RADAR KUDUS - Seharusnya Monas bersiap jadi saksi pesta kebanggaan militer pada HUT ke-80 TNI.
Namun, sehari sebelum upacara puncak, kabar memilukan mengguncang: seorang prajurit Kostrad, Pratu Johari Alfarizi, gugur usai terjatuh dari tank Marder yang sedang diangkut dengan transporter.
Dari ketinggian sekitar empat meter, tubuhnya menghantam keras hingga menyebabkan patah leher.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (4/10/2025) malam, hanya beberapa jam sebelum upacara besar berlangsung.
Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh Pangkostrad Letjen TNI Mohammad Fadjar. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Betul, ada prajurit kita gugur,” ujarnya singkat penuh duka.
Sang Prajurit dan Janji Hidup yang Terputus
Almarhum Johari bukan sekadar seorang prajurit. Ia adalah suami sekaligus calon ayah. Di rumah, ada seorang istri bernama Siti Mardhiyah yang tengah mengandung tujuh bulan, menanti kehadiran buah hati pertama mereka.
Tragedi ini merenggut bukan hanya satu nyawa, tetapi juga harapan sebuah keluarga muda. Kepergian Johari meninggalkan luka mendalam, terutama bagi sang istri yang kini harus menjalani sisa kehamilannya dalam kesendirian, ditemani bayang-bayang pengorbanan sang suami.
Penghormatan dan Pemakaman Militer
Jenazah Johari segera diterbangkan ke Aceh Tenggara, kampung halamannya, dan dimakamkan dengan upacara militer penuh hormat pada Minggu (5/10/2025). Para perwira, rekan satuan, hingga masyarakat setempat hadir memberikan penghormatan terakhir.
Santunan disampaikan oleh pimpinan tertinggi TNI, mulai dari Panglima TNI, Pangkostrad, hingga komandan satuan.
Namun, di balik penghormatan itu, tetap ada pertanyaan yang menggelayuti: mengapa prajurit muda ini harus gugur dalam situasi yang seharusnya penuh kehormatan, bukan tragedi?
Tragedi Ganda di Perayaan HUT TNI
Duka tidak berhenti pada Johari. Beberapa hari sebelumnya, seorang prajurit Marinir, Praka Zaenal Mutaqin, juga menghembuskan napas terakhir usai mengalami kecelakaan saat penerjunan latihan Rubber Duck Operations (RDO) di Teluk Jakarta.
Parasutnya memang terbuka sempurna, namun cedera dalam membuatnya tak bisa bertahan meski sempat dirawat dua hari di RSPAD Gatot Soebroto.
Zaenal, prajurit muda asal Grobogan, juga meninggalkan seorang istri yang sedang hamil tujuh bulan. Kehilangan dua prajurit muda dalam rentang waktu berdekatan menjadikan perayaan HUT ke-80 TNI tahun ini diliputi suasana duka yang sulit terhapus.
Antara Kebanggaan dan Kehilangan
HUT TNI selalu dipenuhi kebanggaan nasional. Namun tahun ini, kemeriahan bercampur dengan kesedihan. Kedua prajurit muda gugur bukan di medan perang, melainkan dalam persiapan upacara kebesaran.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa risiko seorang tentara tidak hanya hadir di garis depan pertempuran, melainkan juga dalam setiap misi, latihan, bahkan gladi bersih. Nyawa seorang prajurit bisa hilang kapan saja, tanpa aba-aba.
Keselamatan yang Harus Dievaluasi
Kejadian tragis ini menimbulkan pertanyaan serius soal faktor keselamatan. Bagaimana seorang prajurit bisa jatuh dari tank di tengah persiapan upacara? Bagaimana seorang penerjun elite bisa kehilangan nyawa dalam latihan seremonial?
TNI tentu telah menjalankan prosedur standar. Namun tragedi ini menunjukkan bahwa evaluasi menyeluruh tetap dibutuhkan. Setiap detail teknis, mulai dari pengangkutan alat tempur hingga keamanan penerjunan, harus diperiksa kembali agar insiden serupa tidak terulang.
Warisan Keteladanan Prajurit
Meski berakhir dengan kehilangan, baik Johari maupun Zaenal meninggalkan warisan keteladanan. Mereka adalah prajurit muda yang disiplin, loyal, dan penuh semangat juang. Dedikasi mereka menjadi cermin bahwa pengabdian seorang tentara bukanlah sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa.
Mereka gugur sebelum waktunya, namun kisahnya akan selalu menjadi inspirasi. Bagi generasi muda, pengorbanan ini adalah pelajaran tentang arti cinta tanah air yang sejati.
Luka yang Tak Mudah Sembuh
Di balik panggung megah HUT ke-80 TNI, ada air mata istri yang menanti kepulangan suami, namun hanya menerima peti jenazah. Ada janin tujuh bulan yang kelak lahir tanpa pernah merasakan pelukan ayahnya.
Luka ini tidak akan cepat sembuh. Namun doa dan penghormatan dari bangsa ini menjadi penguat. Bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia, melainkan tercatat dalam sejarah sebagai bagian dari darah dan air mata yang membangun kejayaan Indonesia.
Refleksi untuk Bangsa
Tragedi di Monas dan Teluk Jakarta bukan sekadar kisah duka. Ia adalah refleksi tentang harga yang harus dibayar untuk sebuah perayaan kebanggaan. Di balik parade militer, sorak sorai rakyat, dan kibaran bendera, ada pengorbanan yang nyata.
Dua prajurit muda, dua keluarga yang kehilangan, dan sebuah bangsa yang kembali diingatkan: kebebasan, kedaulatan, dan rasa aman tidak datang tanpa harga. Ada nyawa yang dipertaruhkan.
Editor : Mahendra Aditya