diatur Ulang
Menurut Wahyu, fenomena ini bukan akibat SPBU menjual besar-besaran di awal tahun, melainkan karena meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat menjelang akhir tahun.
Sektor perdagangan, transportasi antar kota, dan pertanian semuanya berkontribusi pada lonjakan permintaan solar.
“Sebenarnya ini bukan kelangkaan murni, tapi penyesuaian distribusi karena kebutuhan masyarakat naik. Maka, kuota akhir tahun harus dikendalikan ulang,” tuturnya.
Sebagai solusi, Pertamina mengimbau kendaraan nonpenerima subsidi, seperti mobil pribadi berkapasitas besar atau kendaraan operasional perusahaan, agar menggunakan Pertamina Dex atau BBM nonsubsidi lainnya.
“Dengan begitu, solar subsidi bisa tepat sasaran bagi mereka yang benar-benar berhak,” ujar Wahyu menegaskan.
Masyarakat Diimbau Tenang dan Tidak Panik
Meski antrean panjang masih terjadi di beberapa titik, Pertamina memastikan bahwa pasokan solar di wilayah Jember tetap aman dan terdistribusi sesuai kuota.
Koordinasi antara Pertamina, Hiswana Migas, dan pemerintah daerah terus dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan.
Hendra menutup dengan imbauan agar masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying.
“Solar masih ada. Kami hanya ingin memastikan stoknya bisa cukup sampai akhir tahun. Jadi tidak perlu panik,” pungkasnya.