RADAR KUDUS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan dimulainya “fase kedua” gencatan senjata di Gaza setelah tahap pertama berhasil membebaskan 20 sandera Israel.
Kesepakatan ini merupakan hasil mediasi dari Turki, Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir.
“Seluruh dua puluh sandera telah kembali. Perasaan semua orang luar biasa lega,” tulis Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, Selasa (14/10). Ia menegaskan bahwa perjuangan belum selesai.
“Beban besar telah terangkat, namun pekerjaan belum tuntas. Mereka yang gugur harus tetap dipulangkan! Fase Dua dimulai sekarang!!!” tambahnya.
Dalam tahap awal kesepakatan, Hamas dan Israel melakukan pertukaran sandera dan tahanan, yang membebaskan ratusan warga Palestina dari penjara militer Ofer serta beberapa fasilitas penahanan lain di Gurun Negev.
Sementara itu, semua sandera Israel yang masih hidup telah dikembalikan ke negaranya.
Trump bersama Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi sebelumnya menggelar pertemuan tingkat tinggi di Sharm el-Sheikh, Mesir, guna menggalang dukungan internasional bagi rencana perdamaian baru di Gaza.
Fase kedua dari kesepakatan yang diinisiasi AS itu mencakup pembentukan struktur pemerintahan baru di Gaza, pembentukan pasukan multinasional, serta upaya perlucutan senjata Hamas.
Sejak Oktober 2023, konflik berkepanjangan di Gaza telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Wilayah tersebut kini nyaris tak layak huni akibat kerusakan masif dan krisis kemanusiaan.
Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza di Mesir pada Senin lalu.
Menurut lembaga riset kebijakan GREAT Institute, kehadiran Prabowo di forum internasional tersebut menunjukkan pengakuan global terhadap kredibilitas diplomasi Indonesia.
“Partisipasi Presiden Prabowo di KTT Gaza membuktikan bahwa kepemimpinan Indonesia kini bersifat nyata, bukan hanya simbolik. Dunia melihat Indonesia sebagai mediator yang memiliki kapasitas konkret,” ujar Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Ia menilai, posisi Indonesia kini kian kuat sebagai “bridge of peace” atau jembatan perdamaian di tengah ketegangan global.
Hal ini mempertegas komitmen Jakarta terhadap kemanusiaan dan diplomasi aktif dalam menyelesaikan konflik.
“Kami sangat mengapresiasi kesungguhan Presiden Prabowo dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina,” ucap Syahganda.
Dunia internasional juga mencatat pujian terbuka dari Donald Trump kepada Prabowo setelah pertemuan tersebut.
Menurut Syahganda, hal ini menandai pengakuan Amerika Serikat terhadap peran penting Indonesia dalam arsitektur perdamaian dunia.
“Ucapan Trump itu bukan hal kecil. Itu menunjukkan komunikasi Prabowo sudah melampaui batas formal diplomatik,” tambahnya.
Interaksi langsung antara Prabowo dan Trump usai konferensi pers disebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki jalur komunikasi strategis yang jarang dimiliki negara berkembang lainnya.
“Bahkan, dialog singkat Prabowo dan Trump terkait permintaan untuk bertemu langsung dengan Eric Trump tanpa perantara, yang sempat menjadi sorotan media, memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki akses diplomatik yang cukup istimewa,” ujar Syahganda.
Peneliti senior Desk Politik GREAT Institute, Hanief Adrian, menilai bahwa KTT Gaza menjadi momentum refleksi kebijakan luar negeri Indonesia, terutama dalam menjalankan amanat konstitusi.
Yaitu diplomasi untuk menjaga perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan dan keadilan sosial.
“Kehadiran Prabowo adalah wujud nyata pelaksanaan amanat konstitusi. Kita tidak hanya mendukung kemerdekaan Palestina, tetapi juga menegaskan komitmen terhadap perdamaian global,” kata Hanief.
Menurutnya, KTT Gaza berpotensi menghadirkan stabilitas baru di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperlihatkan kesiapan negara-negara berpenduduk Muslim untuk berkontribusi secara aktif terhadap perdamaian dunia.
“Pendirian terhadap jalur perundingan mencerminkan nilai demokratis sekaligus makna sejati dari Islam, yakni perdamaian,” ujarnya.
Selain itu, ia juga memuji inisiatif pemerintah untuk mengirimkan 20 ribu prajurit TNI sebagai pasukan penjaga perdamaian di Gaza, sebuah langkah yang menunjukkan komitmen nyata Indonesia dalam diplomasi aktif dan humanis di kancah internasional.
Editor : Ali Mustofa