Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gunung Semeru “Terbatuk” Enam Kali Pagi Ini, Kolom Abu Menyembur 700 Meter, Warga Diminta Siaga!

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 21 Oktober 2025 | 15:20 WIB
Erupsi Gunung Semeru
Erupsi Gunung Semeru

RADAR KUDUS - Gunung Semeru, yang dikenal sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Selasa pagi (21/10/2025).

Dalam rentang waktu kurang dari enam jam, gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini mengalami enam kali erupsi beruntun, dengan kolom abu mencapai ketinggian 700 meter di atas puncak.

Laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru di Pos Gunung Sawur, yang disampaikan oleh petugas pengamat Liswanto, mencatat aktivitas intens sejak dini hari.

“Erupsi teramati pertama kali pada pukul 00.20 WIB dan berlanjut hingga pagi hari. Letusan terakhir tercatat pukul 05.53 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak,” ujarnya dikutip dari Antara.

Arah Abu dan Aktivitas Vulkanik

Liswanto menjelaskan, kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, mengarah ke sektor selatan.

Letusan bertubi-tubi juga terekam pada pukul 00.23 WIB, 00.35 WIB, 05.21 WIB, 05.32 WIB, hingga 05.53 WIB. “Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung,” tambahnya.

Kolom abu yang membumbung ke udara ini mengindikasikan bahwa tekanan magma di perut bumi Semeru masih tinggi.

Warga sekitar melaporkan sempat mendengar dentuman ringan serta melihat hujan abu tipis di beberapa desa sekitar Kecamatan Pronojiwo.

PVMBG Pertahankan Status “Waspada”

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan bahwa status Gunung Semeru masih berada di Level II atau Waspada.

Meski belum menunjukkan tanda peningkatan signifikan menuju level Siaga, aktivitas vulkanik yang padat pagi ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat sekitar.

PVMBG mengeluarkan imbauan keras:

Warga dilarang beraktivitas di sektor tenggara sejauh 8 kilometer dari puncak, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan.

Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak diperbolehkan berada dalam radius 500 meter dari tepi sungai karena potensi awan panas dan aliran lahar bisa mencapai hingga 13 kilometer dari puncak.

Aktivitas warga juga dilarang dalam radius 3 kilometer dari kawah utama guna menghindari bahaya lontaran batu pijar dan material vulkanik. 

“Warga perlu tetap waspada terhadap kemungkinan awan panas guguran, aliran lava, dan lahar hujan yang dapat muncul sewaktu-waktu,” tegas PVMBG dalam keterangannya.

Ancaman Lahar dan Guguran Lava

PVMBG juga mengingatkan bahwa sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru menjadi jalur utama aliran material vulkanik.

Di antaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat — keempatnya menjadi titik rawan jika terjadi lahar hujan.

“Jika hujan turun deras di sekitar puncak, material vulkanik yang tertimbun di lereng bisa terbawa air dan menjadi lahar panas yang meluncur cepat,” ujar Liswanto. Ia juga menambahkan bahwa warga di bantaran sungai diminta segera menjauh bila terdengar suara gemuruh atau melihat perubahan warna air. 

Semeru dan Rekam Jejak Erupsinya

Gunung Semeru — dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) — merupakan gunung api paling aktif di Jawa Timur.

Letusan demi letusan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat bahwa Semeru tidak pernah benar-benar tidur.

Pada Desember 2021, gunung ini sempat menimbulkan bencana besar akibat awan panas guguran yang melanda beberapa desa di Lumajang.

Puluhan orang meninggal dunia dan ribuan rumah rusak berat. Sejak saat itu, kawasan sekitar gunung selalu berada dalam pengawasan ketat petugas PVMBG.

Meskipun aktivitas kali ini belum sebesar peristiwa 2021, para ahli menilai bahwa frekuensi erupsi beruntun seperti pagi ini menunjukkan adanya tekanan magma baru dari bawah permukaan bumi yang sedang mencari jalur keluarnya.

BPBD Lumajang Aktifkan Sistem Peringatan Dini

Menanggapi laporan PVMBG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang langsung meningkatkan kesiapsiagaan. Petugas melakukan pemantauan di pos-pos strategis dan menyiapkan jalur evakuasi bagi warga di sektor tenggara gunung.

“Sejauh ini belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan besar. Namun kami tetap siaga penuh karena aktivitas erupsi masih terjadi,” ujar perwakilan BPBD Lumajang.

Di sisi lain, petugas kesehatan dan relawan PMI disiagakan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.

BPBD juga membagikan masker dan kacamata pelindung kepada warga di sekitar Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo.

Hujan Bisa Memicu Lahar Susulan

Cuaca di kawasan Lumajang bagian selatan dilaporkan mendung sejak pagi, meningkatkan potensi turunnya hujan di sekitar lereng Semeru.

Jika curah hujan tinggi, maka material abu dan lava yang menumpuk di lereng bisa longsor dan menimbulkan lahar dingin di sungai-sungai sekitar.

PVMBG kembali mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan peringatan cuaca ekstrem. Awan panas dan lahar bisa datang tiba-tiba bahkan setelah erupsi mereda. “Kewaspadaan adalah kunci keselamatan,” tegas Liswanto.

Harapan dan Kewaspadaan

Semeru, Antara Keindahan dan Ancaman Alam

Gunung Semeru bukan hanya simbol geografis, tetapi juga ikon spiritual dan alam bagi masyarakat Jawa Timur.

Banyak pendaki menganggapnya sebagai gunung suci, namun setiap letusan mengingatkan bahwa alam memiliki kekuatannya sendiri yang tidak bisa ditantang.

Kehidupan di lereng gunung tetap berjalan — para petani, pedagang, dan warga setempat sudah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman erupsi. Namun pagi ini, mereka kembali diingatkan untuk tidak lengah.

Semeru mungkin hanya “terbatuk,” tetapi batuknya bisa membawa ancaman besar bagi siapa pun yang tidak siap.

Editor : Mahendra Aditya
#gunung semeru #erupsi gunung semeru