Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Langit Halmahera Kelabu! Gunung Ibu Erupsi, Kolom Abu Capai 600 Meter

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 20 Oktober 2025 | 02:19 WIB

Gunung Ibu
Gunung Ibu

RADAR KUDUS - Gunung Ibu, salah satu gunung api paling aktif di Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan.

Minggu pagi (19/10/2025), pukul 10.09 WIT, gunung yang terletak di Kabupaten Halmahera Barat itu kembali erupsi, memuntahkan kolom abu kelabu pekat setinggi 600 meter di atas puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ibu, Richard Chaniago, melaporkan bahwa semburan abu vulkanik kali ini terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum 10 mm dan durasi 1 menit 6 detik.

“Arah sebaran abu condong ke barat laut, dengan intensitas cukup tebal,” ungkap Richard dalam keterangan resmi.

Erupsi ini menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik Gunung Ibu masih jauh dari kata tenang. Gunung setinggi 1.325 meter di atas permukaan laut itu kini berstatus Level II (Waspada), menandakan adanya potensi peningkatan aktivitas sewaktu-waktu.


Langit Halmahera Kembali Kelabu

Warga di sekitar Gunung Ibu melaporkan perubahan mendadak di langit Halmahera Barat. Abu vulkanik yang dikeluarkan gunung membuat udara tampak kelabu dan jarak pandang berkurang.

Di beberapa desa, terutama di bagian barat laut lereng gunung, butiran halus abu sudah mulai menutupi atap rumah dan kendaraan.

“Sekitar jam sepuluh lewat, kami dengar suara gemuruh kecil, lalu langit mulai gelap karena abu,” ujar Nurdin, warga Desa Duono, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari lereng gunung. Ia dan keluarganya segera mengenakan masker seadanya dan menutup sumber air agar tidak tercemar abu vulkanik.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana Gunung Ibu harus tetap waspada.

Radius 2 kilometer dari kawah utama dilarang untuk aktivitas manusia, dengan perluasan sektoral hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara.


Status Waspada: Peringatan untuk Tidak Abaikan Sinyal Alam

PVMBG menegaskan bahwa meski erupsi kali ini tergolong kecil, sinyal peningkatan aktivitas vulkanik perlu diwaspadai. Status Level II (Waspada) menandakan bahwa aktivitas magma di bawah permukaan masih berlangsung dan bisa meningkat kapan saja.

“Gunung Ibu termasuk tipe gunung api yang sering erupsi dengan pola fluktuatif,” ujar seorang ahli vulkanologi dari Badan Geologi, Dr. Rendy Hutagalung.

“Artinya, setelah periode relatif tenang, biasanya muncul letusan-letusan pendek dengan abu pekat. Jika energi terus terakumulasi, bisa berpotensi letusan yang lebih besar.”

Gunung Ibu memang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia bagian timur. Dalam dua tahun terakhir, gunung ini tercatat beberapa kali mengalami erupsi skala kecil hingga sedang, dengan kolom abu bervariasi antara 300–1000 meter.


Warga Dihimbau Gunakan Masker dan Hindari Aktivitas di Luar Ruangan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Barat telah mengimbau masyarakat yang masih beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan masker dan kacamata pelindung. Partikel abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, dan saluran pernapasan.

“Jika terjadi hujan abu, mohon masyarakat tetap di dalam rumah dan menutup sumber air bersih. Air yang tercemar abu tidak boleh digunakan untuk minum atau memasak,” ujar Richard. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga jarak aman dari radius bahaya, karena meski terlihat kecil, letusan seperti ini bisa disertai lontaran batu pijar.


Aktivitas Gunung Api: Sebuah Siklus Alam yang Tak Pernah Usai

Erupsi Gunung Ibu kali ini menambah panjang daftar aktivitas vulkanik di kawasan Maluku Utara. Sebelumnya, gunung-gunung lain di wilayah Indonesia bagian timur juga menunjukkan peningkatan aktivitas, seperti Gunung Dukono di Halmahera Utara dan Gunung Lewotobi di NTT. Kondisi ini menunjukkan bahwa Sabuk Api Pasifik yang melintas di Indonesia bagian timur sedang berada dalam fase aktif.

Namun bagi sebagian warga, kehidupan di lereng gunung sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka terbiasa dengan gemuruh kecil, bau belerang, dan semburan abu. “Kami sudah tahu kapan harus siap-siap, tapi tetap saja kalau meletus tiba-tiba, tetap kaget,” kata Nurdin sambil tertawa getir.


Upaya Pemantauan dan Mitigasi Terus Ditingkatkan

Pemerintah melalui PVMBG dan BMKG terus melakukan pemantauan aktivitas Gunung Ibu menggunakan peralatan seismik dan sensor gas vulkanik. Data real-time dari pos pengamatan di Kecamatan Ibu dipantau 24 jam penuh.

Selain itu, tim relawan desa juga dilatih untuk melakukan evakuasi cepat jika terjadi letusan besar. “Kami ingin warga tahu apa yang harus dilakukan begitu mendengar sirine atau pengumuman dari pos pantau,” ujar Kepala BPBD Halmahera Barat, M. Yusuf Laturette.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan dampak bencana gunung api. “Gunung tidak bisa dihentikan, tapi manusia bisa belajar untuk lebih siap,” tambahnya.


Gunung Ibu dan “Nafas Panas” dari Perut Bumi

Secara geologis, Gunung Ibu berada di atas zona subduksi antara lempeng Pasifik dan Eurasia. Aktivitas pergerakan lempeng ini menimbulkan tekanan besar di bawah kerak bumi yang menyebabkan magma terdorong ke permukaan. Itulah sebabnya, gunung-gunung di kawasan ini sering mengalami erupsi secara berkala.

Gunung Ibu memiliki kawah aktif di bagian utara puncak dengan aktivitas fumarola (asap belerang) yang terus keluar hampir setiap hari. Para ahli menyebut kondisi ini sebagai “nafas panas bumi” — tanda bahwa perut bumi di kawasan itu sedang hidup dan dinamis.


Antara Bahaya dan Keindahan Alam

Meski berstatus waspada, Gunung Ibu tetap menjadi salah satu daya tarik wisata alam di Halmahera Barat. Dari kejauhan, siluet gunung yang berdiri megah di tepi hutan tropis terlihat memesona, terutama saat matahari terbit. Namun di balik keindahan itu, tersimpan kekuatan alam yang luar biasa dan tak bisa diprediksi.

Beberapa wisatawan yang sempat datang sebelum peningkatan aktivitas mengaku kagum dengan keindahan alam sekitar gunung. “Dari puncak Bukit Idam, kita bisa lihat Gunung Ibu dengan latar belakang laut biru. Tapi sekarang tentu lebih baik menunggu kondisi aman dulu,” ujar Lina, wisatawan asal Manado.


Catatan Akhir: Jangan Anggap Remeh Sinyal Alam

Erupsi kali ini kembali menjadi pengingat penting bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan alam yang aktif dan penuh dinamika. Setiap letusan, sekecil apapun, adalah sinyal bagi manusia untuk terus waspada dan belajar memahami bahasa alam.

Gunung Ibu mungkin hanya satu dari ratusan gunung api di Nusantara, tetapi setiap semburan abunya membawa pesan kuat — bahwa keseimbangan alam harus selalu dijaga, dan kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam menghadapi murka bumi.

Editor : Mahendra Aditya
#gunung ibu #Gunung Ibu Erupsi #Gunung Ibu di Maluku Utara #gunung ibu di halmahera erupsi