RADAR KUDUS - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pesan yang jarang terdengar dari pejabat tinggi negara.
Dalam Rapat Kerja Komite IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (3/11), ia menegaskan bahwa seluruh kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki satu misi utama: membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi kaya.
Dengan nada tegas namun penuh semangat, Purbaya menyampaikan, “Seluruh kegiatan pemerintah, DPR, dan DPD memiliki tujuan yang sama — untuk membuat seluruh masyarakat kita jadi kaya. Jadi, saya selalu bilang, mari kita kaya bersama. Itu tujuan kita.”
Bagi Purbaya, keberhasilan ekonomi bukan diukur dari seberapa banyak pejabat atau kelompok elite memperkaya diri, tetapi dari seberapa besar kesejahteraan bisa dirasakan masyarakat luas.
Baca Juga: Ini Alasan Menkeu Purbaya Balik Serang Kritik Hasan Nasbi dengan Data
APBN untuk Semua, Bukan untuk Segelintir
Purbaya dengan gamblang menyoroti kesenjangan yang selama ini menjadi duri dalam daging pembangunan nasional.
Ia menolak paradigma lama yang menjadikan pertumbuhan ekonomi sekadar angka di atas kertas, tanpa efek nyata bagi masyarakat kecil.
“Kalau kaya sendiri, ya dia memang sudah kaya. Tapi kan sebagian besar masyarakat kita belum begitu,” ujarnya lugas.
Dalam pandangannya, tujuan sejati APBN bukanlah menumpuk angka pada grafik pertumbuhan, melainkan mendistribusikan kesejahteraan secara merata.
Pemerintah, kata dia, harus memaksimalkan setiap rupiah dari anggaran negara agar berputar di tangan rakyat — menciptakan lapangan kerja, mendorong produktivitas, dan meningkatkan daya beli.
Memaksimalkan Semua Sumber Daya Negara
Bukan hanya uang, menurut Purbaya, pemerintah juga memiliki aset strategis lain: kebijakan dan kekuatan ekonomi-politik. Ketiganya harus bekerja selaras untuk mencapai cita-cita “kaya bersama”.
“Itu bukan keberhasilan kita kalau cuma bikin kaya sebagian orang. Tujuan kita adalah memaksimalkan uang yang kita punya, kebijakan yang kita miliki, dan kekuatan ekonomi-politik yang tersedia untuk memakmurkan rakyat,” jelasnya.
Pernyataan ini mencerminkan paradigma baru dalam kebijakan fiskal: ekonomi inklusif.
Pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, menurutnya, ingin memastikan setiap program pembangunan tidak hanya menambah PDB, tapi juga menyentuh langsung kehidupan rakyat kecil.
Menghidupkan Kembali Semangat Ekonomi dari Era Kemerdekaan
Dalam pertemuan perdananya dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Purbaya menyinggung bahwa cita-cita “makmur bersama” sesungguhnya sudah diwariskan sejak era kemerdekaan.
“Mungkin sejak kemerdekaan, tujuan kita memang sudah itu. Tapi jalannya sering lupa, kadang nggak optimal,” katanya jujur.
Ia menilai bahwa selama beberapa dekade, kebijakan ekonomi Indonesia kerap kehilangan arah. Program demi program dijalankan, namun belum mampu menyentuh akar ketimpangan yang membuat sebagian rakyat masih hidup pas-pasan.
Sebagai mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya memahami betul bagaimana stabilitas keuangan dapat menjadi pondasi untuk pemerataan kesejahteraan.
Ia mengakui bahwa tugas yang diembannya dari Presiden Prabowo bukan hanya menjaga fiskal tetap sehat, tetapi juga mengarahkan ekonomi ke jalur yang benar—ke arah yang menyejahterakan semua.
Tugas dari Presiden Prabowo: Bawa Ekonomi ke Arah Lebih Baik
Purbaya secara terbuka menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto menugaskannya untuk memastikan perekonomian Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik.
Ia bahkan mengakui bahwa tanpa disadari, Indonesia sempat berada di titik yang membahayakan secara ekonomi.
“Aku ngaku aja ya, Presiden menugaskan saya untuk membawa ekonomi kita ke arah yang lebih baik. Karena sebelumnya, tanpa kita sadari, kita sempat mengalami keadaan yang cukup membahayakan bagi negara,” ungkapnya.
Pernyataan ini seolah menjadi alarm dan refleksi bersama — bahwa Indonesia perlu membangun sistem ekonomi yang tangguh, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat banyak.
Dari Slogan Jadi Gerakan Nasional
Pernyataan “Mari Kita Kaya Bersama” bukan sekadar slogan optimistis, tetapi sebuah arah kebijakan baru yang menempatkan kesejahteraan rakyat di pusat perhatian fiskal negara.
Langkah-langkah seperti penguatan APBN yang pro-rakyat, reformasi pajak melalui sistem Coretax, dan peningkatan efisiensi belanja negara menjadi bagian dari strategi besar menuju pemerataan ekonomi.
Namun, Purbaya menyadari, semua itu hanya akan berhasil jika ada sinergi kuat antara pemerintah pusat, DPR, DPD, dan masyarakat.
Ia menyerukan agar setiap elemen bangsa ikut berpartisipasi dalam memperjuangkan ekonomi yang adil dan inklusif.
Analisis: Saatnya Mengubah Arah Pembangunan Nasional
Pernyataan Menkeu Purbaya menandai pergeseran paradigma penting dalam ekonomi Indonesia. Ia ingin mengembalikan esensi pembangunan — dari sekadar angka menuju makna sejati: kesejahteraan rakyat.
Di tengah tantangan global dan tekanan ekonomi dunia, langkah ini menjadi sinyal bahwa Indonesia siap bertransformasi menjadi negara dengan ekonomi berdaulat dan berkeadilan.
APBN tidak lagi sekadar alat birokrasi, tapi menjadi senjata utama untuk menciptakan pemerataan.
Visi “kaya bersama” mencerminkan tekad agar pertumbuhan ekonomi tak hanya dinikmati oleh korporasi besar atau elit politik, tetapi juga petani, nelayan, buruh, hingga pelaku UMKM.
Ucapan Purbaya Yudhi Sadewa seolah menjadi panggilan moral bagi seluruh pemangku kebijakan — bahwa kesejahteraan sejati hanya bisa tercapai jika semua orang tumbuh bersama.
“Mari kita kaya bersama,” bukan sekadar kalimat manis di ruang rapat. Ia adalah seruan perubahan agar setiap rupiah dari APBN benar-benar kembali ke rakyat, bukan sekadar lewat di atas kertas laporan anggaran.
Jika visi ini konsisten dijalankan, maka Indonesia bukan hanya akan tumbuh — tapi makmur bersama, dari Sabang sampai Merauke.
Editor : Mahendra Aditya