Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terjebak Scam Mafia Online Kamboja, 97 WNI Nekat Kabur: 11 Dirawat, 4 Ditahan!

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:46 WIB
Ilustrasi Ketakutan
Ilustrasi Ketakutan

RADAR KUDUS - Gelombang kabar mengejutkan datang dari Kamboja. Sebanyak 97 warga negara Indonesia (WNI) dilaporkan berhasil melarikan diri dari perusahaan penipuan online (online scam) di kota Chrey Thum, Provinsi Kandal.

Namun di balik keberhasilan kabur itu, terselip kisah kelam penuh ketegangan, luka, dan kericuhan yang menyeret sejumlah nama ke ranah hukum.

KBRI Phnom Penh mengonfirmasi bahwa dari total 97 WNI tersebut, 86 orang kini ditahan oleh kepolisian setempat, sementara 11 lainnya tengah menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka-luka setelah peristiwa pelarian yang terjadi pada 17 Oktober 2025 itu.

Aksi Kabur Massal di Tengah Ketakutan

Video amatir yang tersebar di media sosial memperlihatkan detik-detik kepanikan puluhan orang yang berlari keluar dari kompleks sebuah bangunan di Chrey Thum. Mereka diduga adalah para pekerja Indonesia yang selama ini disekap dan dipaksa bekerja dalam jaringan penipuan daring lintas negara.

Menurut laporan Antara, aksi pelarian besar-besaran itu memicu kekacauan. Sejumlah WNI dilaporkan terlibat keributan sesama mereka, yang akhirnya memicu intervensi polisi lokal.

KBRI Phnom Penh segera bertindak cepat setelah mendapat laporan.

“Begitu kami menerima informasi soal penangkapan pada 17 Oktober, tim langsung berkoordinasi dengan kepolisian Kamboja dan mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi para WNI,” ujar pihak KBRI dalam keterangan resmi, Minggu (19/10).

Upaya Evakuasi dan Bantuan Kemanusiaan

KBRI Phnom Penh bergerak sigap memberikan bantuan darurat kepada para korban. Makanan siap saji, obat-obatan, dan kebutuhan dasar seperti perlengkapan sanitasi dan kebutuhan perempuan langsung disalurkan ke lokasi penahanan.

KBRI juga memastikan setiap WNI mendapatkan hak konsuler, termasuk akses komunikasi dan bantuan hukum.

“Kami memastikan hak-hak mereka tetap terpenuhi dan terus memantau perkembangan kasus hingga proses pemulangan selesai,” tegas perwakilan KBRI.

Selain itu, otoritas Provinsi Kandal telah memutuskan akan memindahkan para WNI ke penahanan imigrasi di Phnom Penh sebagai langkah awal sebelum proses deportasi ke Indonesia dilakukan.

Kericuhan dan Empat WNI yang Ditetapkan Sebagai Pelaku Kekerasan

Namun, di balik drama penyelamatan ini, muncul sisi gelap lain: empat WNI justru ditahan oleh kepolisian Kamboja karena diduga melakukan tindak kekerasan terhadap rekan sesama WNI.

Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, mengungkapkan bahwa kericuhan tersebut menjadi salah satu pemicu intervensi polisi.

“Dari 86 yang diamankan, empat orang ditahan karena diduga melakukan kekerasan terhadap WNI lain,” kata Judha saat ditemui di Jakarta, Senin (20/10).

Menurutnya, perkelahian terjadi saat sekelompok WNI berusaha kabur dari tempat kerja mereka, memicu kepanikan massal.

Tim KBRI disebut telah mendapat akses kekonsuleran penuh dan telah menemui empat WNI yang ditahan untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja. 

Korban Luka dan Kondisi di Rumah Sakit

Selain mereka yang ditahan, 11 WNI lainnya kini dirawat di rumah sakit akibat luka fisik dan kelelahan setelah insiden pelarian.

Kemenlu memastikan tidak ada yang dalam kondisi kritis.

“Kami sudah temui mereka di rumah sakit. Tidak ada yang mengancam nyawa, hanya luka-luka ringan dan trauma akibat kejadian itu,” jelas Judha.

Trauma psikologis menjadi tantangan tersendiri. Sebagian korban masih ketakutan berbicara atau menceritakan pengalaman mereka.

Pihak KBRI telah menyiapkan pendampingan psikologis dan medis hingga mereka kembali ke tanah air.

Janji Pemerintah: Pastikan Pemulangan dan Perlindungan

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menegaskan komitmennya untuk memulangkan seluruh WNI korban penipuan online di Kamboja secepat mungkin.

“Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan otoritas Kamboja untuk memastikan perlindungan hukum dan pemulangan mereka,” kata Judha.

Langkah diplomatik tengah dilakukan melalui KBRI Phnom Penh, termasuk mengupayakan proses deportasi yang aman dan cepat.

Kemenlu juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran kerja luar negeri yang tidak jelas asal-usulnya.

Jerat Online Scam: Perbudakan Digital Berkedok Lowongan Kerja

Kasus ini membuka kembali tabir kelam perdagangan manusia digital yang marak terjadi di Asia Tenggara.

Modusnya tampak sederhana: warga dijanjikan pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri, namun sesampainya di lokasi, mereka dipaksa bekerja sebagai operator penipuan online (scammer) yang menargetkan korban internasional.

Kamboja, Laos, dan Myanmar dikenal sebagai pusat aktivitas online scam yang kerap melibatkan ribuan pekerja ilegal dari Asia, termasuk Indonesia.

Para korban biasanya disekap, bekerja di bawah pengawasan ketat, dan tidak diperbolehkan keluar tanpa izin.

Pelarian 97 WNI ini menunjukkan skala kejamnya bisnis gelap digital yang terus menelan korban dari berbagai negara.

Diplomasi Krisis dan Tanggung Jawab Negara

Kasus di Kamboja menjadi ujian bagi diplomasi Indonesia dalam melindungi warganya di luar negeri.

KBRI Phnom Penh sebelumnya juga telah menangani kasus serupa di Sihanoukville dan Bavet, menunjukkan bahwa masalah ini bukan insiden tunggal, melainkan pola eksploitasi sistematis.

Kemenlu Indonesia kini mendorong kerja sama lintas negara ASEAN untuk membongkar jaringan mafia digital lintas batas ini.

Pemerintah berencana memperkuat deteksi dini dan literasi digital, agar masyarakat tidak lagi mudah tergiur tawaran kerja palsu yang berujung penyekapan. 

Pelajaran Pahit dari Kamboja: Antara Harapan dan Trauma

Kisah 97 WNI ini menjadi peringatan keras bagi generasi muda Indonesia di era digital.

Di balik janji pekerjaan mudah dan gaji besar, tersimpan jebakan berbahaya yang bisa mengubah hidup seseorang menjadi mimpi buruk.

Bagi korban yang kini menunggu pemulangan, rumah adalah satu-satunya harapan.

Mereka hanya ingin pulang, memulai hidup baru, dan melupakan trauma dari “neraka digital” di Kamboja.

Pemerintah Indonesia kini berpacu dengan waktu — memastikan seluruh WNI kembali dengan selamat, sehat, dan bermartabat. 

Editor : Mahendra Aditya
#WNI kabur dari Kamboja #penipuan #Scam #online scam #kamboja