RADAR KUDUS — Indonesia menyambut positif tercapainya gencatan senjata tahap pertama antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza.
Pemerintah menyatakan kesiapannya untuk mendukung proses rekonstruksi dan pemulihan di wilayah yang hancur tersebut.
Menurut Kementerian Luar Negeri RI, kesepakatan ini merupakan langkah penting menghentikan kekerasan permanen di Gaza.
Baca Juga: Tsunami Minor Terdeteksi di Talaud Usai Gempa M7,6 di Laut Filipina
Pemerintah berharap akses bantuan kemanusiaan dapat dibuka seluas-luasnya dan menyatakan kesediaannya ikut aktif dalam pemulihan kawasan.
Indonesia juga menegaskan bahwa setiap poin kesepakatan harus dijalankan dengan iktikad baik oleh semua pihak.
Momentum ini didorong untuk mengembalikan proses perdamaian Palestina dan merealisasikan solusi dua negara sesuai hukum dan resolusi internasional.
Pemerintah turut memberi apresiasi kepada AS, Mesir, Qatar, dan Turki atas peran mereka sebagai mediator dalam negosiasi gencatan senjata.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap awal Rencana Perdamaian Gaza.
Kesepakatan mencakup pembebasan sandera, penarikan pasukan, dan penghentian operasi militer.
Sekjen PBB Antonio Guterres turut menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai upaya meredakan konflik berkepanjangan di Gaza.
Baca Juga: Gempa M7,6 di Laut Filipina Picu Tsunami Minor di Sulawesi Utara, Warga Diminta Tetap Tenang
Namun, tak lama setelah pengumuman gencatan senjata, Israel kembali melancarkan serangan udara.
Empat warga sipil terluka di Zeitoun, Gaza; di Khan Younis dilaporkan tiga orang juga terkena tembakan artileri.
Suara ledakan terdengar di Tel Hawa dan Sabra, sementara belum ada angka pasti korban jiwa.
Gencatan senjata diumumkan menyusul perundingan di Sharm el-Sheikh dengan proposal damai 20 poin oleh AS, mencakup penghentian militer, pertukaran tahanan, hingga rekonstruksi Gaza.
Sejak operasi militer Israel dimulai Oktober 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak, sedangkan Gaza kini nyaris tak dapat dihuni.
Pejabat Pertahanan Sipil Gaza, Mohammed Al-Mughayyir, melaporkan bahwa ledakan kembali terdengar di Gaza Utara setelah pengumuman genjatan senjata, meski kesepakatan telah dicapai.
Editor : Ali Mustofa