Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ledakan di SMA 72 Jakarta: Sosok Siswa Terkapar dan Misteri ‘Senapan Bertuliskan Nama Teroris’, Siapa Sebenarnya FDL?

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 8 November 2025 | 01:04 WIB
Momen Ledakan di Musholla SMA 72
Momen Ledakan di Musholla SMA 72

 

JAKARTA - Suasana SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, mendadak mencekam pada Jumat (7/11/2025) pagi.

Sebuah ledakan keras terdengar dari arah musala sekolah, memicu kepanikan di kalangan siswa dan guru. Beberapa siswa berlarian keluar kelas, sebagian lainnya menjerit ketakutan.

Tak lama berselang, muncul rekaman foto yang beredar cepat di media sosial—menampilkan seorang pria terkapar bersimbah darah di dekat lokasi ledakan.

Pria dalam foto itu mengenakan kaus putih, celana bahan gelap, dan sepatu pantofel hitam. Yang membuat geger, di sisi tubuhnya terlihat sebuah senjata laras panjang.

Namun hingga kini belum ada kepastian apakah senjata itu asli, airsoft gun, atau replika mainan.

Polisi yang tiba di lokasi langsung memasang garis kuning. Tim penjinak bom (Jihandak) juga diterjunkan untuk memastikan tidak ada ancaman bahan peledak lain di area sekolah.

Baca Juga: Motif Ledakan di SMAN 72: Dugaan Balas Dendam Korban Perundungan?

Identitas Siswa Terkapar: Sosok Pendiam yang Mengejutkan Teman Sekelas

Foto pria terkapar itu sontak menyebar di grup WhatsApp para siswa SMA 72. Beberapa di antara mereka mengaku mengenalinya.

“Itu si FDL, anak kelas XII,” ujar Sena, siswa kelas X, saat ditemui wartawan.

Sena tidak melihat langsung kejadian di lokasi karena fokus membantu teman-temannya yang terluka. Namun ia memastikan, pria di foto itu adalah seniornya. Menurutnya, pagi itu FDL datang lewat pintu belakang sekolah.

“Dia diketok-ketok, terus dikasih masuk sama satpam. Soalnya enggak pakai seragam,” tambahnya.

Sementara itu, teman sekelas FDL yang berinisial A mengaku terkejut saat melihat foto tersebut. Ia mengenal FDL sebagai sosok yang sangat pendiam dan tertutup.

“Kalau benar dia pelakunya, kaget banget. Anak itu enggak pernah ngobrol, jarang berinteraksi,” kata A.

Menurut A, FDL tinggal hanya bersama ayahnya setelah orang tuanya bercerai. Di sekolah, ia lebih sering menyendiri saat jam istirahat dan jarang berbaur. “Biasanya makan sendiri di pojokan. Kadang menggambar hal-hal aneh,” ujarnya lirih.

Gambaran Aneh dan Tulisan di Senapan yang Bikin Merinding

Salah satu hal yang menarik perhatian polisi adalah senjata yang ditemukan di dekat tubuh FDL. Senapan itu dipenuhi coretan tulisan tangan berwarna putih.

Di antara tulisan tersebut, tertulis nama-nama yang tak asing bagi dunia internasional: Brenton Tarrant, Luca Traini, dan Alexandre Bissonnette — tiga pelaku penembakan masjid di Selandia Baru, Italia, dan Kanada.

Tulisan itu menimbulkan tanda tanya besar. Apakah FDL terinspirasi oleh aksi terorisme global? Atau hanya menyalin nama-nama itu tanpa makna tertentu? Hingga kini, polisi belum berani berspekulasi.

“Kami masih melakukan penyelidikan menyeluruh. Semua barang bukti sudah diamankan,” ujar seorang sumber di kepolisian.

Menurut kesaksian A, FDL memang gemar menggambar hal-hal bernuansa kelam. “Gambarnya ada darah, ada makhluk aneh.

Kita takut lihatnya,” ujarnya. Ia menambahkan, perubahan sikap FDL mulai terlihat sejak naik ke kelas XI—menjadi semakin tertutup, jarang bicara, dan tampak murung.

Polisi Dalami Motif, Dugaan Inspirasi dari Aksi Teror Dunia

Tim Jihandak Polri dan Inafis telah mengamankan lokasi serta membawa barang bukti ke laboratorium forensik.

Polisi juga mendalami kemungkinan keterkaitan antara ledakan dan simbol-simbol yang ditemukan di sekitar FDL.

“Belum bisa dipastikan apakah ledakan itu berasal dari bahan berbahaya atau bukan. Kami tunggu hasil pemeriksaan,” kata Kapolres Metro Jakarta Utara.

Sumber internal menyebutkan bahwa tulisan nama-nama pelaku penembakan masjid di Eropa di senapan tersebut menjadi fokus penyelidikan.

Pasalnya, kasus Brenton Tarrant pada 2019 di Christchurch, Selandia Baru, menjadi salah satu tragedi besar dunia yang menewaskan 51 orang dan melukai puluhan lainnya.

Sementara dua nama lain, Luca Traini dan Alexandre Bissonnette, juga dikenal karena serangan rasial dan antiimigran yang mengguncang Italia serta Kanada.

Trauma di Sekolah dan Seruan Pencegahan Dini

Pasca-ledakan, suasana SMA 72 masih diliputi ketakutan. Sejumlah siswa dirawat di rumah sakit karena luka ringan.

Pihak sekolah menutup akses media dan menunggu hasil resmi penyelidikan. “Kami fokus pada pemulihan psikologis siswa dan tenaga pendidik,” kata kepala sekolah setempat.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Prameswari, menilai insiden ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan.

“Kita perlu memperhatikan kesehatan mental siswa, terutama mereka yang menunjukkan perubahan perilaku ekstrem, isolatif, atau tertarik pada kekerasan simbolik,” ujarnya.

Menurut Ratna, sekolah harus memperkuat bimbingan konseling dan pengawasan digital agar potensi bahaya seperti ini dapat dicegah sejak dini.

Ledakan yang Mengguncang Nurani

Kasus ledakan di SMA 72 Jakarta bukan sekadar insiden teknis. Di balik asap dan puing, ada kisah tentang seorang remaja yang terjebak dalam kesunyian dan mungkin, dalam kegelapan pikirannya sendiri.

Kisah FDL menjadi pengingat betapa pentingnya komunikasi, empati, dan perhatian di lingkungan pendidikan. Di era digital, di mana informasi ekstrem begitu mudah diakses, satu kelengahan kecil bisa berujung tragedi besar.

Polisi masih terus menyelidiki sumber ledakan dan motif di balik peristiwa ini. Publik menanti jawaban—apakah ini kecelakaan, tindakan iseng, atau gejala lebih dalam dari krisis generasi muda yang haus makna namun kehilangan arah.

Editor : Mahendra Aditya
#SMA 72 Kelapa Gading #SMA 72 #SMAN 72 Kelapa Gading #SMAN 72 Jakarta #SMAN 72 #ledakan SMA 72