Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Solar Langka, Warga Kuansing Rela Antre 3 Jam di SPBU!

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 8 November 2025 | 01:16 WIB

 

Illustrasi pengisian BBM. (JAWAPOS.COM)
Illustrasi pengisian BBM. (JAWAPOS.COM)

RADAR KUDUS - Fenomena kelangkaan solar kembali menghantui masyarakat Riau. Setelah sebelumnya terjadi di sejumlah SPBU di Pekanbaru dan Rokan Hulu, kini antrean kendaraan berbahan bakar solar juga terlihat di SPBU Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Kamis (6/11/2025), pemandangan antrean mengular sudah tampak sejak pukul 06.30 WIB. Deretan kendaraan pribadi, mobil pikap, hingga truk kecil memenuhi sepanjang Jalan Proklamasi Telukkuantan, menunggu giliran mengisi solar yang mulai langka.

Dari arah Telukkuantan, antrean bahkan mencapai simpang Bundaran SMAN Pintar Riau, sementara dari arah Pekanbaru mengular hingga ke tikungan MR DIY.

Selama berjam-jam, mesin kendaraan dibiarkan menyala bergantian untuk menghemat bahan bakar. Para sopir dan pemilik kendaraan terlihat duduk di kap mobil atau bersandar di bak pikap, menanti giliran yang tak kunjung tiba.

“Sudah dari subuh antre, tapi baru dapat jam sembilan lewat. Kemarin malah nggak kebagian karena solar habis,” ujar Edi, warga Kuantan Tengah, dengan wajah letih.

Baca Juga: Nelayan Rembang Rela Mengantre Tujuh Jam untuk Dapat Solar

Solar Jadi Barang Langka, Pengendara Tak Punya Pilihan

Bagi sebagian besar warga Kuansing, terutama yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan dan transportasi, solar adalah kebutuhan pokok. Tanpa bahan bakar itu, roda ekonomi berhenti total.

“Kalau nggak antre, gimana mau kerja. Saya harus ke kebun setiap pagi. Sekali nggak dapat solar, bisa rugi banyak,” tutur Yondi, pengendara lainnya yang sudah dua kali gagal mengisi BBM dalam seminggu terakhir.

Meski harus menunggu selama dua hingga tiga jam di bawah terik matahari, para pengendara tetap memilih bertahan di antrean. “Mau gimana lagi, kalau nggak sabar bisa kehabisan lagi,” keluhnya.

Kendaraan yang menumpuk di area SPBU membuat arus lalu lintas tersendat. Beberapa pengendara roda dua bahkan terpaksa memutar arah karena tidak bisa melintasi jalan yang padat oleh antrean mobil solar.

Petugas SPBU Sebut Pasokan Solar Masih Normal

Di tengah kekisruhan tersebut, pihak SPBU Sungai Jering mengaku pasokan solar sebenarnya tidak berkurang. Mega Wahyuna, petugas administrator SPBU, menegaskan distribusi biosolar tetap normal seperti biasanya, yakni 16 kiloliter per hari.

“Kami tidak tahu kenapa antreannya sampai sepanjang ini. Mungkin karena banyak kendaraan dari luar daerah yang ikut antre di sini,” jelas Mega.

Fenomena ini, katanya, bisa jadi akibat pergeseran suplai antar-SPBU. “Kalau di SPBU lain agak telat masuknya, biasanya kendaraan beralih ke sini,” tambahnya.

Pertamina Pastikan Distribusi Aman, Kuota Bio Solar Cukup Hingga Akhir Tahun

Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memastikan distribusi BBM subsidi jenis biosolar di wilayah Riau, termasuk di Rokan Hulu dan Kuantan Singingi, masih dalam batas aman.

Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relation, dan CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, menjelaskan bahwa untuk Triwulan IV 2025, kuota Jenis BBM Tertentu (JBT) biosolar di wilayah Rokan Hulu ditetapkan sebesar 69.690 kiloliter (kl) — meningkat dari kuota sebelumnya sebesar 65.205 kl pada Triwulan III.

“Hingga awal November, penyaluran sudah mencapai 83 persen dari total kuota tahunan. Stok BBM subsidi masih cukup hingga akhir tahun,” tegas Fahrougi.

Ia menambahkan, distribusi biosolar di wilayah Rokan Hulu dilakukan melalui empat SPBU aktif: 14.285.680, 14.285.142, 14.285.6118, dan 14.284.646, dengan tingkat serapan mencapai 80–85 persen dari kuota masing-masing. “Artinya, penyaluran tetap sesuai alokasi pemerintah dan tidak ada pengurangan pasokan,” ujarnya.

Penyebab Antrean: Pergeseran Pasokan dan Lonjakan Permintaan

Menurut Pertamina, antrean panjang di beberapa SPBU bukan disebabkan oleh kelangkaan solar, melainkan oleh lonjakan jumlah kendaraan dan keterlambatan suplai di beberapa titik.

“Ketika satu SPBU mengalami keterlambatan suplai, pengendara otomatis beralih ke SPBU lain. Hal inilah yang memicu antrean panjang di lokasi tertentu,” jelas Fahrougi.

Pertamina memastikan koordinasi telah dilakukan dengan lembaga penyalur untuk menormalkan suplai dan menghindari penumpukan. “Kami berupaya menjaga pola distribusi tetap merata agar masyarakat bisa dilayani dengan baik,” katanya.

Untuk wilayah Kuansing dan Rokan Hulu, distribusi dilakukan dari Integrated Terminal Dumai, yang hingga saat ini dilaporkan dalam kondisi terkendali.

Selain solar subsidi, stok produk nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex juga tersedia dalam jumlah mencukupi di seluruh SPBU wilayah Riau.

Warga Didorong Gunakan Barcode dan Hindari Pembelian Berlebih

Pertamina kembali mengimbau masyarakat agar melakukan pembelian BBM subsidi menggunakan barcode MyPertamina yang sudah terdaftar. Langkah ini, menurut Fahrougi, penting untuk menjaga transparansi distribusi dan mencegah penyelewengan.

“Dengan sistem barcode, penyaluran energi subsidi bisa lebih tepat sasaran dan mudah dipantau,” tegasnya.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan panic buying atau pembelian berlebih, karena stok BBM dinyatakan aman. “Kami jamin pasokan tetap berjalan sesuai kuota nasional. Tidak perlu panik,” katanya.

Untuk aduan atau informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Call Center 135.

Antrean Solar, Cerminan Masalah Klasik yang Belum Usai

Tragedi antrean solar seperti yang terjadi di Kuansing bukanlah hal baru di Indonesia. Setiap kali distribusi sedikit terganggu, antrean panjang langsung muncul — seolah menjadi potret klasik masalah energi di daerah.

Di satu sisi, kebutuhan energi terus meningkat seiring mobilitas masyarakat. Namun di sisi lain, sistem distribusi BBM bersubsidi masih rawan ketimpangan suplai antarwilayah.

Selama mekanisme distribusi belum benar-benar efisien dan data penerima subsidi belum sepenuhnya akurat, antrean solar seperti di SPBU Sungai Jering akan terus berulang.

Bagi warga seperti Edi dan Yondi, yang sehari-hari bergantung pada solar untuk bekerja, antrean bukan sekadar soal waktu. Tapi tentang harapan sederhana agar mesin truk mereka tetap bisa menyala — dan roda kehidupan tetap berputar.

Editor : Mahendra Aditya
#BBM #subsidi bio solar #solar #solar langka #pertamina #antrean solar